Sunday, March 30, 2008
Dapetin Dollar Dg Mudah
0 comments 8:41 PM Posted by __Internet For All__Labels: Mau $ ???
Dalam Mihrab Cinta
0 comments 6:33 PM Posted by __Internet For All__Labels: Novel - Novel
Pagu, Kediri, Jawa Timur geger. Pengurus Bagian
Keamanan menyeret seorang santri yang diyakini
mencuri. Beberapa orang santri terus menghajar santri
berambut gondrong itu. Santri itu mengaduh dan minta
ampun.
"Ampun, tolong jangan p u k u l saya. Saya tidak
mencuri!" Santri yang mukanya sudahberdarah-darah
itu mengiba.
"Ayo mengaku. Kalau tidak kupecahkan kepalamu!"
Teriak seorang santri berkopiah hitam dengan wajah
sangat geram.
"Sungguh, bukan saya pelakunya." Si Rambut
Gondrong itu tetap tidak mau mengaku.
Serta merta dua bogem melayang ke wajahnya.
"Nich rasain pencuri!" teriak Ketua Bagian Keamanan
yang turut melayangkan pukulan. Si Rambut Gondrong
mengaduh lalu pingsan.
* * *
Menjelang Ashar, si Rambut Gondrong siuman. la
dikunci di gudang pesantren yang dijaga beberapa santri.
Kedua tangan dan kakinya terikat. Airmatanya meleleh.
la meratapi nasibnya. Seluruh tubuhnya sakit. la merasa
kematian telah berada di depan mata.
Di luar gudang para santri ramai berkumpul. Mereka
meneriakkan kemarahan dan kegeraman.
"Maling jangan diberi ampun!"
"Hajar saja maling gondrong itu sampai mampus!"
"Wong maling kok ngaku-ngaku santri. Ini kurang
ajar. Tak bisa diampuni!"
la menangis mendengar itu semua. Sepuluh menit
kemudian pintu gudang terbuka. la sangat ketakutan.
Tanpa ia sadari ia kencing di celana karena saking takutnya.
Para santri yang didera kemarahan meluap hendak
menerobos masuk. Tapi Lurah Pondok menahan mereka
dengan sekuat tenaga. Pak Kiai, pengasuh pesantren
masuk dengan wajah dingin. Beliau diikuti empat
pengurus. Satu di antaranya Ketua Bagian Keamanan.
Lampu gudang dinyalakan. Pintu gudang lalu
ditutup oleh Lurah Pondok. Pak Kiai berdiri tepat di
h a d a p a n n y a . Empat p e n g u r u s dan Lurah Pondok
mengambil posisi mengelilingi si Gondrong.
"Ini Pak Kiai pencuri yang selama ini menjarah
barang-barang para santri. Baru tadi siang ditangkap
basah oleh Bagian Keamanan." Ketua Bagian Keamanan
membuka pengadilan.
"Siapa namamu?" tanya Pak Kiai. Karena jumlah
santri putra ada seribu lima ratus santri, Pak Kiai tidak
hafal nama semua santrinya.
Si Rambut Gondrong menjawab pelan, "Syamsul...
Syamsul Hadi, Pak Kiai."
" N a m a y a n g sangat b a g u s . Benar kamu y a n g
mencuri?"
Syamsul menggelengkan kepala. Ketua Keamanan
marah,
"Dia,memang orangnya sangat bandel Pak Kiai.
Dia tidak mau mengaku, tapi kami menangkap basah
dia sedang membuka lemari si Burhan di kamar 17
Pak Kiai. Di kamar 17 sudah dua orang kehilangan
u a n g . Saat itu k a m a r sepi, k a m i y a n g m e m a n g
memasang orang di atas eternit melihatnya membuka
lemari Burhan."
"Benarkah kau membuka lemari Burhan?" tanya Pak
Kiai pelan.
"Benar Pak Kiai. Tapi tidak untuk mencuri."
"Lantas untuk apa?!!" bentak Ketua Bagian Ke-
amanan garang.
"Karena saya diminta untuk mengambilkan uang
oleh Burhan Pak Kiai." Jawab Syamsul.
" H m m . . . B u r h a n a d a ? " tanya Pak Kiai sambil
melihat Ketua Bagian Keamanan.
Ada, Pak Kiai."
"Dia tahu kalau si Syamsul tertangkap karena
membuka lemarinya?"
"Tahu Pak Kiai."
Pak Kiai manggut-manggut dan mengerutkan dahi.
"Panggil Burhan kemari!" pinta Pak Kiai.
"Baik Pak Kiai."
Ketua Bagian Keamanan lalu bergegas keluar.
* * *
Syamsul berharap Burhan mau menjelaskan semua-
nya. Namun dalam hati ia bertanya-tanya, Burhan tahu
kalau dirinya tertangkap kenapa tidak menjelaskan
semuanya. Apa karena Burhan takut pada amarah para
santri. Atau...? Ia tidak bisa banyak memprediksi.
Seluruh tubuhnya terasa ngilu. Ia berharap di hadapan
Pak Kiai, Burhan menjelaskan bahwa ia memang diminta
Burhan mengambilkan uangnya. Dengan penjelasan
Burhan itu ia berharap namanya dibersihkan dan semua
santri y a n g telah berlaku aniaya p a d a n y a diberi
hukuman, paling tidak harus minta maaf.
Burhan datang dengan wajah sedikit pucat. Namun
masih tampak tenang. Ia sama sekali tidak memandang
Syamsul yang sedang berdarah-darah kesakitan.
"Burhan ke sini!" pinta Pak Kiai.
Burhan mendekat.
"Kau sudah tahu apa yang terjadi? Kenapa Syamsul
diadili dan kenapa kau dibawa kemari?" lanjut Pak Kiai.
"Iya Pak Kiai."
"Kau harus jujur. Karena kejujuran mendatangkan
kebaikan. Dan k e d u s t a a n m e n d a t a n g k a n petaka.
Syamsul ini mengaku bahwa kau memintanya mengam-
bilkan uangmu di lemarimu, apa benar?"
Syamsul menunggu jawaban yang akan keluar dari
mulut temannya itu. Ia berharap temannya itu jujur,
mengatakan yang sebenarnya. Dengan suara bergetar
Burhan menjawab, "Ti...tidak benar Pak Kiai!"
Syamsul kaget bagai disambar geledek. Dengan
penuh amarah dia berteriak,
"Teganya kau Bur... Kau santri atau bajingan?!
Dancok kau Bur!"
"Diam kau maling! Kau yang jelas bajingan bukan
Burhan!" bentak Bagian Keamanan.
"Demi Allah yang menciptakan langit dan bumi Pak
Kiai. Saya tidak mencuri. Burhan yang tadi meminta
saya mengambilkan u a n g n y a u n t u k beli baju d a n
mentraktir saya. Biarlah seluruh laknat Allah menimpa
saya jika saya berdusta!" Syamsul bersumpah dengan
suara lantang. Kedua matanya menyala seperti mata
elang.
Pak Kiai agak kaget. Beliau langsung memandang
Burhan,
"Burhan karena Syamsul sudah berani bersumpah.
Kau harus berani juga bersumpah bahwa apa yang
kaukatakan benar. Jika tidak maka kau bersalah. Kau
akan d a p a t h u k u m a n atas k e d u s t a a n m u . Sebab
kedustaanmu itu telah mencelakakan orang lain."
Dengan tenang Burhan menjawab, "Penjahat akan
melakukan apa saja untuk menutupi kejahatannya Pak
Kiai. Baiklah, saya bersumpah bahwa apa yang baru saja
saya katakan benar. Jika saya berdusta maka semoga
segala laknat Allah menimpa saya."
Saat mengucapkan sumpah itu, dalam hati Burhan
mengatakan yang dimaksud dengan kata-katanya
"bahwa yang baru saja saya katakan benar" adalah
perkataannya "penjahat akan melakukan apa saja untuk
menutupi kejahatannya" bukan yang lain. Tak ada yang
tahu hal itu kecuali Burhan. Syamsul meneteskan
airmata. Hatinya sangat sakit. Rasa sakit hatinya melebihi
seluruh sakit di sekujur tubuhnya yang berdarah-darah.
"Baiklah, semuanya lebih jelas. Untuk memutuskan
siapa yang sesungguhnya harus dihukum, silakan
pengurus bermusyawarah. Dan sekalian tentukan
hukuman yang paling bijak." Kata Pak Kiai sambil
memandang wajah para pengurus. Lalu beliau pergi.
Setelah Pak Kiai pergi, Syamsul berteriak-teriak
marah. Andai kedua tangan dan kakinya tidak diikat
tentu ia akan mengamuk.
"Burhan, kaulah bajingan paling jahat! Kau tega
memfitnah temanmu! Ingat Burhan, Allah tidak tuli! Allah
tidak tidur!"
Burhan menjawab tenang sambil memandang ke
Lurah Pondok, "Penjahat ulung itu bisa berakting yang
canggih!"
Burhan lalu pergi. Para pengurus juga meninggalkan
gudang. Mereka menuju kantor untuk rapat. Akhirnya
diputuskan, Syamsul dihukum gundul dan kemudian
dikeluarkan dari pesantren.
Pengurus bergerak cepat. Lurah Pondok menelpon
ayah Syamsul, seorang pengusaha batik sukses di
Pekalongan. Yang lain menyiapkan acara eksekusi
penggundulan. Keputusan rapat pengurus itu ditulis
resmi. Diketik rapi. Ditandatangani oleh Lurah Pondok,
Sekretaris Pondok, Ketua Bagian Keamanan, d a n
Pengasuh Pondok Pesantren.
Sore itu juga Syamsul diambil dari gudang. Di
halaman pondok telah disiapkan kursi yang diletakkan
di tengah garis melingkar. Syamsul digiring d a n
d i d u d u k k a n di kursi itu. Para santri menyaksikan
eksekusi p e n g g u n d u l a n itu dari luar garis. Bagian
Keamanan membacakan hasil keputusan:
"...dengan ini diputuskan bahwa Saudara Syamsul
Hadi terbukti bersalah melakukan kejahatan pencurian
yang dilarang agama dan melanggar tata tertib pesantren.
Karenanya ia dikeluarkan dengan tidak hormat dari
pesantren, dengan sebelumnya dihukum takzir yaitu
digundul untuk dijadikan pelajaran bagi santri yang lain."
Para santri bersorak sorai. Kata-kata sumpah serapah
keluar menghujat Syamsul. Syamsul benar-benar sangat
terpukul. Ketika gunting bagian keamanan mulai
mencowel-cowel rambut kepalanya ia menangis. Sepuluh
menit kemudian eksekusi itu selesai. Syamsul dibawa lagi
ke dalam gudang. Dua orang pengurus membawa
seember air dan menyuruhnya mandi. Ikatan di tangan
Pagu, Kediri, Jawa Timur geger. Pengurus Bagian
Keamanan menyeret seorang santri yang diyakini
mencuri. Beberapa orang santri terus menghajar santri
berambut gondrong itu. Santri itu mengaduh dan minta
ampun.
"Ampun, tolong jangan p u k u l saya. Saya tidak
mencuri!" Santri yang mukanya sudahberdarah-darah
itu mengiba.
"Ayo mengaku. Kalau tidak kupecahkan kepalamu!"
Teriak seorang santri berkopiah hitam dengan wajah
sangat geram.
"Sungguh, bukan saya pelakunya." Si Rambut
Gondrong itu tetap tidak mau mengaku.
Serta merta dua bogem melayang ke wajahnya.
"Nich rasain pencuri!" teriak Ketua Bagian Keamanan
yang turut melayangkan pukulan. Si Rambut Gondrong
mengaduh lalu pingsan.
* * *
Menjelang Ashar, si Rambut Gondrong siuman. la
dikunci di gudang pesantren yang dijaga beberapa santri.
Kedua tangan dan kakinya terikat. Airmatanya meleleh.
la meratapi nasibnya. Seluruh tubuhnya sakit. la merasa
kematian telah berada di depan mata.
Di luar gudang para santri ramai berkumpul. Mereka
meneriakkan kemarahan dan kegeraman.
"Maling jangan diberi ampun!"
"Hajar saja maling gondrong itu sampai mampus!"
"Wong maling kok ngaku-ngaku santri. Ini kurang
ajar. Tak bisa diampuni!"
la menangis mendengar itu semua. Sepuluh menit
kemudian pintu gudang terbuka. la sangat ketakutan.
Tanpa ia sadari ia kencing di celana karena saking takutnya.
Para santri yang didera kemarahan meluap hendak
menerobos masuk. Tapi Lurah Pondok menahan mereka
dengan sekuat tenaga. Pak Kiai, pengasuh pesantren
masuk dengan wajah dingin. Beliau diikuti empat
pengurus. Satu di antaranya Ketua Bagian Keamanan.
Lampu gudang dinyalakan. Pintu gudang lalu
ditutup oleh Lurah Pondok. Pak Kiai berdiri tepat di
h a d a p a n n y a . Empat p e n g u r u s dan Lurah Pondok
mengambil posisi mengelilingi si Gondrong.
"Ini Pak Kiai pencuri yang selama ini menjarah
barang-barang para santri. Baru tadi siang ditangkap
basah oleh Bagian Keamanan." Ketua Bagian Keamanan
membuka pengadilan.
"Siapa namamu?" tanya Pak Kiai. Karena jumlah
santri putra ada seribu lima ratus santri, Pak Kiai tidak
hafal nama semua santrinya.
Si Rambut Gondrong menjawab pelan, "Syamsul...
Syamsul Hadi, Pak Kiai."
" N a m a y a n g sangat b a g u s . Benar kamu y a n g
mencuri?"
Syamsul menggelengkan kepala. Ketua Keamanan
marah,
"Dia,memang orangnya sangat bandel Pak Kiai.
Dia tidak mau mengaku, tapi kami menangkap basah
dia sedang membuka lemari si Burhan di kamar 17
Pak Kiai. Di kamar 17 sudah dua orang kehilangan
u a n g . Saat itu k a m a r sepi, k a m i y a n g m e m a n g
memasang orang di atas eternit melihatnya membuka
lemari Burhan."
"Benarkah kau membuka lemari Burhan?" tanya Pak
Kiai pelan.
"Benar Pak Kiai. Tapi tidak untuk mencuri."
"Lantas untuk apa?!!" bentak Ketua Bagian Ke-
amanan garang.
"Karena saya diminta untuk mengambilkan uang
oleh Burhan Pak Kiai." Jawab Syamsul.
" H m m . . . B u r h a n a d a ? " tanya Pak Kiai sambil
melihat Ketua Bagian Keamanan.
Ada, Pak Kiai."
"Dia tahu kalau si Syamsul tertangkap karena
membuka lemarinya?"
"Tahu Pak Kiai."
Pak Kiai manggut-manggut dan mengerutkan dahi.
"Panggil Burhan kemari!" pinta Pak Kiai.
"Baik Pak Kiai."
Ketua Bagian Keamanan lalu bergegas keluar.
