Sunday, March 30, 2008

Dalam Mihrab Cinta


Siang itu Pesantren Al Furqon yang terletak di daerah
Pagu, Kediri, Jawa Timur geger. Pengurus Bagian
Keamanan menyeret seorang santri yang diyakini
mencuri. Beberapa orang santri terus menghajar santri
berambut gondrong itu. Santri itu mengaduh dan minta
ampun.
"Ampun, tolong jangan p u k u l saya. Saya tidak
mencuri!" Santri yang mukanya sudahberdarah-darah
itu mengiba.
"Ayo mengaku. Kalau tidak kupecahkan kepalamu!"
Teriak seorang santri berkopiah hitam dengan wajah
sangat geram.
"Sungguh, bukan saya pelakunya." Si Rambut
Gondrong itu tetap tidak mau mengaku.
Serta merta dua bogem melayang ke wajahnya.
"Nich rasain pencuri!" teriak Ketua Bagian Keamanan
yang turut melayangkan pukulan. Si Rambut Gondrong
mengaduh lalu pingsan.
* * *

Menjelang Ashar, si Rambut Gondrong siuman. la
dikunci di gudang pesantren yang dijaga beberapa santri.
Kedua tangan dan kakinya terikat. Airmatanya meleleh.
la meratapi nasibnya. Seluruh tubuhnya sakit. la merasa
kematian telah berada di depan mata.
Di luar gudang para santri ramai berkumpul. Mereka
meneriakkan kemarahan dan kegeraman.
"Maling jangan diberi ampun!"
"Hajar saja maling gondrong itu sampai mampus!"
"Wong maling kok ngaku-ngaku santri. Ini kurang
ajar. Tak bisa diampuni!"
la menangis mendengar itu semua. Sepuluh menit
kemudian pintu gudang terbuka. la sangat ketakutan.
Tanpa ia sadari ia kencing di celana karena saking takutnya.
Para santri yang didera kemarahan meluap hendak
menerobos masuk. Tapi Lurah Pondok menahan mereka
dengan sekuat tenaga. Pak Kiai, pengasuh pesantren
masuk dengan wajah dingin. Beliau diikuti empat
pengurus. Satu di antaranya Ketua Bagian Keamanan.

Lampu gudang dinyalakan. Pintu gudang lalu
ditutup oleh Lurah Pondok. Pak Kiai berdiri tepat di
h a d a p a n n y a . Empat p e n g u r u s dan Lurah Pondok
mengambil posisi mengelilingi si Gondrong.
"Ini Pak Kiai pencuri yang selama ini menjarah
barang-barang para santri. Baru tadi siang ditangkap
basah oleh Bagian Keamanan." Ketua Bagian Keamanan
membuka pengadilan.
"Siapa namamu?" tanya Pak Kiai. Karena jumlah
santri putra ada seribu lima ratus santri, Pak Kiai tidak
hafal nama semua santrinya.
Si Rambut Gondrong menjawab pelan, "Syamsul...
Syamsul Hadi, Pak Kiai."
" N a m a y a n g sangat b a g u s . Benar kamu y a n g
mencuri?"
Syamsul menggelengkan kepala. Ketua Keamanan
marah,
"Dia,memang orangnya sangat bandel Pak Kiai.
Dia tidak mau mengaku, tapi kami menangkap basah
dia sedang membuka lemari si Burhan di kamar 17
Pak Kiai. Di kamar 17 sudah dua orang kehilangan
u a n g . Saat itu k a m a r sepi, k a m i y a n g m e m a n g
memasang orang di atas eternit melihatnya membuka
lemari Burhan."
"Benarkah kau membuka lemari Burhan?" tanya Pak
Kiai pelan.
"Benar Pak Kiai. Tapi tidak untuk mencuri."
"Lantas untuk apa?!!" bentak Ketua Bagian Ke-
amanan garang.
"Karena saya diminta untuk mengambilkan uang
oleh Burhan Pak Kiai." Jawab Syamsul.
" H m m . . . B u r h a n a d a ? " tanya Pak Kiai sambil
melihat Ketua Bagian Keamanan.
Ada, Pak Kiai."
"Dia tahu kalau si Syamsul tertangkap karena
membuka lemarinya?"
"Tahu Pak Kiai."
Pak Kiai manggut-manggut dan mengerutkan dahi.
"Panggil Burhan kemari!" pinta Pak Kiai.
"Baik Pak Kiai."
Ketua Bagian Keamanan lalu bergegas keluar.
* * *