* * *
Syamsul berharap Burhan mau menjelaskan semua-
nya. Namun dalam hati ia bertanya-tanya, Burhan tahu
kalau dirinya tertangkap kenapa tidak menjelaskan
semuanya. Apa karena Burhan takut pada amarah para
santri. Atau...? Ia tidak bisa banyak memprediksi.
Seluruh tubuhnya terasa ngilu. Ia berharap di hadapan
Pak Kiai, Burhan menjelaskan bahwa ia memang diminta
Burhan mengambilkan uangnya. Dengan penjelasan
Burhan itu ia berharap namanya dibersihkan dan semua
santri y a n g telah berlaku aniaya p a d a n y a diberi
hukuman, paling tidak harus minta maaf.
Burhan datang dengan wajah sedikit pucat. Namun
masih tampak tenang. Ia sama sekali tidak memandang
Syamsul yang sedang berdarah-darah kesakitan.
"Burhan ke sini!" pinta Pak Kiai.
Burhan mendekat.
"Kau sudah tahu apa yang terjadi? Kenapa Syamsul
diadili dan kenapa kau dibawa kemari?" lanjut Pak Kiai.
"Iya Pak Kiai."
"Kau harus jujur. Karena kejujuran mendatangkan
kebaikan. Dan k e d u s t a a n m e n d a t a n g k a n petaka.
Syamsul ini mengaku bahwa kau memintanya mengam-
bilkan uangmu di lemarimu, apa benar?"
Syamsul menunggu jawaban yang akan keluar dari
mulut temannya itu. Ia berharap temannya itu jujur,
mengatakan yang sebenarnya. Dengan suara bergetar
Burhan menjawab, "Ti...tidak benar Pak Kiai!"
Syamsul kaget bagai disambar geledek. Dengan
penuh amarah dia berteriak,
"Teganya kau Bur... Kau santri atau bajingan?!
Dancok kau Bur!"
"Diam kau maling! Kau yang jelas bajingan bukan
Burhan!" bentak Bagian Keamanan.
"Demi Allah yang menciptakan langit dan bumi Pak
Kiai. Saya tidak mencuri. Burhan yang tadi meminta
saya mengambilkan u a n g n y a u n t u k beli baju d a n
mentraktir saya. Biarlah seluruh laknat Allah menimpa
saya jika saya berdusta!" Syamsul bersumpah dengan
suara lantang. Kedua matanya menyala seperti mata
elang.
Pak Kiai agak kaget. Beliau langsung memandang
Burhan,
"Burhan karena Syamsul sudah berani bersumpah.
Kau harus berani juga bersumpah bahwa apa yang
kaukatakan benar. Jika tidak maka kau bersalah. Kau
akan d a p a t h u k u m a n atas k e d u s t a a n m u . Sebab
kedustaanmu itu telah mencelakakan orang lain."
Dengan tenang Burhan menjawab, "Penjahat akan
melakukan apa saja untuk menutupi kejahatannya Pak
Kiai. Baiklah, saya bersumpah bahwa apa yang baru saja
saya katakan benar. Jika saya berdusta maka semoga
segala laknat Allah menimpa saya."
Saat mengucapkan sumpah itu, dalam hati Burhan
mengatakan yang dimaksud dengan kata-katanya
"bahwa yang baru saja saya katakan benar" adalah
perkataannya "penjahat akan melakukan apa saja untuk
menutupi kejahatannya" bukan yang lain. Tak ada yang
tahu hal itu kecuali Burhan. Syamsul meneteskan
airmata. Hatinya sangat sakit. Rasa sakit hatinya melebihi
seluruh sakit di sekujur tubuhnya yang berdarah-darah.
"Baiklah, semuanya lebih jelas. Untuk memutuskan
siapa yang sesungguhnya harus dihukum, silakan
pengurus bermusyawarah. Dan sekalian tentukan
hukuman yang paling bijak." Kata Pak Kiai sambil
memandang wajah para pengurus. Lalu beliau pergi.
Setelah Pak Kiai pergi, Syamsul berteriak-teriak
marah. Andai kedua tangan dan kakinya tidak diikat
tentu ia akan mengamuk.
"Burhan, kaulah bajingan paling jahat! Kau tega
memfitnah temanmu! Ingat Burhan, Allah tidak tuli! Allah
tidak tidur!"
Burhan menjawab tenang sambil memandang ke
Lurah Pondok, "Penjahat ulung itu bisa berakting yang
canggih!"
Burhan lalu pergi. Para pengurus juga meninggalkan
gudang. Mereka menuju kantor untuk rapat. Akhirnya
diputuskan, Syamsul dihukum gundul dan kemudian
dikeluarkan dari pesantren.
Pengurus bergerak cepat. Lurah Pondok menelpon
ayah Syamsul, seorang pengusaha batik sukses di
Pekalongan. Yang lain menyiapkan acara eksekusi
penggundulan. Keputusan rapat pengurus itu ditulis
resmi. Diketik rapi. Ditandatangani oleh Lurah Pondok,
Sekretaris Pondok, Ketua Bagian Keamanan, d a n
Pengasuh Pondok Pesantren.
Sore itu juga Syamsul diambil dari gudang. Di
halaman pondok telah disiapkan kursi yang diletakkan
di tengah garis melingkar. Syamsul digiring d a n
d i d u d u k k a n di kursi itu. Para santri menyaksikan
eksekusi p e n g g u n d u l a n itu dari luar garis. Bagian
Keamanan membacakan hasil keputusan:
"...dengan ini diputuskan bahwa Saudara Syamsul
Hadi terbukti bersalah melakukan kejahatan pencurian
yang dilarang agama dan melanggar tata tertib pesantren.
Karenanya ia dikeluarkan dengan tidak hormat dari
pesantren, dengan sebelumnya dihukum takzir yaitu
digundul untuk dijadikan pelajaran bagi santri yang lain."
Para santri bersorak sorai. Kata-kata sumpah serapah
keluar menghujat Syamsul. Syamsul benar-benar sangat
terpukul. Ketika gunting bagian keamanan mulai
mencowel-cowel rambut kepalanya ia menangis. Sepuluh
menit kemudian eksekusi itu selesai. Syamsul dibawa lagi
ke dalam gudang. Dua orang pengurus membawa
seember air dan menyuruhnya mandi. Ikatan di tangan
Pudarnya Pesona Cleopatra
0 comments 6:31 PM Posted by __Internet For All__Labels: Novel - Novel
kandungan
aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal.” Ibunya
Raihana
adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo
dulu”
kata ibu.
“Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan besanan
untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon
keikhlasanmu”,
ucap beliau dengan nada mengiba.
Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku
menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi
mentari pagi dihatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan
diriku.
Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun
sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang datang begitu
saja
dan tidak tahu alasannya. Yang jelas aku sudah punya kriteria dan
impian
tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa
berhadapan
dengan air mata ibu yang amat kucintai. Saat khitbah (lamaran) sekilas
kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia memang baby face dan
anggun. Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama
sekali. Adikku, tante Lia mengakui Raihana cantik, “cantiknya alami,
bisa
jadi bintang iklan Lux lho, asli ! kata tante Lia. Tapi penilaianku
lain,
mungkin karena aku begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir titisan
Cleopatra,
yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung melengkung
indah,
mata bulat bening khas arab, dan bibir yang merah. Di hari-hari
menjelang
pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintaku untuk calon
istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia. Aku ingin memberontak pada
ibuku,
tetapi wajah teduhnya meluluhkanku. Hari pernikahan datang. Duduk
dipelaminan bagai mayat hidup, hati hampa tanpa cinta, Pestapun meriah
dengan emapt group rebana. Lantunan shalawat Nabipun terasa
menusuk-nusuk
hati. Kulihat Raihana tersenyum manis, tetapi hatiku terasa
teriris-iris
dan
jiwaku meronta. Satu-satunya harapanku adalah mendapat berkah dari
Allah
SWT
atas baktiku pada ibuku yang kucintai. Rabbighfir li wa liwalidayya!
Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya
sekedar karena aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayatNya.
Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan
kepura-puraanku. Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir
kota
Malang. Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah.
Betapa
susah hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat
bersama
dengan makhluk yang bernama Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibit
cintaku
belum juga tumbuh. Suaranya yang lembut terasa hambar, wajahnya yang
teduh
tetap terasa asing. Memasuki bulan keempat, rasa muak hidup bersama
Raihana
mulai kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku mencoba membuang
jauh-jauh
rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya
kusayang
dan
kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih banyak diam, acuh
tak
acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau ruang
kerja.
Aku merasa hidupku adalah sia-sia, belajar di luar negeri sia-sia,
pernikahanku sia-sia, keberadaanku sia-sia.
Tidak hanya aku yang tersiksa, Raihanapun merasakan hal yang sama,
karena
ia
orang yang berpendidikan, maka diapun tanya, tetapi kujawab ” tidak
apa-apa
koq mbak, mungkin aku belum dewasa, mungkin masih harus belajar berumah
tangga” Ada kekagetan yang kutangkap diwajah Raihana ketika kupanggil
‘mbak’, ” kenapa mas memanggilku mbak, aku kan istrimu, apa mas sudah
tidak
mencintaiku” tanyanya dengan guratan wajah yang sedih. “wallahu a’lam”
jawabku sekenanya. Dengan mata berkaca-kaca Raihana diam menunduk, tak
lama
kemudian dia terisak-isak sambil memeluk kakiku, “Kalau mas tidak
mencintaiku, tidak menerimaku sebagai istri kenapa mas ucapkan akad
nikah?
Kalau dalam tingkahku melayani mas masih ada yang kurang berkenan,
kenapa
mas tidak bilang dan menegurnya, kenapa mas diam saja, aku harus
bersikap
bagaimana untuk membahagiakan mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untuk
menjadi ruang bagi pengabdianku, bagi menyempurnakan ibadahku didunia
ini”.
Raihana mengiba penuh pasrah. Aku menangis menitikan air mata buka
karena
Raihana tetapi karena kepatunganku. Hari terus berjalan, tetapi
komunikasi
kami tidak berjalan. Kami hidup seperti orang asing tetapi Raihana
tetap
melayaniku menyiapkan segalanya untukku. Suatu sore aku pulang mengajar
dan
kehujanan, sampai dirumah habis maghrib, bibirku pucat, perutku belum
kemasukkan apa-apa kecuali segelas kopi buatan Raihana tadi pagi,
Memang
aku
berangkat pagi karena ada janji dengan teman. Raihana memandangiku
dengan
khawatir. “Mas tidak apa-apa” tanyanya dengan perasaan kuatir. “Mas
mandi
dengan air panas saja, aku sedang menggodoknya, lima menit lagi
mendidih”
lanjutnya. Aku melepas semua pakaian yang basah. “Mas airnya sudah
siap”
kata Raihana. Aku tak bicara sepatah katapun, aku langsung ke kamar
mandi,
aku lupa membawa handuk, tetapi Raihana telah berdiri didepan pintu
membawa
handuk. “Mas aku buatkan wedang jahe” Aku diam saja. Aku merasa mulas
dan
mual dalam perutku tak bisa kutahan. Dengan cepat aku berlari ke kamar
mandi
dan Raihana mengejarku dan memijit-mijit pundak dan tengkukku seperti
yang
dilakukan ibu. ” Mas masuk angin. Biasanya kalau masuk angin diobati
pakai
apa, pakai balsam, minyak putih, atau jamu?” tanya Raihana sambil
menuntunku
ke kamar. “Mas jangan diam saja dong, aku kan tidak tahu apa yang harus
kulakukan untuk membantu Mas”. ” Biasanya dikerokin” jawabku lirih. “
Kalau
begitu kaos mas dilepas ya, biar Hana kerokin” sahut Raihana sambil
tangannya melepas kaosku. Aku seperti anak kecil yang dimanja ibunya.
Raihana dengan sabar mengerokin punggungku dengan sentuhan tangannya
yang
halus. Setelah selesai dikerokin, Raihana membawakanku semangkok bubur
kacang hijau. Setelah itu aku merebahkan diri di tempat tidur. Kulihat
Raihana duduk di kursi tak jauh dari tempat tidur sambil menghafal Al
Quran
dengan khusyu. Aku kembali sedih dan ingin menangis, Raihana manis tapi
tak
semanis gadis-gadis mesir titisan Cleopatra. Dalam tidur aku bermimpi
bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku untuk makan malam di
istananya.”
Aku punya keponakan namanya Mona Zaki, nanti akan aku perkenalkan
denganmu”
kata Ratu Cleopatra. ” Dia memintaku untuk mencarikannya seorang
pangeran,
aku melihatmu cocok dan berniat memperkenalkannya denganmu”. Aku
mempersiapkan segalanya. Tepat puku 07.00 aku datang ke istana, kulihat
Mona
Zaki dengan pakaian pengantinnya, cantik sekali. Sang ratu
mempersilakan
aku
duduk di kursi yang berhias berlian. Aku melangkah maju, belum sempat
duduk,
tiba-tiba ” Mas, bangun, sudah jam setengah empat, mas belum sholat
Isya”
kata Raihana membangunkanku. Aku terbangun dengan perasaan kecewa. “
Maafkan
aku Mas, membuat Mas kurang suka, tetapi Mas belum sholat Isya” lirih
Hana
sambil melepas mukenanya, mungkin dia baru selesai sholat malam.
Meskipun
cuman mimpi tapi itu indah sekali, tapi sayang terputus. Aku jadi
semakin
tidak suka sama dia, dialah pemutus harapanku dan mimpi-mimpiku. Tapi
apakah
dia bersalah, bukankah dia berbuat baik membangunkanku untuk sholat
Isya.
Selanjutnya aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu dari
mana
sulitnya. Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar
terpenjara
dalam suasana konyol. Aku belum bisa menyukai Raihana. Aku sendiri
belum
pernah jatuh cinta, entah kenapa bisa dijajah pesona gadis-gadis
titisan
Cleopatra.
” Mas, nanti sore ada acara qiqah di rumah Yu Imah. Semua keluarga akan
datang termasuk ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita datang bareng,
tidak
enak kalau kita yang dieluk-elukan keluarga tidak datang” Suara
lembut
Raihana menyadarkan pengembaraanku pada Jaman Ibnu Hazm. Pelan-pelan ia
letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan segelas wedang
jahe.
Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin saja. ” MaâEUR¦.maaf
jika
mengganggu Mas, maafkan Hana,” lirihnya, lalu perlahan-lahan beranjak
meninggalkan aku di ruang kerja. ” Mbak! Eh maaf, maksudku
D..DinâEUR¦Dinda
Hana!, panggilku dengan suara parau tercekak dalam tenggorokan. ” Ya
Mas!”
sahut Hana langsung menghentikan langkahnya dan pelan-pelan
menghadapkan
dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum, agaknya ia bahagia
dipanggil
“dinda”. ” Matanya sedikit berbinar. “TeâEUR¦terima kasihâEUR¦DiâEUR¦dinda,
kita
berangkat bareng kesana, habis sholat dhuhur, insya Allah,” ucapku
sambil
menatap wajah Hana dengan senyum yang kupaksakan. Raihana menatapku
dengan
wajah sangat cerah, ada secercah senyum bersinar dibibirnya. ” Terima
kasih
Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju yang mana Mas, biar dinda
siapkan? Atau biar dinda saja yang memilihkan ya?”. Hana begitu
bahagia.
Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap sabar mencurahkan
bakti
meskipun aku dingin dan acuh tak acuh padanya selama ini. Aku belum
pernah
melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka padaku. Kalau wajah
sedihnya
ya. Tapi wajah tidak sukanya belum pernah. Bah, lelaki macam apa aku
ini,
kutukku pada diriku sendiri. Aku memaki-maki diriku sendiri atas sikap
dinginku selama ini., Tapi, setetes embun cinta yang kuharapkan
membasahi
hatiku tak juga turun. Kecantikan aura titisan Cleopatra itu? Bagaimana
aku
mengusirnya. Aku merasa menjadi orang yang paling membenci diriku
sendiri
di
dunia ini.
Acara pengajian dan qiqah putra ketiga Fatimah kakak sulung Raihana
membawa
sejarah baru lembaran pernikahan kami. Benar dugaan Raihana, kami
dielu-elukan keluarga, disambut hangat, penuh cinta, dan penuh bangga.
“
Selamat datang pengantin baru! Selamat datang pasangan yang paling
ideal
dalam keluarga! Sambut Yu Imah disambut tepuk tangan bahagia mertua dan
ubundaku serta kerabat yang lain. Wajah Raihana cerah. Matanya
berbinar-binar bahagia. Lain dengan aku, dalam hatiku menangis disebut
pasangan ideal. Apanya yang ideal. Apa karena aku lulusan Mesir dan
Raihana
lulusan terbaik dikampusnya dan hafal Al Quran lantas disebut ideal?
Ideal
bagiku adalah seperti Ibnu Hazm dan istrinya, saling memiliki rasa
cinta
yang sampai pada pengorbanan satu sama lain. Rasa cinta yang tidak lagi
memungkinkan adanya pengkhianatan. Rasa cinta yang dari detik ke detik
meneteskan rasa bahagia. Tapi diriku? Aku belum bisa memiliki cinta
seperti
yang dimiliki Raihana. Sambutan sanak saudara pada kami benar-benar
hangat.
Aku dibuat kaget oleh sikap Raihana yang begitu kuat menjaga
kewibawaanku
di
mata keluarga. Pada ibuku dan semuanya tidak pernah diceritakan,
kecuali
menyanjung kebaikanku sebagai seorang suami yang dicintainya. Bahkan ia
mengaku bangga dan bahagia menjadi istriku. Aku sendiri dibuat pusing
dengan
sikapku. Lebih pusing lagi sikap ibuku dan mertuaku yang menyindir
tentang
keturunan. ” Sudah satu tahun putra sulungku menikah, koq belum ada
tanda-tandanya ya, padahal aku ingin sekali menimang cucu” kata ibuku.
“
Insya Allah tak lama lagi, ibu akan menimang cucu, doakanlah kami.
Bukankah
begitu, Mas?” sahut Raihana sambil menyikut lenganku, aku tergagap dan
mengangguk sekenanya.
Setelah peristiwa itu, aku mencoba bersikap bersahabat dengan Raihana.
Aku
berpura-pura kembali mesra dengannya, sebagai suami betulan. Jujur, aku
hanya pura-pura. Sebab bukan atas dasar cinta, dan bukan kehendakku
sendiri
aku melakukannya, ini semua demi ibuku. Allah Maha Kuasa.
Kepura-puraanku
memuliakan Raihana sebagai seorang istri. Raihana hamil. Ia semakin
manis.
Keluarga bersuka cita semua. Namun hatiku menangis karena cinta tak
kunjung
tiba. Tuhan kasihanilah hamba, datangkanlah cinta itu segera. Sejak itu
aku
semakin sedih sehingga Raihana yang sedang hamil tidak kuperhatikan
lagi.
Setiap saat nuraniku bertanya” Mana tanggung jawabmu!” Aku hanya diam
dan
mendesah sedih. ” Entahlah, betapa sulit aku menemukan cinta” gumamku.
Dan akhirnya datanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan
ke
enam. Raihana minta ijin untuk tinggal bersama orang tuanya dengan alas
an
kesehatan. Kukabulkan permintaanya dan kuantarkan dia kerumahnya.
Karena
rumah mertua jauh dari kampus tempat aku mengajar, mertuaku tak menaruh
curiga ketika aku harus tetap tinggal dikontrakan. Ketika aku pamitan,
Raihana berpesan, ” Mas untuk menambah biaya kelahiran anak kita,
tolong
nanti cairkan tabunganku yang ada di ATM. Aku taruh dibawah bantal, no
pinnya sama dengan tanggal pernikahan kita”.
Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, aku sedikit lega. Setiap hari
Aku
tidak bertemu dengan orang yang membuatku tidak nyaman. Entah apa
sebabnya
bisa demikian. Hanya saja aku sedikit repot, harus menyiapkan
segalanya.
Tapi toh bukan masalah bagiku, karena aku sudah terbiasa saat kuliah di
Mesir.
Waktu terus berjalan, dan aku merasa enjoy tanpa Raihana. Suatu saat
aku
pulang kehujanan. Sampai rumah hari sudah petang, aku merasa tubuhku
benar-benar lemas. Aku muntah-muntah, menggigil, kepala pusing dan
perut
mual. Saat itu terlintas dihati andaikan ada Raihana, dia pasti telah
menyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati masuk
angin
dengan mengeroki punggungku, lalu menyuruhku istirahat dan menutupi
tubuhku
dengan selimut. Malam itu aku benar-benar tersiksa dan menderita. Aku
terbangun jam enam pagi. Badan sudah segar. Tapi ada penyesalan dalam
hati,
aku belum sholat Isya dan terlambat sholat subuh. Baru sedikit terasa,
andaikan ada Raihana tentu aku ngak meninggalkan sholat Isya, dan tidak
terlambat sholat subuh.
Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatan mengajar di kampus.
Apalagi
aku mendapat tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihan mutu
dosen
mata kuliah bahasa arab. Diantaranya tutornya adalah professor bahasa
arab
dari Mesir. Aku jadi banyak berbincang dengan beliau tentang mEsir.
Dalam
pelatihan aku juga berkenalan dengan Pak Qalyubi, seorang dosen bahasa
arab
dari Medan. Dia menempuh S1-nya di Mesir. Dia menceritakan satu
pengalaman
hidup yang menurutnya pahit dan terlanjur dijalani. “Apakah kamu sudah
menikah?” kata Pak Qalyubi. “Alhamdulillah, sudah” jawabku. ” Dengan
orang
mana?. ” Orang Jawa”. ” Pasti orang yang baik ya. Iya kan? Biasanya
pulang
dari Mesir banyak saudara yang menawarkan untuk menikah dengan
perempuan
shalehah. Paling tidak santriwati, lulusan pesantren. Istrimu dari
pesantren?”. “Pernah, alhamdulillah dia sarjana dan hafal Al Quran”. “
Kau
sangat beruntung, tidak sepertiku”. ” Kenapa dengan Bapak?” ” Aku
melakukan
langkah yang salah, seandainya aku tidak menikah dengan orang Mesir
itu,
tentu batinku tidak merana seperti sekarang”. ” Bagaimana itu bisa
terjadi?”. ” Kamu tentu tahu kan gadis Mesir itu cantik-cantik, dank
arena
terpesona dengan kecantikanya saya menderita seperti ini. Ceritanya
begini,
Saya seorang anak tunggal dari seorang yang kaya, saya berangkat ke
Mesir
dengan biaya orang tua. Disana saya bersama kakak kelas namanya Fadhil,
orang Medan juga. Seiring dengan berjalannya waktu, tahun pertama saya
lulus
dengan predkat jayyid, predikat yang cukup sulit bagi pelajar dari
Indonesia. Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan
rumah tempat saya tinggal menyukai saya. Saya dikenalkan dengan anak
gadisnya yang bernama Yasmin. Dia tidak pakai jilbab. Pada pandangan
pertama
saya jatuh cinta, saya belum pernah melihat gadis secantuk itu. Saya
bersumpah tidak akan menikaha dengan siapapun kecuali dia. Ternyata
perasaan
saya tidak bertepuk sebelah tangan. Kisah cinta saya didengar oleh
Fadhil.
Fadhil membuat garis tegas, akhiri hubungan dengan anak tuan rumah itu
atau
sekalian lanjutkan dengan menikahinya. Saya memilih yang kedua. Ketika
saya
menikahi Yasmin, banyak teman-teman yang memberi masukan begini,
sama-sama
menikah dengan gadis Mesir, kenapa tidak mencari mahasiswi Al Azhar
yang
hafal Al Quran, salehah, dan berjilbab. Itu lebih selamat dari pada
dengan
YAsmin yang awam pengetahuan agamanya. Tetpai saya tetap teguh untuk
menikahinya. Dengan biaya yang tinggi saya berhasil menikahi YAsmin.
Yasmin
menuntut diberi sesuatu yang lebih dari gadis Mesir. Perabot rumah yang
mewah, menginap di hotel berbintang. Begitu selesai S1 saya kembali
ke
MEdan, saya minta agar asset yang di Mesir dijual untuk modal di
Indonesia.
KAmi langsung membeli rumah yang cukup mewah di kota Medan. Tahun-tahun
pertama hidup kami berjalan baik, setiap tahunnya Yasmin mengajak ke
Mesir
menengok orang tuanya. Aku masih bisa memenuhi semua yang diinginkan
YAsmin.
Hidup terus berjalan, biaya hidup semakin nambah, anak kami yang ketiga
lahir, tetapi pemasukan tidak bertambah. Saya minta YAsmin untuk
berhemat.
Tidak setiap tahun tetapi tiga tahun sekali YAsmin tidak bisa. Aku
mati-matian berbisnis, demi keinginan Yasmin dan anak-anak terpenuhi.
Sawah
terakhir milik Ayah saya jual untuk modal. Dalam diri saya mulai muncul
penyesalan. Setiap kali saya melihat teman-teman alumni Mesir yang
hidup
dengan tenang dan damai dengan istrinya. Bisa mengamalkan ilmu dan bisa
berdakwah dengan baik. Dicintai masyarakat. Saya tidak mendapatkan apa
yang
mereka dapatkan. Jika saya pengin rending, saya harus ke warung. YAsmin
tidak mau tahu dengan masakan Indonesia. Kau tahu sendiri, gadis Mesir
biasanya memanggil suaminya dengan namanya. Jika ada sedikit letupan,
maka
rumah seperti neraka. Puncak penderitaan saya dimulai setahun yang
lalu.
Usaha saya bangkrut, saya minta YAsmin untuk menjual perhiasannya,
tetapi
dia tidak mau. Dia malah membandingkan dirinya yang hidup serba kurang
dengan sepupunya. Sepupunya mendapat suami orang Mesir. Saya menyesal
meletakkan kecantikan diatas segalanya. Saya telah diperbudak dengan
kecantikannya. Mengetahui keadaan saya yang terjepit, ayah dan ibu
mengalah.
Mereka menjual rumah dan tanah, yang akhirnya mereka tinggal di ruko
yang
kecil dan sempit. Batin saya menangis. Mereka berharap modal itu cukup
untuk
merintis bisnis saya yang bangkrut. Bisnis saya mulai bangkit, Yasmin
mulai
berulah, dia mengajak ke Mesir. Waktu di Mesir itulah puncak tragedy
yang
menyakitkan. ” Aku menyesal menikah dengan orang Indonesia, aku minta
kau
ceraikan aku, aku tidak bisa bahagia kecuali dengan lelaki Mesir”. Kata
Yasmin yang bagaikan geledek menyambar. Lalu tanpa dosa dia bercerita
bahwa
tadi di KBRI dia bertemu dengan temannya. Teman lamanya itu sudah jadi
bisnisman, dan istrinya sudah meninggal. Yasmin diajak makan siang, dan
dilanjutkan dengan perselingkuhan. Aku pukul dia karena tak bisa
menahan
diri. Atas tindakan itu saya dilaporkan ke polisi. Yang menyakitkan
adalah
tak satupun keluarganya yang membelaku. Rupanya selama ini Yasmin
sering
mengirim surat yang berisi berita bohong. Sejak saat itu saya mengalami
depresi. Dua bulan yang lalu saya mendapat surat cerai dari Mesir
sekaligus
mendapat salinan surat nikah Yasmin dengann temannya. Hati saya sangat
sakit, ketika si sulung menggigau meminta ibunya pulang”.
Mendengar cerita Pak Qulyubi membuatku terisak-isak. Perjalanan
hidupnya
menyadarkanku. Aku teringat Raihana. Perlahan wajahnya terbayang
dimataku,
tak terasa sudah dua bualn aku berpisah dengannya. Tiba-tiba ada
kerinduan
yang menyelinap dihati. Dia istri yang sangat shalehah. Tidak pernah
meminta
apapun. Bahkan yang keluar adalah pengabdian dan pengorbanan. Hanya
karena
kemurahan Allah aku mendapatkan istri seperti dia. Meskipun hatiku
belum
terbuka lebar, tetapi wajah Raihana telah menyala didindingnya. Apa
yang
sedang dilakukan Raihana sekarang? Bagaimana kandungannya? Sudah
delapan
bulan. Sebentar lagi melahirkan. Aku jadi teringat pesannya. Dia ingin
agar
aku mencairkan tabungannya.
Pulang dari pelatihan, aku menyempatkan ke took baju muslim, aku ingin
membelikannya untuk Raihana, juga daster, dan pakaian bayi. Aku ingin
memberikan kejutan, agar dia tersenyum menyambut kedatanganku. Aku
tidak
langsung ke rumah mertua, tetapi ke kontrakan untuk mengambil uang
tabungan,
yang disimpan dibawah bantal. Dibawah kasur itu kutemukan kertas merah
jambu. Hatiku berdesir, darahku terkesiap. Surat cinta siapa ini,
rasanya
aku belum pernah membuat surat cinta untuk istriku. Jangan-jangan ini
surat
cinta istriku dengan lelaki lain. Gila! Jangan-jangan istriku
serongâEUR¦.Dengan rasa takut kubaca surat itu satu persatu. Dan
RabbiâEUR¦ternyata surat-surat itu adalah ungkapan hati Raihana yang
selama
ini aku zhalimi. Ia menulis, betapa ia mati-matian mencintaiku, meredam
rindunya akan belaianku. Ia menguatkan diri untuk menahan nestapa dan
derita
yang luar biasa. Hanya Allah lah tempat ia meratap melabuhkan dukanya.
Dan
ya .. Allah, ia tetap setia memanjatkan doa untuk kebaikan suaminya.
Dan
betapa dia ingin hadirnya cinta sejati dariku.
“Rabbi dengan penuh kesyukuran, hamba bersimpuh dihadapan-Mu. Lakal
hamdu
ya
Rabb. Telah muliakan hamba dengan Al Quran. Kalaulah bukan karena
karunia-Mu
yang agung ini, niscaya hamba sudah terperosok kedalam jurang
kenistaan. Ya
Rabbi, curahkan tambahan kesabaran dalam diri hambaâEUR¦âEUR¦” tulis
Raihana.
Dalam akhir tulisannya Raihana berdoa” Ya Allah inilah hamba-Mu yang
kerdil
penuh noda dan dosa kembali datang mengetuk pintumu, melabuhkan derita
jiwa
ini kehadirat-Mu. Ya Allah sudah tujuh bulan ini hamba-Mu ini hamil
penuh
derita dan kepayahan. Namun kenapa begitu tega suami hamba tak
mempedulikanku dan menelantarkanku. Masih kurang apa rasa cinta hamba
padanya. Masih kurang apa kesetiaanku padanya. Masih kurang apa baktiku
padanya? Ya Allah, jika memang masih ada yang kurang, ilhamkanlah pada
hamba-Mu ini cara berakhlak yang lebih mulia lagi pada suamiku.
Ya Allah, dengan rahmatMu hamba mohon jangan murkai dia karena
kelalaiannya.
Cukup hamba saja yang menderita. Maafkanlah dia, dengan penuh cinta
hamba
masih tetap menyayanginya. Ya Allah berilah hamba kekuatan untuk tetap
berbakti dan memuliakannya. Ya Allah, Engkau maha Tahu bahwa hamba
sangat
mencintainya karena-Mu. Sampaikanlah rasa cinta ini kepadanya dengan
cara-Mu. Tegurlah dia dengan teguran-Mu. Ya Allah dengarkanlah doa
hamba-Mu
ini. Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau”.
Tak terasa air mataku mengalir, dadaku terasa sesak oleh rasa haru yang
luar
biasa. Tangisku meledak. Dalam tangisku semua kebaikan Raihana
terbayang.
Wajahnya yang baby face dan teduh, pengorbanan dan pengabdiannya yang
tiada
putusnya, suaranya yang lembut, tanganya yang halus bersimpuh memeluk
kakiku, semuanya terbayang mengalirkan perasaan haru dan cinta. Dalam
keharuan terasa ada angina sejuk yang turun dari langit dan merasuk
dalam
jiwaku. Seketika itu pesona Cleopatra telah memudar berganti cinta
Raihana
yang datang di hati. Rasa sayang dan cinta pada Raihan tiba-tiba begitu
kuat
mengakar dalam hatiku. Cahaya Raihana terus berkilat-kilat dimata. Aku
tiba-tiba begitu merindukannya. Segera kukejar waktu untuk membagi
cintaku
dengan Raihana. Kukebut kendaraanku. Kupacu kencang seiring dengan air
mataku yang menetes sepanjang jalan. Begitu sampai di halaman rumah
mertua,
nyaris tangisku meledak. Kutahan dengan nafas panjang dan kuusap air
mataku.
Melihat kedatanganku, ibu mertuaku memelukku dan menangis tersedu-sedu.
Aku jadi heran dan ikut menangis. ” Mana Raihana Bu?”. Ibu mertua hanya
menangis dan menangis. Aku terus bertanya apa sebenarnya yang telah
terjadi.
” RaihanaâEUR¦istrimu..istrimu dan anakmu yang dikandungnya”. ” Ada apa
dengan
dia”. ” Dia telah tiada”. ” Ibu berkata apa!”. ” Istrimu telah
meninggal
seminggu yang lalu. Dia terjatuh di kamar mandi. Kami membawanya ke
rumah
sakit. Dia dan bayinya tidak selamat. Sebelum meninggal, dia berpesan
untuk
memintakan maaf atas segala kekurangan dan kekhilafannya selama
menyertaimu.
Dia meminta maaf karena tidak bisa membuatmu bahagia. Dia meminta maaf
telah
dengan tidak sengaja membuatmu menderita. Dia minta kau meridhionya”.
Hatiku
bergetar hebat. ” KeâEUR¦kenapa ibu tidak memberi kabar padaku?”. “
Ketika
Raihana dibawa ke rumah sakit, aku telah mengutus seseorang untuk
menjemputmu di rumah kontrakan, tapi kamu tidak ada. Dihubungi ke
kampus
katanya kamu sedang mengikuti pelatihan. Kami tidak ingin mengganggumu.
Apalagi Raihana berpesan agar kami tidak mengganggu ketenanganmu
selama
pelatihan. Dan ketika Raihana meninggal kami sangat sedih, Jadi
maafkanlah
kami”.
Aku menangis tersedu-sedu. Hatiku pilu. Jiwaku remuk. Ketika aku
merasakan
cinta Raihana, dia telah tiada. Ketika aku ingin menebus dosaku, dia
telah
meninggalkanku. Ketika aku ingin memuliakannya dia telah tiada. Dia
telah
meninggalkan aku tanpa memberi kesempatan padaku untuk sekedar minta
maaf
dan tersenyum padanya. Tuhan telah menghukumku dengan penyesalan dan
perasaan bersalah tiada terkira.
Ibu mertua mengajakku ke sebuah gundukan tanah yang masih baru
dikuburan
pinggir desa. Diatas gundukan itu ada dua buah batu nisan. Nama dan
hari
wafat Raihana tertulis disana. Aku tak kuat menahan rasa cinta, haru,
rindu
dan penyesalan yang luar biasa. Aku ingin Raihana hidup kembali.
Dunia tiba-tiba gelap semua
kandungan
aku telah dijodohkan dengan Raihana yang tak pernah kukenal.” Ibunya
Raihana
adalah teman karib ibu waktu nyantri di pesantren Mangkuyudan Solo
dulu”
kata ibu.
“Kami pernah berjanji, jika dikarunia anak berlainan jenis akan besanan
untuk memperteguh tali persaudaraan. Karena itu ibu mohon
keikhlasanmu”,
ucap beliau dengan nada mengiba.
Dalam pergulatan jiwa yang sulit berhari-hari, akhirnya aku pasrah. Aku
menuruti keinginan ibu. Aku tak mau mengecewakan ibu. Aku ingin menjadi
mentari pagi dihatinya, meskipun untuk itu aku harus mengorbankan
diriku.
Dengan hati pahit kuserahkan semuanya bulat-bulat pada ibu. Meskipun
sesungguhnya dalam hatiku timbul kecemasan-kecemasan yang datang begitu
saja
dan tidak tahu alasannya. Yang jelas aku sudah punya kriteria dan
impian
tersendiri untuk calon istriku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa
berhadapan
dengan air mata ibu yang amat kucintai. Saat khitbah (lamaran) sekilas
kutatap wajah Raihana, benar kata Aida adikku, ia memang baby face dan
anggun. Namun garis-garis kecantikan yang kuinginkan tak kutemukan sama
sekali. Adikku, tante Lia mengakui Raihana cantik, “cantiknya alami,
bisa
jadi bintang iklan Lux lho, asli ! kata tante Lia. Tapi penilaianku
lain,
mungkin karena aku begitu hanyut dengan gadis-gadis Mesir titisan
Cleopatra,
yang tinggi semampai, wajahnya putih jelita, dengan hidung melengkung
indah,
mata bulat bening khas arab, dan bibir yang merah. Di hari-hari
menjelang
pernikahanku, aku berusaha menumbuhkan bibit-bibit cintaku untuk calon
istriku, tetapi usahaku selalu sia-sia. Aku ingin memberontak pada
ibuku,
tetapi wajah teduhnya meluluhkanku. Hari pernikahan datang. Duduk
dipelaminan bagai mayat hidup, hati hampa tanpa cinta, Pestapun meriah
dengan emapt group rebana. Lantunan shalawat Nabipun terasa
menusuk-nusuk
hati. Kulihat Raihana tersenyum manis, tetapi hatiku terasa
teriris-iris
dan
jiwaku meronta. Satu-satunya harapanku adalah mendapat berkah dari
Allah
SWT
atas baktiku pada ibuku yang kucintai. Rabbighfir li wa liwalidayya!
Layaknya pengantin baru, kupaksakan untuk mesra tapi bukan cinta, hanya
sekedar karena aku seorang manusia yang terbiasa membaca ayat-ayatNya.
Raihana tersenyum mengembang, hatiku menangisi kebohonganku dan
kepura-puraanku. Tepat dua bulan Raihana kubawa ke kontrakan dipinggir
kota
Malang. Mulailah kehidupan hampa. Aku tak menemukan adanya gairah.
Betapa
susah hidup berkeluarga tanpa cinta. Makan, minum, tidur, dan shalat
bersama
dengan makhluk yang bernama Raihana, istriku, tapi Masya Allah bibit
cintaku
belum juga tumbuh. Suaranya yang lembut terasa hambar, wajahnya yang
teduh
tetap terasa asing. Memasuki bulan keempat, rasa muak hidup bersama
Raihana
mulai kurasakan, rasa ini muncul begitu saja. Aku mencoba membuang
jauh-jauh
rasa tidak baik ini, apalagi pada istri sendiri yang seharusnya
kusayang
dan
kucintai. Sikapku pada Raihana mulai lain. Aku lebih banyak diam, acuh
tak
acuh, agak sinis, dan tidur pun lebih banyak di ruang tamu atau ruang
kerja.
Aku merasa hidupku adalah sia-sia, belajar di luar negeri sia-sia,
pernikahanku sia-sia, keberadaanku sia-sia.
Tidak hanya aku yang tersiksa, Raihanapun merasakan hal yang sama,
karena
ia
orang yang berpendidikan, maka diapun tanya, tetapi kujawab ” tidak
apa-apa
koq mbak, mungkin aku belum dewasa, mungkin masih harus belajar berumah
tangga” Ada kekagetan yang kutangkap diwajah Raihana ketika kupanggil
‘mbak’, ” kenapa mas memanggilku mbak, aku kan istrimu, apa mas sudah
tidak
mencintaiku” tanyanya dengan guratan wajah yang sedih. “wallahu a’lam”
jawabku sekenanya. Dengan mata berkaca-kaca Raihana diam menunduk, tak
lama
kemudian dia terisak-isak sambil memeluk kakiku, “Kalau mas tidak
mencintaiku, tidak menerimaku sebagai istri kenapa mas ucapkan akad
nikah?
Kalau dalam tingkahku melayani mas masih ada yang kurang berkenan,
kenapa
mas tidak bilang dan menegurnya, kenapa mas diam saja, aku harus
bersikap
bagaimana untuk membahagiakan mas, kumohon bukalah sedikit hatimu untuk
menjadi ruang bagi pengabdianku, bagi menyempurnakan ibadahku didunia
ini”.
Raihana mengiba penuh pasrah. Aku menangis menitikan air mata buka
karena
Raihana tetapi karena kepatunganku. Hari terus berjalan, tetapi
komunikasi
kami tidak berjalan. Kami hidup seperti orang asing tetapi Raihana
tetap
melayaniku menyiapkan segalanya untukku. Suatu sore aku pulang mengajar
dan
kehujanan, sampai dirumah habis maghrib, bibirku pucat, perutku belum
kemasukkan apa-apa kecuali segelas kopi buatan Raihana tadi pagi,
Memang
aku
berangkat pagi karena ada janji dengan teman. Raihana memandangiku
dengan
khawatir. “Mas tidak apa-apa” tanyanya dengan perasaan kuatir. “Mas
mandi
dengan air panas saja, aku sedang menggodoknya, lima menit lagi
mendidih”
lanjutnya. Aku melepas semua pakaian yang basah. “Mas airnya sudah
siap”
kata Raihana. Aku tak bicara sepatah katapun, aku langsung ke kamar
mandi,
aku lupa membawa handuk, tetapi Raihana telah berdiri didepan pintu
membawa
handuk. “Mas aku buatkan wedang jahe” Aku diam saja. Aku merasa mulas
dan
mual dalam perutku tak bisa kutahan. Dengan cepat aku berlari ke kamar
mandi
dan Raihana mengejarku dan memijit-mijit pundak dan tengkukku seperti
yang
dilakukan ibu. ” Mas masuk angin. Biasanya kalau masuk angin diobati
pakai
apa, pakai balsam, minyak putih, atau jamu?” tanya Raihana sambil
menuntunku
ke kamar. “Mas jangan diam saja dong, aku kan tidak tahu apa yang harus
kulakukan untuk membantu Mas”. ” Biasanya dikerokin” jawabku lirih. “
Kalau
begitu kaos mas dilepas ya, biar Hana kerokin” sahut Raihana sambil
tangannya melepas kaosku. Aku seperti anak kecil yang dimanja ibunya.
Raihana dengan sabar mengerokin punggungku dengan sentuhan tangannya
yang
halus. Setelah selesai dikerokin, Raihana membawakanku semangkok bubur
kacang hijau. Setelah itu aku merebahkan diri di tempat tidur. Kulihat
Raihana duduk di kursi tak jauh dari tempat tidur sambil menghafal Al
Quran
dengan khusyu. Aku kembali sedih dan ingin menangis, Raihana manis tapi
tak
semanis gadis-gadis mesir titisan Cleopatra. Dalam tidur aku bermimpi
bertemu dengan Cleopatra, ia mengundangku untuk makan malam di
istananya.”
Aku punya keponakan namanya Mona Zaki, nanti akan aku perkenalkan
denganmu”
kata Ratu Cleopatra. ” Dia memintaku untuk mencarikannya seorang
pangeran,
aku melihatmu cocok dan berniat memperkenalkannya denganmu”. Aku
mempersiapkan segalanya. Tepat puku 07.00 aku datang ke istana, kulihat
Mona
Zaki dengan pakaian pengantinnya, cantik sekali. Sang ratu
mempersilakan
aku
duduk di kursi yang berhias berlian. Aku melangkah maju, belum sempat
duduk,
tiba-tiba ” Mas, bangun, sudah jam setengah empat, mas belum sholat
Isya”
kata Raihana membangunkanku. Aku terbangun dengan perasaan kecewa. “
Maafkan
aku Mas, membuat Mas kurang suka, tetapi Mas belum sholat Isya” lirih
Hana
sambil melepas mukenanya, mungkin dia baru selesai sholat malam.
Meskipun
cuman mimpi tapi itu indah sekali, tapi sayang terputus. Aku jadi
semakin
tidak suka sama dia, dialah pemutus harapanku dan mimpi-mimpiku. Tapi
apakah
dia bersalah, bukankah dia berbuat baik membangunkanku untuk sholat
Isya.
Selanjutnya aku merasa sulit hidup bersama Raihana, aku tidak tahu dari
mana
sulitnya. Rasa tidak suka semakin menjadi-jadi. Aku benar-benar
terpenjara
dalam suasana konyol. Aku belum bisa menyukai Raihana. Aku sendiri
belum
pernah jatuh cinta, entah kenapa bisa dijajah pesona gadis-gadis
titisan
Cleopatra.