Syamsul berharap Burhan mau menjelaskan semua-
nya. Namun dalam hati ia bertanya-tanya, Burhan tahu
kalau dirinya tertangkap kenapa tidak menjelaskan
semuanya. Apa karena Burhan takut pada amarah para
santri. Atau...? Ia tidak bisa banyak memprediksi.
Seluruh tubuhnya terasa ngilu. Ia berharap di hadapan
Pak Kiai, Burhan menjelaskan bahwa ia memang diminta
Burhan mengambilkan uangnya. Dengan penjelasan
Burhan itu ia berharap namanya dibersihkan dan semua
santri y a n g telah berlaku aniaya p a d a n y a diberi
hukuman, paling tidak harus minta maaf.
Burhan datang dengan wajah sedikit pucat. Namun
masih tampak tenang. Ia sama sekali tidak memandang
Syamsul yang sedang berdarah-darah kesakitan.
"Burhan ke sini!" pinta Pak Kiai.
Burhan mendekat.
"Kau sudah tahu apa yang terjadi? Kenapa Syamsul
diadili dan kenapa kau dibawa kemari?" lanjut Pak Kiai.
"Iya Pak Kiai."
"Kau harus jujur. Karena kejujuran mendatangkan
kebaikan. Dan k e d u s t a a n m e n d a t a n g k a n petaka.
Syamsul ini mengaku bahwa kau memintanya mengam-
bilkan uangmu di lemarimu, apa benar?"
Syamsul menunggu jawaban yang akan keluar dari
mulut temannya itu. Ia berharap temannya itu jujur,
mengatakan yang sebenarnya. Dengan suara bergetar
Burhan menjawab, "Ti...tidak benar Pak Kiai!"
Syamsul kaget bagai disambar geledek. Dengan
penuh amarah dia berteriak,
"Teganya kau Bur... Kau santri atau bajingan?!
Dancok kau Bur!"
"Diam kau maling! Kau yang jelas bajingan bukan
Burhan!" bentak Bagian Keamanan.
"Demi Allah yang menciptakan langit dan bumi Pak
Kiai. Saya tidak mencuri. Burhan yang tadi meminta
saya mengambilkan u a n g n y a u n t u k beli baju d a n
mentraktir saya. Biarlah seluruh laknat Allah menimpa
saya jika saya berdusta!" Syamsul bersumpah dengan
suara lantang. Kedua matanya menyala seperti mata
elang.
Pak Kiai agak kaget. Beliau langsung memandang
Burhan,
"Burhan karena Syamsul sudah berani bersumpah.
Kau harus berani juga bersumpah bahwa apa yang
kaukatakan benar. Jika tidak maka kau bersalah. Kau
akan d a p a t h u k u m a n atas k e d u s t a a n m u . Sebab
kedustaanmu itu telah mencelakakan orang lain."
Dengan tenang Burhan menjawab, "Penjahat akan
melakukan apa saja untuk menutupi kejahatannya Pak
Kiai. Baiklah, saya bersumpah bahwa apa yang baru saja
saya katakan benar. Jika saya berdusta maka semoga
segala laknat Allah menimpa saya."
Saat mengucapkan sumpah itu, dalam hati Burhan
mengatakan yang dimaksud dengan kata-katanya
"bahwa yang baru saja saya katakan benar" adalah
perkataannya "penjahat akan melakukan apa saja untuk
menutupi kejahatannya" bukan yang lain. Tak ada yang
tahu hal itu kecuali Burhan. Syamsul meneteskan
airmata. Hatinya sangat sakit. Rasa sakit hatinya melebihi
seluruh sakit di sekujur tubuhnya yang berdarah-darah.
"Baiklah, semuanya lebih jelas. Untuk memutuskan
siapa yang sesungguhnya harus dihukum, silakan
pengurus bermusyawarah. Dan sekalian tentukan
hukuman yang paling bijak." Kata Pak Kiai sambil
memandang wajah para pengurus. Lalu beliau pergi.
Setelah Pak Kiai pergi, Syamsul berteriak-teriak
marah. Andai kedua tangan dan kakinya tidak diikat
tentu ia akan mengamuk.
"Burhan, kaulah bajingan paling jahat! Kau tega
memfitnah temanmu! Ingat Burhan, Allah tidak tuli! Allah
tidak tidur!"
Burhan menjawab tenang sambil memandang ke
Lurah Pondok, "Penjahat ulung itu bisa berakting yang
canggih!"
Burhan lalu pergi. Para pengurus juga meninggalkan
gudang. Mereka menuju kantor untuk rapat. Akhirnya
diputuskan, Syamsul dihukum gundul dan kemudian
dikeluarkan dari pesantren.
Pengurus bergerak cepat. Lurah Pondok menelpon
ayah Syamsul, seorang pengusaha batik sukses di
Pekalongan. Yang lain menyiapkan acara eksekusi
penggundulan. Keputusan rapat pengurus itu ditulis
resmi. Diketik rapi. Ditandatangani oleh Lurah Pondok,
Sekretaris Pondok, Ketua Bagian Keamanan, d a n
Pengasuh Pondok Pesantren.
Sore itu juga Syamsul diambil dari gudang. Di
halaman pondok telah disiapkan kursi yang diletakkan
di tengah garis melingkar. Syamsul digiring d a n
d i d u d u k k a n di kursi itu. Para santri menyaksikan
eksekusi p e n g g u n d u l a n itu dari luar garis. Bagian
Keamanan membacakan hasil keputusan:
"...dengan ini diputuskan bahwa Saudara Syamsul
Hadi terbukti bersalah melakukan kejahatan pencurian
yang dilarang agama dan melanggar tata tertib pesantren.
Karenanya ia dikeluarkan dengan tidak hormat dari
pesantren, dengan sebelumnya dihukum takzir yaitu
digundul untuk dijadikan pelajaran bagi santri yang lain."
Para santri bersorak sorai. Kata-kata sumpah serapah
keluar menghujat Syamsul. Syamsul benar-benar sangat
terpukul. Ketika gunting bagian keamanan mulai
mencowel-cowel rambut kepalanya ia menangis. Sepuluh
menit kemudian eksekusi itu selesai. Syamsul dibawa lagi
ke dalam gudang. Dua orang pengurus membawa
seember air dan menyuruhnya mandi. Ikatan di tangan