” Mas, nanti sore ada acara qiqah di rumah Yu Imah. Semua keluarga akan
datang termasuk ibundamu. Kita diundang juga. Yuk, kita datang bareng,
tidak
enak kalau kita yang dieluk-elukan keluarga tidak datang” Suara
lembut
Raihana menyadarkan pengembaraanku pada Jaman Ibnu Hazm. Pelan-pelan ia
letakkan nampan yang berisi onde-onde kesukaanku dan segelas wedang
jahe.
Tangannya yang halus agak gemetar. Aku dingin-dingin saja. ” MaâEUR¦.maaf
jika
mengganggu Mas, maafkan Hana,” lirihnya, lalu perlahan-lahan beranjak
meninggalkan aku di ruang kerja. ” Mbak! Eh maaf, maksudku
D..DinâEUR¦Dinda
Hana!, panggilku dengan suara parau tercekak dalam tenggorokan. ” Ya
Mas!”
sahut Hana langsung menghentikan langkahnya dan pelan-pelan
menghadapkan
dirinya padaku. Ia berusaha untuk tersenyum, agaknya ia bahagia
dipanggil
“dinda”. ” Matanya sedikit berbinar. “TeâEUR¦terima kasihâEUR¦DiâEUR¦dinda,
kita
berangkat bareng kesana, habis sholat dhuhur, insya Allah,” ucapku
sambil
menatap wajah Hana dengan senyum yang kupaksakan. Raihana menatapku
dengan
wajah sangat cerah, ada secercah senyum bersinar dibibirnya. ” Terima
kasih
Mas, Ibu kita pasti senang, mau pakai baju yang mana Mas, biar dinda
siapkan? Atau biar dinda saja yang memilihkan ya?”. Hana begitu
bahagia.
Perempuan berjilbab ini memang luar biasa, Ia tetap sabar mencurahkan
bakti
meskipun aku dingin dan acuh tak acuh padanya selama ini. Aku belum
pernah
melihatnya memasang wajah masam atau tidak suka padaku. Kalau wajah
sedihnya
ya. Tapi wajah tidak sukanya belum pernah. Bah, lelaki macam apa aku
ini,
kutukku pada diriku sendiri. Aku memaki-maki diriku sendiri atas sikap
dinginku selama ini., Tapi, setetes embun cinta yang kuharapkan
membasahi
hatiku tak juga turun. Kecantikan aura titisan Cleopatra itu? Bagaimana
aku
mengusirnya. Aku merasa menjadi orang yang paling membenci diriku
sendiri
di
dunia ini.
Acara pengajian dan qiqah putra ketiga Fatimah kakak sulung Raihana
membawa
sejarah baru lembaran pernikahan kami. Benar dugaan Raihana, kami
dielu-elukan keluarga, disambut hangat, penuh cinta, dan penuh bangga.
“
Selamat datang pengantin baru! Selamat datang pasangan yang paling
ideal
dalam keluarga! Sambut Yu Imah disambut tepuk tangan bahagia mertua dan
ubundaku serta kerabat yang lain. Wajah Raihana cerah. Matanya
berbinar-binar bahagia. Lain dengan aku, dalam hatiku menangis disebut
pasangan ideal. Apanya yang ideal. Apa karena aku lulusan Mesir dan
Raihana
lulusan terbaik dikampusnya dan hafal Al Quran lantas disebut ideal?
Ideal
bagiku adalah seperti Ibnu Hazm dan istrinya, saling memiliki rasa
cinta
yang sampai pada pengorbanan satu sama lain. Rasa cinta yang tidak lagi
memungkinkan adanya pengkhianatan. Rasa cinta yang dari detik ke detik
meneteskan rasa bahagia. Tapi diriku? Aku belum bisa memiliki cinta
seperti
yang dimiliki Raihana. Sambutan sanak saudara pada kami benar-benar
hangat.
Aku dibuat kaget oleh sikap Raihana yang begitu kuat menjaga
kewibawaanku
di
mata keluarga. Pada ibuku dan semuanya tidak pernah diceritakan,
kecuali
menyanjung kebaikanku sebagai seorang suami yang dicintainya. Bahkan ia
mengaku bangga dan bahagia menjadi istriku. Aku sendiri dibuat pusing
dengan
sikapku. Lebih pusing lagi sikap ibuku dan mertuaku yang menyindir
tentang
keturunan. ” Sudah satu tahun putra sulungku menikah, koq belum ada
tanda-tandanya ya, padahal aku ingin sekali menimang cucu” kata ibuku.
“
Insya Allah tak lama lagi, ibu akan menimang cucu, doakanlah kami.
Bukankah
begitu, Mas?” sahut Raihana sambil menyikut lenganku, aku tergagap dan
mengangguk sekenanya.
Setelah peristiwa itu, aku mencoba bersikap bersahabat dengan Raihana.
Aku
berpura-pura kembali mesra dengannya, sebagai suami betulan. Jujur, aku
hanya pura-pura. Sebab bukan atas dasar cinta, dan bukan kehendakku
sendiri
aku melakukannya, ini semua demi ibuku. Allah Maha Kuasa.
Kepura-puraanku
memuliakan Raihana sebagai seorang istri. Raihana hamil. Ia semakin
manis.
Keluarga bersuka cita semua. Namun hatiku menangis karena cinta tak
kunjung
tiba. Tuhan kasihanilah hamba, datangkanlah cinta itu segera. Sejak itu
aku
semakin sedih sehingga Raihana yang sedang hamil tidak kuperhatikan
lagi.
Setiap saat nuraniku bertanya” Mana tanggung jawabmu!” Aku hanya diam
dan
mendesah sedih. ” Entahlah, betapa sulit aku menemukan cinta” gumamku.
Dan akhirnya datanglah hari itu, usia kehamilan Raihana memasuki bulan
ke
enam. Raihana minta ijin untuk tinggal bersama orang tuanya dengan alas
an
kesehatan. Kukabulkan permintaanya dan kuantarkan dia kerumahnya.
Karena
rumah mertua jauh dari kampus tempat aku mengajar, mertuaku tak menaruh
curiga ketika aku harus tetap tinggal dikontrakan. Ketika aku pamitan,
Raihana berpesan, ” Mas untuk menambah biaya kelahiran anak kita,
tolong
nanti cairkan tabunganku yang ada di ATM. Aku taruh dibawah bantal, no
pinnya sama dengan tanggal pernikahan kita”.
Setelah Raihana tinggal bersama ibunya, aku sedikit lega. Setiap hari
Aku
tidak bertemu dengan orang yang membuatku tidak nyaman. Entah apa
sebabnya
bisa demikian. Hanya saja aku sedikit repot, harus menyiapkan
segalanya.
Tapi toh bukan masalah bagiku, karena aku sudah terbiasa saat kuliah di
Mesir.
Waktu terus berjalan, dan aku merasa enjoy tanpa Raihana. Suatu saat
aku
pulang kehujanan. Sampai rumah hari sudah petang, aku merasa tubuhku
benar-benar lemas. Aku muntah-muntah, menggigil, kepala pusing dan
perut
mual. Saat itu terlintas dihati andaikan ada Raihana, dia pasti telah
menyiapkan air panas, bubur kacang hijau, membantu mengobati masuk
angin
dengan mengeroki punggungku, lalu menyuruhku istirahat dan menutupi
tubuhku
dengan selimut. Malam itu aku benar-benar tersiksa dan menderita. Aku
terbangun jam enam pagi. Badan sudah segar. Tapi ada penyesalan dalam
hati,
aku belum sholat Isya dan terlambat sholat subuh. Baru sedikit terasa,
andaikan ada Raihana tentu aku ngak meninggalkan sholat Isya, dan tidak
terlambat sholat subuh.
Lintasan Raihana hilang seiring keberangkatan mengajar di kampus.
Apalagi
aku mendapat tugas dari universitas untuk mengikuti pelatihan mutu
dosen
mata kuliah bahasa arab. Diantaranya tutornya adalah professor bahasa
arab
dari Mesir. Aku jadi banyak berbincang dengan beliau tentang mEsir.
Dalam
pelatihan aku juga berkenalan dengan Pak Qalyubi, seorang dosen bahasa
arab
dari Medan. Dia menempuh S1-nya di Mesir. Dia menceritakan satu
pengalaman
hidup yang menurutnya pahit dan terlanjur dijalani. “Apakah kamu sudah
menikah?” kata Pak Qalyubi. “Alhamdulillah, sudah” jawabku. ” Dengan
orang
mana?. ” Orang Jawa”. ” Pasti orang yang baik ya. Iya kan? Biasanya
pulang
dari Mesir banyak saudara yang menawarkan untuk menikah dengan
perempuan
shalehah. Paling tidak santriwati, lulusan pesantren. Istrimu dari
pesantren?”. “Pernah, alhamdulillah dia sarjana dan hafal Al Quran”. “
Kau
sangat beruntung, tidak sepertiku”. ” Kenapa dengan Bapak?” ” Aku
melakukan
langkah yang salah, seandainya aku tidak menikah dengan orang Mesir
itu,
tentu batinku tidak merana seperti sekarang”. ” Bagaimana itu bisa
terjadi?”. ” Kamu tentu tahu kan gadis Mesir itu cantik-cantik, dank
arena
terpesona dengan kecantikanya saya menderita seperti ini. Ceritanya
begini,
Saya seorang anak tunggal dari seorang yang kaya, saya berangkat ke
Mesir
dengan biaya orang tua. Disana saya bersama kakak kelas namanya Fadhil,
orang Medan juga. Seiring dengan berjalannya waktu, tahun pertama saya
lulus
dengan predkat jayyid, predikat yang cukup sulit bagi pelajar dari
Indonesia. Demikian juga dengan tahun kedua. Karena prestasi saya, tuan
rumah tempat saya tinggal menyukai saya. Saya dikenalkan dengan anak
gadisnya yang bernama Yasmin. Dia tidak pakai jilbab. Pada pandangan
pertama
saya jatuh cinta, saya belum pernah melihat gadis secantuk itu. Saya
bersumpah tidak akan menikaha dengan siapapun kecuali dia. Ternyata
perasaan
saya tidak bertepuk sebelah tangan. Kisah cinta saya didengar oleh
Fadhil.
Fadhil membuat garis tegas, akhiri hubungan dengan anak tuan rumah itu
atau
sekalian lanjutkan dengan menikahinya. Saya memilih yang kedua. Ketika
saya
menikahi Yasmin, banyak teman-teman yang memberi masukan begini,
sama-sama
menikah dengan gadis Mesir, kenapa tidak mencari mahasiswi Al Azhar
yang
hafal Al Quran, salehah, dan berjilbab. Itu lebih selamat dari pada
dengan
YAsmin yang awam pengetahuan agamanya. Tetpai saya tetap teguh untuk
menikahinya. Dengan biaya yang tinggi saya berhasil menikahi YAsmin.
Yasmin
menuntut diberi sesuatu yang lebih dari gadis Mesir. Perabot rumah yang
mewah, menginap di hotel berbintang. Begitu selesai S1 saya kembali
ke
MEdan, saya minta agar asset yang di Mesir dijual untuk modal di
Indonesia.
KAmi langsung membeli rumah yang cukup mewah di kota Medan. Tahun-tahun
pertama hidup kami berjalan baik, setiap tahunnya Yasmin mengajak ke
Mesir
menengok orang tuanya. Aku masih bisa memenuhi semua yang diinginkan
YAsmin.
Hidup terus berjalan, biaya hidup semakin nambah, anak kami yang ketiga
lahir, tetapi pemasukan tidak bertambah. Saya minta YAsmin untuk
berhemat.
Tidak setiap tahun tetapi tiga tahun sekali YAsmin tidak bisa. Aku
mati-matian berbisnis, demi keinginan Yasmin dan anak-anak terpenuhi.
Sawah
terakhir milik Ayah saya jual untuk modal. Dalam diri saya mulai muncul
penyesalan. Setiap kali saya melihat teman-teman alumni Mesir yang
hidup
dengan tenang dan damai dengan istrinya. Bisa mengamalkan ilmu dan bisa
berdakwah dengan baik. Dicintai masyarakat. Saya tidak mendapatkan apa
yang
mereka dapatkan. Jika saya pengin rending, saya harus ke warung. YAsmin
tidak mau tahu dengan masakan Indonesia. Kau tahu sendiri, gadis Mesir
biasanya memanggil suaminya dengan namanya. Jika ada sedikit letupan,
maka
rumah seperti neraka. Puncak penderitaan saya dimulai setahun yang
lalu.
Usaha saya bangkrut, saya minta YAsmin untuk menjual perhiasannya,
tetapi
dia tidak mau. Dia malah membandingkan dirinya yang hidup serba kurang
dengan sepupunya. Sepupunya mendapat suami orang Mesir. Saya menyesal
meletakkan kecantikan diatas segalanya. Saya telah diperbudak dengan
kecantikannya. Mengetahui keadaan saya yang terjepit, ayah dan ibu
mengalah.
Mereka menjual rumah dan tanah, yang akhirnya mereka tinggal di ruko
yang
kecil dan sempit. Batin saya menangis. Mereka berharap modal itu cukup
untuk
merintis bisnis saya yang bangkrut. Bisnis saya mulai bangkit, Yasmin
mulai
berulah, dia mengajak ke Mesir. Waktu di Mesir itulah puncak tragedy
yang
menyakitkan. ” Aku menyesal menikah dengan orang Indonesia, aku minta
kau
ceraikan aku, aku tidak bisa bahagia kecuali dengan lelaki Mesir”. Kata
Yasmin yang bagaikan geledek menyambar. Lalu tanpa dosa dia bercerita
bahwa
tadi di KBRI dia bertemu dengan temannya. Teman lamanya itu sudah jadi
bisnisman, dan istrinya sudah meninggal. Yasmin diajak makan siang, dan
dilanjutkan dengan perselingkuhan. Aku pukul dia karena tak bisa
menahan
diri. Atas tindakan itu saya dilaporkan ke polisi. Yang menyakitkan
adalah
tak satupun keluarganya yang membelaku. Rupanya selama ini Yasmin
sering
mengirim surat yang berisi berita bohong. Sejak saat itu saya mengalami
depresi. Dua bulan yang lalu saya mendapat surat cerai dari Mesir
sekaligus
mendapat salinan surat nikah Yasmin dengann temannya. Hati saya sangat
sakit, ketika si sulung menggigau meminta ibunya pulang”.
Mendengar cerita Pak Qulyubi membuatku terisak-isak. Perjalanan
hidupnya
menyadarkanku. Aku teringat Raihana. Perlahan wajahnya terbayang
dimataku,
tak terasa sudah dua bualn aku berpisah dengannya. Tiba-tiba ada
kerinduan
yang menyelinap dihati. Dia istri yang sangat shalehah. Tidak pernah
meminta
apapun. Bahkan yang keluar adalah pengabdian dan pengorbanan. Hanya
karena
kemurahan Allah aku mendapatkan istri seperti dia. Meskipun hatiku
belum
terbuka lebar, tetapi wajah Raihana telah menyala didindingnya. Apa
yang
sedang dilakukan Raihana sekarang? Bagaimana kandungannya? Sudah
delapan
bulan. Sebentar lagi melahirkan. Aku jadi teringat pesannya. Dia ingin
agar
aku mencairkan tabungannya.
Pulang dari pelatihan, aku menyempatkan ke took baju muslim, aku ingin
membelikannya untuk Raihana, juga daster, dan pakaian bayi. Aku ingin
memberikan kejutan, agar dia tersenyum menyambut kedatanganku. Aku
tidak
langsung ke rumah mertua, tetapi ke kontrakan untuk mengambil uang
tabungan,
yang disimpan dibawah bantal. Dibawah kasur itu kutemukan kertas merah
jambu. Hatiku berdesir, darahku terkesiap. Surat cinta siapa ini,
rasanya
aku belum pernah membuat surat cinta untuk istriku. Jangan-jangan ini
surat
cinta istriku dengan lelaki lain. Gila! Jangan-jangan istriku
serongâEUR¦.Dengan rasa takut kubaca surat itu satu persatu. Dan
RabbiâEUR¦ternyata surat-surat itu adalah ungkapan hati Raihana yang
selama
ini aku zhalimi. Ia menulis, betapa ia mati-matian mencintaiku, meredam
rindunya akan belaianku. Ia menguatkan diri untuk menahan nestapa dan
derita
yang luar biasa. Hanya Allah lah tempat ia meratap melabuhkan dukanya.
Dan
ya .. Allah, ia tetap setia memanjatkan doa untuk kebaikan suaminya.
Dan
betapa dia ingin hadirnya cinta sejati dariku.
“Rabbi dengan penuh kesyukuran, hamba bersimpuh dihadapan-Mu. Lakal
hamdu
ya
Rabb. Telah muliakan hamba dengan Al Quran. Kalaulah bukan karena
karunia-Mu
yang agung ini, niscaya hamba sudah terperosok kedalam jurang
kenistaan. Ya
Rabbi, curahkan tambahan kesabaran dalam diri hambaâEUR¦âEUR¦” tulis
Raihana.
Dalam akhir tulisannya Raihana berdoa” Ya Allah inilah hamba-Mu yang
kerdil
penuh noda dan dosa kembali datang mengetuk pintumu, melabuhkan derita
jiwa
ini kehadirat-Mu. Ya Allah sudah tujuh bulan ini hamba-Mu ini hamil
penuh
derita dan kepayahan. Namun kenapa begitu tega suami hamba tak
mempedulikanku dan menelantarkanku. Masih kurang apa rasa cinta hamba
padanya. Masih kurang apa kesetiaanku padanya. Masih kurang apa baktiku
padanya? Ya Allah, jika memang masih ada yang kurang, ilhamkanlah pada
hamba-Mu ini cara berakhlak yang lebih mulia lagi pada suamiku.
Ya Allah, dengan rahmatMu hamba mohon jangan murkai dia karena
kelalaiannya.
Cukup hamba saja yang menderita. Maafkanlah dia, dengan penuh cinta
hamba
masih tetap menyayanginya. Ya Allah berilah hamba kekuatan untuk tetap
berbakti dan memuliakannya. Ya Allah, Engkau maha Tahu bahwa hamba
sangat
mencintainya karena-Mu. Sampaikanlah rasa cinta ini kepadanya dengan
cara-Mu. Tegurlah dia dengan teguran-Mu. Ya Allah dengarkanlah doa
hamba-Mu
ini. Tiada Tuhan yang layak disembah kecuali Engkau, Maha Suci Engkau”.
Tak terasa air mataku mengalir, dadaku terasa sesak oleh rasa haru yang
luar
biasa. Tangisku meledak. Dalam tangisku semua kebaikan Raihana
terbayang.
Wajahnya yang baby face dan teduh, pengorbanan dan pengabdiannya yang
tiada
putusnya, suaranya yang lembut, tanganya yang halus bersimpuh memeluk
kakiku, semuanya terbayang mengalirkan perasaan haru dan cinta. Dalam
keharuan terasa ada angina sejuk yang turun dari langit dan merasuk
dalam
jiwaku. Seketika itu pesona Cleopatra telah memudar berganti cinta
Raihana
yang datang di hati. Rasa sayang dan cinta pada Raihan tiba-tiba begitu
kuat
mengakar dalam hatiku. Cahaya Raihana terus berkilat-kilat dimata. Aku
tiba-tiba begitu merindukannya. Segera kukejar waktu untuk membagi
cintaku
dengan Raihana. Kukebut kendaraanku. Kupacu kencang seiring dengan air
mataku yang menetes sepanjang jalan. Begitu sampai di halaman rumah
mertua,
nyaris tangisku meledak. Kutahan dengan nafas panjang dan kuusap air
mataku.
Melihat kedatanganku, ibu mertuaku memelukku dan menangis tersedu-sedu.
Aku jadi heran dan ikut menangis. ” Mana Raihana Bu?”. Ibu mertua hanya
menangis dan menangis. Aku terus bertanya apa sebenarnya yang telah
terjadi.
” RaihanaâEUR¦istrimu..istrimu dan anakmu yang dikandungnya”. ” Ada apa
dengan
dia”. ” Dia telah tiada”. ” Ibu berkata apa!”. ” Istrimu telah
meninggal
seminggu yang lalu. Dia terjatuh di kamar mandi. Kami membawanya ke
rumah
sakit. Dia dan bayinya tidak selamat. Sebelum meninggal, dia berpesan
untuk
memintakan maaf atas segala kekurangan dan kekhilafannya selama
menyertaimu.
Dia meminta maaf karena tidak bisa membuatmu bahagia. Dia meminta maaf
telah
dengan tidak sengaja membuatmu menderita. Dia minta kau meridhionya”.
Hatiku
bergetar hebat. ” KeâEUR¦kenapa ibu tidak memberi kabar padaku?”. “
Ketika
Raihana dibawa ke rumah sakit, aku telah mengutus seseorang untuk
menjemputmu di rumah kontrakan, tapi kamu tidak ada. Dihubungi ke
kampus
katanya kamu sedang mengikuti pelatihan. Kami tidak ingin mengganggumu.
Apalagi Raihana berpesan agar kami tidak mengganggu ketenanganmu
selama
pelatihan. Dan ketika Raihana meninggal kami sangat sedih, Jadi
maafkanlah
kami”.
Aku menangis tersedu-sedu. Hatiku pilu. Jiwaku remuk. Ketika aku
merasakan
cinta Raihana, dia telah tiada. Ketika aku ingin menebus dosaku, dia
telah
meninggalkanku. Ketika aku ingin memuliakannya dia telah tiada. Dia
telah
meninggalkan aku tanpa memberi kesempatan padaku untuk sekedar minta
maaf
dan tersenyum padanya. Tuhan telah menghukumku dengan penyesalan dan
perasaan bersalah tiada terkira.
Ibu mertua mengajakku ke sebuah gundukan tanah yang masih baru
dikuburan
pinggir desa. Diatas gundukan itu ada dua buah batu nisan. Nama dan
hari
wafat Raihana tertulis disana. Aku tak kuat menahan rasa cinta, haru,
rindu
dan penyesalan yang luar biasa. Aku ingin Raihana hidup kembali.
Dunia tiba-tiba gelap semua
Aku Dapat Membaca Hatimu
0 comments 6:21 PM Posted by __Internet For All__Labels: Puisi Cinta (Gombal)
Kutelahi lakaran tuturmu
yang terpapar di kanvas sopan
adalah siraman air rindu
yang mengalir ke muara
sayang.
Kutahu di sebalik pelangi
hatimu
terlakar potret cinta
yang kausembunyikan
di celah-celah kelopak ragu
yang masih membeku dan
padu.
Kunanti mentari jujurmu
memancarkan cahaya kasih
setelah kulabuhkan ceritera
peristiwa
Laila Majnun dan Syah Jehan
setia
tapi bibirmu masih
dibelenggu malu.
Usah lagi kaumelipat helah
kerana aku dapat membaca
hatimu
yang sarat perlu dan mahu
untuk kutakhtai satu persatu.
Kupasti manik-manik iman
yang tertanam di sanubari
akan mengalungkan seutas
takdir
merungkai kusutan yang
melanda.
Kutelahi lakaran tuturmu
yang terpapar di kanvas sopan
adalah siraman air rindu
yang mengalir ke muara
sayang.
Kutahu di sebalik pelangi
hatimu
terlakar potret cinta
yang kausembunyikan
di celah-celah kelopak ragu
yang masih membeku dan
padu.
Kunanti mentari jujurmu
memancarkan cahaya kasih
setelah kulabuhkan ceritera
peristiwa
Laila Majnun dan Syah Jehan
setia
tapi bibirmu masih
dibelenggu malu.
Usah lagi kaumelipat helah
kerana aku dapat membaca
hatimu
yang sarat perlu dan mahu
untuk kutakhtai satu persatu.
Kupasti manik-manik iman
yang tertanam di sanubari
akan mengalungkan seutas
takdir
merungkai kusutan yang
melanda.
Pantun Jenaka
0 comments 6:20 PM Posted by __Internet For All__Labels: Pantun
Pantun Jenaka
Lebuhraya kota bersegi
Tempat temasya dara teruna
Hodohnya ketawa orang tak bergigi
Ibarat kota tiada kubunya
Api terang banyak kelkatu
Masuk ke kamar bersesak-sesak
Alangkah geli rasa hatiku
Melihat nenek bergincu berbedak
Ditiup angin bunga semalu
Kuncup daun bila berlaga
Bercakap Melayu kononnya malu
Belacan setongkol dibedal juga
Orang Rengat menanam betik
Betik disiram air berlinang
Hilang semangat penghulu itik
Melihat ayam lumba berenang
Tanam jerangau di bukit tinggi
Mati dipijak anak badak
Melihat sang bangau sakit gigi
Gelak terbahak penghulu katak
Singapura dilanggar todak
Kapal karam di Tanjung Peringin
Orang tua beristerikan budak
Macam beruk mendapat cermin
Bapa gergasi menebar jala
Pegang tali melintuk-liuk
Masakan pengerusi tak garu kepala
Melihat ahli semua mengantuk
Gemuruh tabuh bukan kepalang
Diasah lembing berkilat-kilat
Gementar tubuh harimau belang
Nampak kambing pandai bersilat
Buah salak di rumah Tok Imam
Sirih sekapur pergi menjala
Anjing menyalak harimau demam
Kucing di dapur pening kepala
Anak cina menggali cacing
Mari diisi dalam tempurung
Penjual sendiri tak kenal dacing
Alamat dagangan habis diborong
Biduk buluh bermuat tulang
Anak Siam pulang berbaris
Duduk mengeluh panglima helang
Melihat ayam bercengkang keris
Buah jering dari Jawa
Naik sigai ke atas atap
Ikan kering lagi ketawa
Dengar tupai baca kitab
Pohon manggis di tepi rawa
Tempat datuk tidur beradu
Sedang menangis nenek tertawa
Melihat datuk bermain gundu
Ceduk air di dalam perigi
Timbanya bertangkaikan suasa
Jikalau kucing tak bergigi
Alamat tikus berjoget berdansa
Anak dara Datuk Tinggi
Buat gulai ikan tilan
Datuk tua tak ada gigi
Bila makan kunyah telan
Berderak-derak sangkutan dacing
Bagaikan putus diimpit lumpang
Bergerak-gerak kumis kucing
Melihat tikus bawa senapang
Pokok pinang patanya condong
Dipukul ribut berhari-hari
Kucing berenang tikus berdayung
Ikan di laut berdiam diri
Tanam pinang di atas kubur
Tanam bayam jauh ke tepi
Walaupun musang sedang tidur
Mengira ayam di dalam mimpi
Anak bakau di rumpun salak
Patah taruknya ditimpa genta
Riuh kerbau tergelak-gelak
Melihat beruk berkaca mata
Orang menganyam sambil duduk
Kalau sudah bawa ke balai
Melihat ayam memakai tanduk
Datang musang meminta damai
Hilir lorong mudik lorong
Bertongkat batang temberau
Bukan saya berkata bohong
Katak memikul paha kerbau
Di kedai Yahya berjual surat
Di kedai kami berjual sisir
Sang buaya melompat ke darat
Melihat kambing terjun ke air
Jikalau lengang dalam negeri
Marilah kita pergi ke kota
Hairan tercengang kucing berdiri
Melihat tikus naik kereta
Senangis letak di timbangan
Pemulut kumbang pagi-pagi
Menangis katak di kubangan
Melihat belut terbang tinggi
Anak Hindu beli petola
Beli pangkur dua-dua
Mendengar kucing berbiola
Duduk termenung tikus tua
Punggur berdaun di atas kota
Jarak sejengkal dua jari
Musang rabun, helang pun buta
Baru ayam suka hati
Ketika perang dinegeri Jerman
Ramai askarnya mati mengamuk
Rangup gunung dikunyah kuman
Lautan kering dihirup nyamuk
Jual betik dengan kandil
Kandil buatan orang Inggeris
Melihat buaya menyandang bedil
Lembu dan kerbau tegak berbaris
Jemur bijan dengan kulitnya
Jemur di atas pohon lembayung
Hari hujan sangat lebatnya
Lamun Si Pandir mengepit payung
Elok rupa pohon belimbing
Tumbuh dekat limau lungga
Elok berbini orang sumbing
Walau marah ketawa juga
Rumah besar berdinding tidak
Beratapkan daun palas
Badan besar beristeri tidak
Itu tandanya orang pemalas
Adik nama Comat
Suka beri salam
Budak ketawa kuat
Suka kecing malam
Dari Ambun hendak ke Perak
Singgah di Jeram Mengkuang
Si Awang Kenit mencuri kerak
Hidung berbelang terpalit arang
Biduk lalu kiambang bertaut
Nakhoda Kasap duduk termenung
Gila latah ikan di laut
Melihat umpan di kaki gunung
Pakai seluar labuh ke bawah
Ikut permatang jalan melenggang
Nampak zahir memang mewah
Tapi hutang keliling pinggang
Orang Sibu menunggang kuda
Kuda ditunggang patah pinggang
Masih mahu mengaku muda
Padahal cucu keliling pinggang
Tahankan jerat gunakan tali
Pacak kuat biar melekap
Kalau bini suka membeli
Hutang berbaris suami ke lokap
Tuan puteri memasang panjut
Dayang tolong menghalau lalat
Kucing tidur bangkit terkejut
Melihat tikus pandai bersilat
Pantun Jenaka
Lebuhraya kota bersegi
Tempat temasya dara teruna
Hodohnya ketawa orang tak bergigi
Ibarat kota tiada kubunya
Api terang banyak kelkatu
Masuk ke kamar bersesak-sesak
Alangkah geli rasa hatiku
Melihat nenek bergincu berbedak
Ditiup angin bunga semalu
Kuncup daun bila berlaga
Bercakap Melayu kononnya malu
Belacan setongkol dibedal juga
Orang Rengat menanam betik
Betik disiram air berlinang
Hilang semangat penghulu itik
Melihat ayam lumba berenang
Tanam jerangau di bukit tinggi
Mati dipijak anak badak
Melihat sang bangau sakit gigi
Gelak terbahak penghulu katak