Siang itu Pesantren Al Furqon yang terletak di daerah
Pagu, Kediri, Jawa Timur geger. Pengurus Bagian
Keamanan menyeret seorang santri yang diyakini
mencuri. Beberapa orang santri terus menghajar santri
berambut gondrong itu. Santri itu mengaduh dan minta
ampun.
"Ampun, tolong jangan p u k u l saya. Saya tidak
mencuri!" Santri yang mukanya sudahberdarah-darah
itu mengiba.
"Ayo mengaku. Kalau tidak kupecahkan kepalamu!"
Teriak seorang santri berkopiah hitam dengan wajah
sangat geram.
"Sungguh, bukan saya pelakunya." Si Rambut
Gondrong itu tetap tidak mau mengaku.
Serta merta dua bogem melayang ke wajahnya.
"Nich rasain pencuri!" teriak Ketua Bagian Keamanan
yang turut melayangkan pukulan. Si Rambut Gondrong
mengaduh lalu pingsan.
* * *

Menjelang Ashar, si Rambut Gondrong siuman. la
dikunci di gudang pesantren yang dijaga beberapa santri.
Kedua tangan dan kakinya terikat. Airmatanya meleleh.
la meratapi nasibnya. Seluruh tubuhnya sakit. la merasa
kematian telah berada di depan mata.
Di luar gudang para santri ramai berkumpul. Mereka
meneriakkan kemarahan dan kegeraman.
"Maling jangan diberi ampun!"
"Hajar saja maling gondrong itu sampai mampus!"
"Wong maling kok ngaku-ngaku santri. Ini kurang
ajar. Tak bisa diampuni!"
la menangis mendengar itu semua. Sepuluh menit
kemudian pintu gudang terbuka. la sangat ketakutan.
Tanpa ia sadari ia kencing di celana karena saking takutnya.
Para santri yang didera kemarahan meluap hendak
menerobos masuk. Tapi Lurah Pondok menahan mereka
dengan sekuat tenaga. Pak Kiai, pengasuh pesantren
masuk dengan wajah dingin. Beliau diikuti empat
pengurus. Satu di antaranya Ketua Bagian Keamanan.