Singapura dilanggar todak
Kapal karam di Tanjung Peringin
Orang tua beristerikan budak
Macam beruk mendapat cermin
Bapa gergasi menebar jala
Pegang tali melintuk-liuk
Masakan pengerusi tak garu kepala
Melihat ahli semua mengantuk
Gemuruh tabuh bukan kepalang
Diasah lembing berkilat-kilat
Gementar tubuh harimau belang
Nampak kambing pandai bersilat
Buah salak di rumah Tok Imam
Sirih sekapur pergi menjala
Anjing menyalak harimau demam
Kucing di dapur pening kepala
Anak cina menggali cacing
Mari diisi dalam tempurung
Penjual sendiri tak kenal dacing
Alamat dagangan habis diborong
Biduk buluh bermuat tulang
Anak Siam pulang berbaris
Duduk mengeluh panglima helang
Melihat ayam bercengkang keris
Buah jering dari Jawa
Naik sigai ke atas atap
Ikan kering lagi ketawa
Dengar tupai baca kitab
Pohon manggis di tepi rawa
Tempat datuk tidur beradu
Sedang menangis nenek tertawa
Melihat datuk bermain gundu
Ceduk air di dalam perigi
Timbanya bertangkaikan suasa
Jikalau kucing tak bergigi
Alamat tikus berjoget berdansa
Anak dara Datuk Tinggi
Buat gulai ikan tilan
Datuk tua tak ada gigi
Bila makan kunyah telan
Berderak-derak sangkutan dacing
Bagaikan putus diimpit lumpang
Bergerak-gerak kumis kucing
Melihat tikus bawa senapang
Pokok pinang patanya condong
Dipukul ribut berhari-hari
Kucing berenang tikus berdayung
Ikan di laut berdiam diri
Tanam pinang di atas kubur
Tanam bayam jauh ke tepi
Walaupun musang sedang tidur
Mengira ayam di dalam mimpi
Anak bakau di rumpun salak
Patah taruknya ditimpa genta
Riuh kerbau tergelak-gelak
Melihat beruk berkaca mata
Orang menganyam sambil duduk
Kalau sudah bawa ke balai
Melihat ayam memakai tanduk
Datang musang meminta damai
Hilir lorong mudik lorong
Bertongkat batang temberau
Bukan saya berkata bohong
Katak memikul paha kerbau
Di kedai Yahya berjual surat
Di kedai kami berjual sisir
Sang buaya melompat ke darat
Melihat kambing terjun ke air
Jikalau lengang dalam negeri
Marilah kita pergi ke kota
Hairan tercengang kucing berdiri
Melihat tikus naik kereta
Senangis letak di timbangan
Pemulut kumbang pagi-pagi
Menangis katak di kubangan
Melihat belut terbang tinggi
Anak Hindu beli petola
Beli pangkur dua-dua
Mendengar kucing berbiola
Duduk termenung tikus tua
Punggur berdaun di atas kota
Jarak sejengkal dua jari
Musang rabun, helang pun buta
Baru ayam suka hati
Ketika perang dinegeri Jerman
Ramai askarnya mati mengamuk
Rangup gunung dikunyah kuman
Lautan kering dihirup nyamuk
Jual betik dengan kandil
Kandil buatan orang Inggeris
Melihat buaya menyandang bedil
Lembu dan kerbau tegak berbaris
Jemur bijan dengan kulitnya
Jemur di atas pohon lembayung
Hari hujan sangat lebatnya
Lamun Si Pandir mengepit payung
Elok rupa pohon belimbing
Tumbuh dekat limau lungga
Elok berbini orang sumbing
Walau marah ketawa juga
Rumah besar berdinding tidak
Beratapkan daun palas
Badan besar beristeri tidak
Itu tandanya orang pemalas
Adik nama Comat
Suka beri salam
Budak ketawa kuat
Suka kecing malam
Dari Ambun hendak ke Perak
Singgah di Jeram Mengkuang
Si Awang Kenit mencuri kerak
Hidung berbelang terpalit arang
Biduk lalu kiambang bertaut
Nakhoda Kasap duduk termenung
Gila latah ikan di laut
Melihat umpan di kaki gunung
Pakai seluar labuh ke bawah
Ikut permatang jalan melenggang
Nampak zahir memang mewah
Tapi hutang keliling pinggang
Orang Sibu menunggang kuda
Kuda ditunggang patah pinggang
Masih mahu mengaku muda
Padahal cucu keliling pinggang
Tahankan jerat gunakan tali
Pacak kuat biar melekap
Kalau bini suka membeli
Hutang berbaris suami ke lokap
Tuan puteri memasang panjut
Dayang tolong menghalau lalat
Kucing tidur bangkit terkejut
Melihat tikus pandai bersilat
Pantun Berkias
0 comments 6:20 PM Posted by __Internet For All__Labels: Pantun
Pantun Berkias
Anak tiung atas rambutan
Berbunyi bertongkat paruh
Berhenti kapal di lautan
Tiba angin berlayar jauh
Bukit Tinggi boleh didaki
Lurah dalam berkala-kala
Penat kaki boleh berhenti
Berat beban siapa membawa
Kampung Tengah kotanya landai
Permatang guntung ketinggian
Jangan lengah janjikan sampai
Untung-untung berkejadian
Pantun Berkias
Anak tiung atas rambutan
Berbunyi bertongkat paruh
Berhenti kapal di lautan
Tiba angin berlayar jauh
Bukit Tinggi boleh didaki
Lurah dalam berkala-kala
Penat kaki boleh berhenti
Berat beban siapa membawa
Kampung Tengah kotanya landai
Permatang guntung ketinggian
Jangan lengah janjikan sampai
Untung-untung berkejadian
Pantun Teka-Teki
0 comments 6:19 PM Posted by __Internet For All__Labels: Pantun
Pantun Teka-Teki
Kalau Tuan pergi ke kedai
Belikan saya buah keranji
Kalau tuan bijak pandai
Apa binatang keris di kaki?
Ada sebiji roda pedati
Bentuknya bulat daripada besi
Bila bermain diikat sekuat hati
Dilempar hidup dipegang mati?
Buah budi bedara mengkal
Masak sebiji di tepi pantai
Hilang budi bicara akal
Buah apa tidak bertangkai?
Burung nuri burung dara
Terbang ke sisi taman kayangan
Cubalah teka wahai saudara
Semakin diisi makin ringan?
Bunga orkid indah warnanya
Penyeri taman dan juga hutan
Ramai orang datang bertanya
Bintang apa hidup di lautan?
Pak Pung Pak Mustafa
Encik Dollah dirumahnya
Ada tepung ada kelapa
Gula Melaka jadi intinya
Kelip-kelip kusangka api
Kalau api mana asapnya?
Hilang ghaib disangkakan mati
Kalau mati mana kuburnya?
Budak-budak bermain batu
Batu dikira satu persatu
Badannya lurus bermata satu
Ekornya tajam apakah itu?
Jika tuan membeli tikar
Tikar anyaman dari mengkuang
Kalau Tuan bijak pintar
Ular apa membelit pinggang?
Masak tumis sambal petai
Makan kenyang sambil sendawa
Anda menziarah sahabat handai
Buah apakah yang akan dibawa?
Pokoknya bulat dan juga rendang
Masam dan hijau ketika muda
Buahnya berbentuk seperti bintang
Sudah masak, kuninglah ia
Belayar perahu dari Bentan
Menyusur tepi Selat Melaka
Lebar kepala dari badan
Apakah ikan cubalah teka?
Mak Minah menanak minyak
Kemenyan dibakar dengan setanggi
Dua peha beranak banyak
Untuk mendaki tempat yang tinggi?
Orang bekerja diberikan upah
Hidangan disaji dalam talam
Gajah putih ditengah rumah
Layar terkembang di waktu malam?
Gigi berduri tatah bersigai
Pembelah kayu ia berguna
Jika tuan orang yang pandai
Benda apakah makannya dua cara?
Jika ke kedai pergi berbelanja
Belikan saya sudu dan senduk
Jika pandai katakan ia
Semakin berisi semakin menunduk?
Kalau tuan pakai lencana
Pakailah songkok di atas kepala
Kalau Tuan bijak laksana
Binatang apakah tiada kepala?
Pisau lipat dimainnya kera
Tangannya luka lalu terjun
Makan kuat tidak terkira
Kenyangnya tidak tahi bertimbun?
Minah ketawa terjerit-jerit
Melihat koyak pada seluar
Orang putih duduk sederet
Pagar didalam tebing diluar?
Tuan puteri belajar menari
Tari diajar oleh Pak Harun
Kalau Tuan bijak bestari
Apa yang naik tak pernah turun?
Jawapan semua teka-teki di atas, sila lihat di bawah sekali.
——————————-
Teka-Teki dan Jawapan
Soalan:
Ulat daun tidur berembun
Di pohon kelapa setiap masa
Banyak daun perkara daun
Daun apakah dahan tiada?
Jawapan:
Banyak orang pergi ke dusun
Dusun kaya dengan buah-buahan
Banyak daun perkara daun
Daun terup tidak berdahan
—————————
Soalan:
Ada satu teka-teki
Pada tuan saya bilang bagi
Kalau tuan bijak sekali
Apa binatang tiada kaki?
Jawapan:
Jangan fikir aku budak-budak
Aku tahu kamu punya cabar
Di tengah padang terlengkak-lengkak
Yang tiada kaki binatang ular
———————————
Soalan:
Cendawan bulat ditepi paya
Bawa orang dari hulu
Banyak hairan di hati saya
Kecil dia segan,besar dia tak malu?
Jawapan:
Bawa orang dari hulu
Cendawan bulat tepi paya
Kecil segan, besar tak malu
Itulah nama kuntum bunga.
———————————-
Senarai Jawapan
Jawapan 1 : Ayam
Jawapan 2: Gasing
Jawapan 3: Buah Melaka
Jawapan 4 : Belon
Jawapan 5 : Tapak Sulaiman
Jawapan 6 : Buah Melaka
Jawapan 7 : Kilat
Jawapan 8: Jarum
Jawapan 9: Tali Pinggang
Jawapan 10: Buah Tangan
Jawapan 11: Belimbing
Jawapan 12: Ikan Pari
Jawapan 13: Tangga
Jawapan 14; Kelambu
Jawapan 15: Gergaji
Jawapan 16: Padi
Jawapan 17: Ketam
Jawapan 18: Api
Jawapan 19: Gigi
Jawapan 20: Umur
Pantun Teka-Teki
Kalau Tuan pergi ke kedai
Belikan saya buah keranji
Kalau tuan bijak pandai
Apa binatang keris di kaki?
Ada sebiji roda pedati
Bentuknya bulat daripada besi
Bila bermain diikat sekuat hati
Dilempar hidup dipegang mati?
Buah budi bedara mengkal
Masak sebiji di tepi pantai
Hilang budi bicara akal
Buah apa tidak bertangkai?
Burung nuri burung dara
Terbang ke sisi taman kayangan
Cubalah teka wahai saudara
Semakin diisi makin ringan?
Bunga orkid indah warnanya
Penyeri taman dan juga hutan
Ramai orang datang bertanya
Bintang apa hidup di lautan?
Pak Pung Pak Mustafa
Encik Dollah dirumahnya
Ada tepung ada kelapa
Gula Melaka jadi intinya
Kelip-kelip kusangka api
Kalau api mana asapnya?
Hilang ghaib disangkakan mati
Kalau mati mana kuburnya?
Budak-budak bermain batu
Batu dikira satu persatu
Badannya lurus bermata satu
Ekornya tajam apakah itu?
Jika tuan membeli tikar
Tikar anyaman dari mengkuang
Kalau Tuan bijak pintar
Ular apa membelit pinggang?
Masak tumis sambal petai
Makan kenyang sambil sendawa
Anda menziarah sahabat handai
Buah apakah yang akan dibawa?
Pokoknya bulat dan juga rendang
Masam dan hijau ketika muda
Buahnya berbentuk seperti bintang
Sudah masak, kuninglah ia
Belayar perahu dari Bentan
Menyusur tepi Selat Melaka
Lebar kepala dari badan
Apakah ikan cubalah teka?
Mak Minah menanak minyak
Kemenyan dibakar dengan setanggi
Dua peha beranak banyak
Untuk mendaki tempat yang tinggi?
Orang bekerja diberikan upah
Hidangan disaji dalam talam
Gajah putih ditengah rumah
Layar terkembang di waktu malam?
Gigi berduri tatah bersigai
Pembelah kayu ia berguna
Jika tuan orang yang pandai
Benda apakah makannya dua cara?
Jika ke kedai pergi berbelanja
Belikan saya sudu dan senduk
Jika pandai katakan ia
Semakin berisi semakin menunduk?
Kalau tuan pakai lencana
Pakailah songkok di atas kepala
Kalau Tuan bijak laksana
Binatang apakah tiada kepala?
Pisau lipat dimainnya kera
Tangannya luka lalu terjun
Makan kuat tidak terkira
Kenyangnya tidak tahi bertimbun?
Minah ketawa terjerit-jerit
Melihat koyak pada seluar
Orang putih duduk sederet
Pagar didalam tebing diluar?
Tuan puteri belajar menari
Tari diajar oleh Pak Harun
Kalau Tuan bijak bestari
Apa yang naik tak pernah turun?
Jawapan semua teka-teki di atas, sila lihat di bawah sekali.
——————————-
Teka-Teki dan Jawapan
Soalan:
Ulat daun tidur berembun
Di pohon kelapa setiap masa
Banyak daun perkara daun
Daun apakah dahan tiada?
Jawapan:
Banyak orang pergi ke dusun
Dusun kaya dengan buah-buahan
Banyak daun perkara daun
Daun terup tidak berdahan
—————————
Soalan:
Ada satu teka-teki
Pada tuan saya bilang bagi
Kalau tuan bijak sekali
Apa binatang tiada kaki?
Jawapan:
Jangan fikir aku budak-budak
Aku tahu kamu punya cabar
Di tengah padang terlengkak-lengkak
Yang tiada kaki binatang ular
———————————
Soalan:
Cendawan bulat ditepi paya
Bawa orang dari hulu
Banyak hairan di hati saya
Kecil dia segan,besar dia tak malu?
Jawapan:
Bawa orang dari hulu
Cendawan bulat tepi paya
Kecil segan, besar tak malu
Itulah nama kuntum bunga.
———————————-
Senarai Jawapan
Jawapan 1 : Ayam
Jawapan 2: Gasing
Jawapan 3: Buah Melaka
Jawapan 4 : Belon
Jawapan 5 : Tapak Sulaiman
Jawapan 6 : Buah Melaka
Jawapan 7 : Kilat
Jawapan 8: Jarum
Jawapan 9: Tali Pinggang
Jawapan 10: Buah Tangan
Jawapan 11: Belimbing
Jawapan 12: Ikan Pari
Jawapan 13: Tangga
Jawapan 14; Kelambu
Jawapan 15: Gergaji
Jawapan 16: Padi
Jawapan 17: Ketam
Jawapan 18: Api
Jawapan 19: Gigi
Jawapan 20: Umur
Pantun Kekecewaan
0 comments 6:19 PM Posted by __Internet For All__Labels: Pantun
Pantun Kekecewaan
Pisau raut hilang di rimba
Pakaian anak raja di Juddah
Karam di laut boleh ditimba
Karam di hati bilakah sudah?