Lampu gudang dinyalakan. Pintu gudang lalu
ditutup oleh Lurah Pondok. Pak Kiai berdiri tepat di
h a d a p a n n y a . Empat p e n g u r u s dan Lurah Pondok
mengambil posisi mengelilingi si Gondrong.
"Ini Pak Kiai pencuri yang selama ini menjarah
barang-barang para santri. Baru tadi siang ditangkap
basah oleh Bagian Keamanan." Ketua Bagian Keamanan
membuka pengadilan.
"Siapa namamu?" tanya Pak Kiai. Karena jumlah
santri putra ada seribu lima ratus santri, Pak Kiai tidak
hafal nama semua santrinya.
Si Rambut Gondrong menjawab pelan, "Syamsul...
Syamsul Hadi, Pak Kiai."
" N a m a y a n g sangat b a g u s . Benar kamu y a n g
mencuri?"
Syamsul menggelengkan kepala. Ketua Keamanan
marah,
"Dia,memang orangnya sangat bandel Pak Kiai.
Dia tidak mau mengaku, tapi kami menangkap basah
dia sedang membuka lemari si Burhan di kamar 17
Pak Kiai. Di kamar 17 sudah dua orang kehilangan
u a n g . Saat itu k a m a r sepi, k a m i y a n g m e m a n g
memasang orang di atas eternit melihatnya membuka
lemari Burhan."
"Benarkah kau membuka lemari Burhan?" tanya Pak
Kiai pelan.
"Benar Pak Kiai. Tapi tidak untuk mencuri."
"Lantas untuk apa?!!" bentak Ketua Bagian Ke-
amanan garang.
"Karena saya diminta untuk mengambilkan uang
oleh Burhan Pak Kiai." Jawab Syamsul.
" H m m . . . B u r h a n a d a ? " tanya Pak Kiai sambil
melihat Ketua Bagian Keamanan.
Ada, Pak Kiai."
"Dia tahu kalau si Syamsul tertangkap karena
membuka lemarinya?"
"Tahu Pak Kiai."
Pak Kiai manggut-manggut dan mengerutkan dahi.
"Panggil Burhan kemari!" pinta Pak Kiai.
"Baik Pak Kiai."
Ketua Bagian Keamanan lalu bergegas keluar.
* * *

Syamsul berharap Burhan mau menjelaskan semua-
nya. Namun dalam hati ia bertanya-tanya, Burhan tahu
kalau dirinya tertangkap kenapa tidak menjelaskan
semuanya. Apa karena Burhan takut pada amarah para
santri. Atau...? Ia tidak bisa banyak memprediksi.
Seluruh tubuhnya terasa ngilu. Ia berharap di hadapan
Pak Kiai, Burhan menjelaskan bahwa ia memang diminta
Burhan mengambilkan uangnya. Dengan penjelasan
Burhan itu ia berharap namanya dibersihkan dan semua
santri y a n g telah berlaku aniaya p a d a n y a diberi
hukuman, paling tidak harus minta maaf.
Burhan datang dengan wajah sedikit pucat. Namun
masih tampak tenang. Ia sama sekali tidak memandang
Syamsul yang sedang berdarah-darah kesakitan.
"Burhan ke sini!" pinta Pak Kiai.
Burhan mendekat.
"Kau sudah tahu apa yang terjadi? Kenapa Syamsul
diadili dan kenapa kau dibawa kemari?" lanjut Pak Kiai.
"Iya Pak Kiai."
"Kau harus jujur. Karena kejujuran mendatangkan
kebaikan. Dan k e d u s t a a n m e n d a t a n g k a n petaka.
Syamsul ini mengaku bahwa kau memintanya mengam-
bilkan uangmu di lemarimu, apa benar?"
Syamsul menunggu jawaban yang akan keluar dari
mulut temannya itu. Ia berharap temannya itu jujur,
mengatakan yang sebenarnya. Dengan suara bergetar
Burhan menjawab, "Ti...tidak benar Pak Kiai!"
Syamsul kaget bagai disambar geledek. Dengan
penuh amarah dia berteriak,
"Teganya kau Bur... Kau santri atau bajingan?!
Dancok kau Bur!"
"Diam kau maling! Kau yang jelas bajingan bukan
Burhan!" bentak Bagian Keamanan.
"Demi Allah yang menciptakan langit dan bumi Pak
Kiai. Saya tidak mencuri. Burhan yang tadi meminta
saya mengambilkan u a n g n y a u n t u k beli baju d a n
mentraktir saya. Biarlah seluruh laknat Allah menimpa
saya jika saya berdusta!" Syamsul bersumpah dengan
suara lantang. Kedua matanya menyala seperti mata
elang.
Pak Kiai agak kaget. Beliau langsung memandang
Burhan,
"Burhan karena Syamsul sudah berani bersumpah.
Kau harus berani juga bersumpah bahwa apa yang
kaukatakan benar. Jika tidak maka kau bersalah. Kau
akan d a p a t h u k u m a n atas k e d u s t a a n m u . Sebab
kedustaanmu itu telah mencelakakan orang lain."
Dengan tenang Burhan menjawab, "Penjahat akan
melakukan apa saja untuk menutupi kejahatannya Pak
Kiai. Baiklah, saya bersumpah bahwa apa yang baru saja
saya katakan benar. Jika saya berdusta maka semoga
segala laknat Allah menimpa saya."
Saat mengucapkan sumpah itu, dalam hati Burhan
mengatakan yang dimaksud dengan kata-katanya
"bahwa yang baru saja saya katakan benar" adalah
perkataannya "penjahat akan melakukan apa saja untuk
menutupi kejahatannya" bukan yang lain. Tak ada yang
tahu hal itu kecuali Burhan. Syamsul meneteskan
airmata. Hatinya sangat sakit. Rasa sakit hatinya melebihi
seluruh sakit di sekujur tubuhnya yang berdarah-darah.
"Baiklah, semuanya lebih jelas. Untuk memutuskan
siapa yang sesungguhnya harus dihukum, silakan
pengurus bermusyawarah. Dan sekalian tentukan
hukuman yang paling bijak." Kata Pak Kiai sambil
memandang wajah para pengurus. Lalu beliau pergi.
Setelah Pak Kiai pergi, Syamsul berteriak-teriak
marah. Andai kedua tangan dan kakinya tidak diikat
tentu ia akan mengamuk.
"Burhan, kaulah bajingan paling jahat! Kau tega
memfitnah temanmu! Ingat Burhan, Allah tidak tuli! Allah
tidak tidur!"
Burhan menjawab tenang sambil memandang ke
Lurah Pondok, "Penjahat ulung itu bisa berakting yang
canggih!"
Burhan lalu pergi. Para pengurus juga meninggalkan
gudang. Mereka menuju kantor untuk rapat. Akhirnya
diputuskan, Syamsul dihukum gundul dan kemudian
dikeluarkan dari pesantren.
Pengurus bergerak cepat. Lurah Pondok menelpon
ayah Syamsul, seorang pengusaha batik sukses di
Pekalongan. Yang lain menyiapkan acara eksekusi
penggundulan. Keputusan rapat pengurus itu ditulis
resmi. Diketik rapi. Ditandatangani oleh Lurah Pondok,
Sekretaris Pondok, Ketua Bagian Keamanan, d a n
Pengasuh Pondok Pesantren.
Sore itu juga Syamsul diambil dari gudang. Di
halaman pondok telah disiapkan kursi yang diletakkan
di tengah garis melingkar. Syamsul digiring d a n
d i d u d u k k a n di kursi itu. Para santri menyaksikan
eksekusi p e n g g u n d u l a n itu dari luar garis. Bagian
Keamanan membacakan hasil keputusan:
"...dengan ini diputuskan bahwa Saudara Syamsul
Hadi terbukti bersalah melakukan kejahatan pencurian
yang dilarang agama dan melanggar tata tertib pesantren.
Karenanya ia dikeluarkan dengan tidak hormat dari
pesantren, dengan sebelumnya dihukum takzir yaitu
digundul untuk dijadikan pelajaran bagi santri yang lain."
Para santri bersorak sorai. Kata-kata sumpah serapah
keluar menghujat Syamsul. Syamsul benar-benar sangat
terpukul. Ketika gunting bagian keamanan mulai
mencowel-cowel rambut kepalanya ia menangis. Sepuluh
menit kemudian eksekusi itu selesai. Syamsul dibawa lagi
ke dalam gudang. Dua orang pengurus membawa
seember air dan menyuruhnya mandi. Ikatan di tangan

0 comments:

 

Copyright 2011 All Rights Reserved