Buah berangan masaknya merah
Kelekati dalam perahu
Luka di tangan nampak berdarah
Luka di hati siapa tahu?
Banyaklah orang menanam pulut
Saya seorang menanam padi
Banyaklah orang karam di laut
Saya seorang karam di hati
Anak punai anak merbah
Hinggap ditonggak mencari sarang
Anak sungai lagikan berubah
Inikan pula hati orang
Apa diharap padi seberang
Entahkan jadi entahkan tidak
Apa diharap kasihnya orang
Entahkan jadi entahkan tidak
Entahkan jadi entahkan tidak
Entah dimakan pipit melayang
Entahkan jadi entahkan tidak
Entah sudahkan milik orang
Cahaya bulan diliput awan
Dipuput bayu awan berlalu
Hasrat hatiku padamu tuan
Malang diriku tuan tak tahu
Dari Arab turun ke Aceh
Naik ke Jawa berkebun serai
Apa diharap pada yang kasih
Badan dan nyawa lagi bercerai
Selasih di Teluk Dalam
Datang kapas Lubuk Tempurung
Saya umpama si burung balam
Mata terlepas badan terkurung
Chau Pandan, anak Bubunnya
Hendak menyerang kota Melaka
Ada cincin berisi bunga
Bunga berladung si air mata
Anak buaya terenang-renang
Anak kunci dalam perahu
Hanya saya terkenang-kenang
Orang benci saya tak tahu
Masuk hutan berburu musang
Musang mati dijerat orang
Macam mana hati tak bimbang
Ayam di sangkar disambar helang
Sakit menebang kayu berlubang
Kayu hidup dimakan api
Sakit menumpang kasih orang
Daripada hidup baiklah mati
Asal kapas menjadi benang
Dari benang dibuat kain
Barang lepas usah dikenang
Sudah menjadi hak yang lain
Apa guna pasang pelita
Jika tidak dengan sumbunya
Apa guna bermain mata
Kalau tidak dengan sungguhnya
Biji saga nampaklah merah
Bawa segenggam pergi ke kota
Hati kecewa amatlah parah
Tidur bertilam si air mata
Dari Jawa ke Bengkahulu
Membeli keris di Inderagiri
Kawan ketawa ramai selalu
Kawan menangis seorang diri
Kusangka nanas di tengah padang
Rupanya pandan yang berduri
Kusangka panas hingga ke petang
Rupanya hujan di tengah hari
Akar nibung meresap-resap
Akar mati dalam perahu
Terbakar kampung nampak berasap
Terbakar hati siapa yang tahu
Orang Aceh sedang sembahyang
Hari Jumaat tengah hari
Pergilah kasih pergilah sayang
Pandai-pandailah menjaga diri
Seri Mersing lagulah lama
Lagu dikarang biduan dahulu
Hatiku runsing gundah gulana
Dimana tempat hendak mengadu?
Sri Mersing lagulah melayu
Dikaranglah oleh biduan dahulu
Hatiku runsing bertambah pilu
Mengenangkan nasib yatim piatu
Apa diharap kepada tudung
Tudung saji terendak Bentan
Apa diharap kepada untung
Untung nasib permintaan badan
Penatlah saya menanam padi
Nenas juga ditanam orang
Penatlah saya menanam budi
Emas juga dipandang orang
Sirih kuning di batang pauh
Sayang beluluk beruang-ruang
Putih kuning carilah jodoh
Saya buruk biar terbuang
Padi jangan dicampur antah
Melukut tinggal sekam melayang
Hatiku jangan diberi patah
Meskipun saya dagang terbuang
Kayu cendana di atas batu
Sudah diikat dibawa pulang
Adat di dunia memang begitu
Benda buruk tidak dipandang
Payang retak tali bersimpul
Kendi lokan airnya tumpah
Hidup tidak kerana kaul
Mati bukan kerana sumpah
Anak ayam turun satu
Mati seekor habis hilang
Tiada untung modal tak tentu
Perahu tersadai di atas galang
Pukul gendang tiup nafiri
Anak Keling mandi minyak
Saya umpama rumput di bumi
Rendah sekali pada yang banyak
Orang Jawa pulang ke Jawa
Membawa pulang tiang bersambung
Badan terletak putuslah nyawa
Nyawa tidak dapat dihubung
Sarawak sungainya sempit
Buah nenas lambung-lambungan
Hendak kubawa perahunya sempit
Tinggal emas tinggal junjungan
Pecah belah batu di gunung
Seri dewa berjalan malam
Ya Allah, tidak tertanggung
Rasa tidak dikandung alam
Tidak salah bunga lembayung
Salahnya pandan menderita
Tidak salah ibu mengandung
Salahnya badan buruk pinta
Kalau begini tarah papan
Ke barat juga kan condongnya
Kalau begini untung badan
Melarat juga kesudahannya
Hujan turun badan pun basah
Patah galah haluan perahu
Niat dihati tak mahu berpisah
Kehendak Allah siapa yang tahu?
Nyiur muda luruh setandan
Diambil sebiji lalu dibelah
Sudah nasib permintaan badan
Kita dibawah kehendak Allah
Tuan puteri tersadung batu
Ambil ubat di atas para
Alangkah sedih cinta tak restu
Jiwa merana hati sengsara
Pantun Kekecewaan
Pisau raut hilang di rimba
Pakaian anak raja di Juddah
Karam di laut boleh ditimba
Karam di hati bilakah sudah?
Buah berangan masaknya merah
Kelekati dalam perahu
Luka di tangan nampak berdarah
Luka di hati siapa tahu?
Banyaklah orang menanam pulut
Saya seorang menanam padi
Banyaklah orang karam di laut
Saya seorang karam di hati
Anak punai anak merbah
Hinggap ditonggak mencari sarang
Anak sungai lagikan berubah
Inikan pula hati orang
Apa diharap padi seberang
Entahkan jadi entahkan tidak
Apa diharap kasihnya orang
Entahkan jadi entahkan tidak
Entahkan jadi entahkan tidak
Entah dimakan pipit melayang
Entahkan jadi entahkan tidak
Entah sudahkan milik orang
Cahaya bulan diliput awan
Dipuput bayu awan berlalu
Hasrat hatiku padamu tuan
Malang diriku tuan tak tahu
Dari Arab turun ke Aceh
Naik ke Jawa berkebun serai
Apa diharap pada yang kasih
Badan dan nyawa lagi bercerai
Selasih di Teluk Dalam
Datang kapas Lubuk Tempurung
Saya umpama si burung balam
Mata terlepas badan terkurung
Chau Pandan, anak Bubunnya
Hendak menyerang kota Melaka
Ada cincin berisi bunga
Bunga berladung si air mata
Anak buaya terenang-renang
Anak kunci dalam perahu
Hanya saya terkenang-kenang
Orang benci saya tak tahu
Masuk hutan berburu musang
Musang mati dijerat orang
Macam mana hati tak bimbang
Ayam di sangkar disambar helang
Sakit menebang kayu berlubang
Kayu hidup dimakan api
Sakit menumpang kasih orang
Daripada hidup baiklah mati
Asal kapas menjadi benang
Dari benang dibuat kain
Barang lepas usah dikenang
Sudah menjadi hak yang lain
Apa guna pasang pelita
Jika tidak dengan sumbunya
Apa guna bermain mata
Kalau tidak dengan sungguhnya
Biji saga nampaklah merah
Bawa segenggam pergi ke kota
Hati kecewa amatlah parah
Tidur bertilam si air mata
Dari Jawa ke Bengkahulu
Membeli keris di Inderagiri
Kawan ketawa ramai selalu
Kawan menangis seorang diri
Kusangka nanas di tengah padang
Rupanya pandan yang berduri
Kusangka panas hingga ke petang
Rupanya hujan di tengah hari
Akar nibung meresap-resap
Akar mati dalam perahu
Terbakar kampung nampak berasap
Terbakar hati siapa yang tahu
Orang Aceh sedang sembahyang
Hari Jumaat tengah hari
Pergilah kasih pergilah sayang
Pandai-pandailah menjaga diri
Seri Mersing lagulah lama
Lagu dikarang biduan dahulu
Hatiku runsing gundah gulana
Dimana tempat hendak mengadu?
Sri Mersing lagulah melayu
Dikaranglah oleh biduan dahulu
Hatiku runsing bertambah pilu
Mengenangkan nasib yatim piatu
Apa diharap kepada tudung
Tudung saji terendak Bentan
Apa diharap kepada untung
Untung nasib permintaan badan
Penatlah saya menanam padi
Nenas juga ditanam orang
Penatlah saya menanam budi
Emas juga dipandang orang
Sirih kuning di batang pauh
Sayang beluluk beruang-ruang
Putih kuning carilah jodoh
Saya buruk biar terbuang
Padi jangan dicampur antah
Melukut tinggal sekam melayang
Hatiku jangan diberi patah
Meskipun saya dagang terbuang
Kayu cendana di atas batu
Sudah diikat dibawa pulang
Adat di dunia memang begitu
Benda buruk tidak dipandang
Payang retak tali bersimpul
Kendi lokan airnya tumpah
Hidup tidak kerana kaul
Mati bukan kerana sumpah
Anak ayam turun satu
Mati seekor habis hilang
Tiada untung modal tak tentu
Perahu tersadai di atas galang
Pukul gendang tiup nafiri
Anak Keling mandi minyak
Saya umpama rumput di bumi
Rendah sekali pada yang banyak
Orang Jawa pulang ke Jawa
Membawa pulang tiang bersambung
Badan terletak putuslah nyawa
Nyawa tidak dapat dihubung
Sarawak sungainya sempit
Buah nenas lambung-lambungan
Hendak kubawa perahunya sempit
Tinggal emas tinggal junjungan
Pecah belah batu di gunung
Seri dewa berjalan malam
Ya Allah, tidak tertanggung
Rasa tidak dikandung alam
Tidak salah bunga lembayung
Salahnya pandan menderita
Tidak salah ibu mengandung
Salahnya badan buruk pinta
Kalau begini tarah papan
Ke barat juga kan condongnya
Kalau begini untung badan
Melarat juga kesudahannya
Hujan turun badan pun basah
Patah galah haluan perahu
Niat dihati tak mahu berpisah
Kehendak Allah siapa yang tahu?
Nyiur muda luruh setandan
Diambil sebiji lalu dibelah
Sudah nasib permintaan badan
Kita dibawah kehendak Allah
Tuan puteri tersadung batu
Ambil ubat di atas para
Alangkah sedih cinta tak restu
Jiwa merana hati sengsara
Pantun Budi
0 comments 6:18 PM Posted by __Internet For All__Labels: Pantun
Pantun Budi
Dari Daik pulang ke Daik
Sehari-hari berkebun pisang
Budi baik dibalas baik
Dalam hati dikenang orang
Tanam lenggun tumbuh kelapa
Terbit bunga pucuk mati
Budi tuan saya tak lupa
Sudah terpaku di dalam hati
Tenang-tenang air laut
Sampan kolek mudik ke tanjung
Hati terkenang mulut menyebut
Budi baik rasa nak junjung
Kapal belayar dari Arakan
Ambil gaji jadi jemudi
Mati ikan kerana umpan
Mati saya kerana budi
Banyak ubi perkara ubi
Ubi keledek ditanam orang
Banyak budi perkara budi
Budi baik dikenang orang
Lipat kain lipat baju
Lipat kertas dalam puan
Dari air menjadi batu
Sedikit tak lupa budi tuan
Jentayu burung jentayu
Hinggap di balik pokok mayang
Bunga kembang akan layu
Budi baik bilakan hilang
Jika belayar ke tanah Aceh
Singgah dulu di kota Deli
Jika hendak orang mengasih
Hendaklah baik bicara budi
Bunga melati bunga di darat
Bunga seroja di tepi kali
Hina besi kerana karat
Hina manusia tidak berbudi
Dewa sakti melayang ke Daik
Hendak mencari Dewa Jaruga
Kalau ada budi yang baik
Sampai ke mati orang tak lupa
Baik-baik bertanam padi
Jangan sampai dimakan rusa
Baik-baik termakan budi
Jangan sampai badan binasa
Tingkap papan kayu bersegi
Sampan sakat di Pulau Angsa
Indah tampan kerana budi
Tinggi darjat kerana bahasa
Pulau Pandan jauh ke tengah
Gunung Daik bercabang tiga
Hancur badan dikandung tanah
Budi yang baik di kenang juga
Pergi ke sawah menanam padi
Singgah disungai menangkap ikan
Hidup hendaklah bersendikan budi
Sifat sombong jangan amalkan
Apa guna berkain batik
Kalau tidak dengan sucinya?
Apa guna beristeri cantik
Kalau tidak dengan budinya
Bunga melati bunga di darat
Bunga seroja di tepi kali
Hina besi kerana karat
Hina manusia tidak berbudi
Pisang emas dibawa belayar
Masak sebiji di atas peti
Hutang emas boleh dibayar
Hutang budi dibayar mati
Anak merak Kampung Cina
Singgah berhenti kepala titi
Emas perak kebesaran dunia
Budi bahasa tak dapat dicari
Anak angsa mati lemas
Mati lemas di air masin
Hilang bahasa kerana emas
Hilang budi kerana miskin
Yang kurik tu kundi
Yang merah saga
Yang baik itu budi
Yang indah itu bahasa
Limau manis dimakan manis
Manis sekali rasa isinya
Dilihat manis dipandang manis
Manis sekali hati budinya
Cuaca gelap semakin redup
Masakan boleh kembali terang
Budi bahasa amalan hidup
Barulah kekal dihormati orang
Singgah di pasar mencari kari
Jangan ikut budaya samseng
Kelak menyesal di kemudian hari
Pantun Budi
Dari Daik pulang ke Daik
Sehari-hari berkebun pisang
Budi baik dibalas baik
Dalam hati dikenang orang
Tanam lenggun tumbuh kelapa
Terbit bunga pucuk mati
Budi tuan saya tak lupa
Sudah terpaku di dalam hati
Tenang-tenang air laut
Sampan kolek mudik ke tanjung
Hati terkenang mulut menyebut
Budi baik rasa nak junjung
Kapal belayar dari Arakan
Ambil gaji jadi jemudi
Mati ikan kerana umpan
Mati saya kerana budi
Banyak ubi perkara ubi
Ubi keledek ditanam orang
Banyak budi perkara budi
Budi baik dikenang orang
Lipat kain lipat baju
Lipat kertas dalam puan
Dari air menjadi batu
Sedikit tak lupa budi tuan
Jentayu burung jentayu
Hinggap di balik pokok mayang
Bunga kembang akan layu
Budi baik bilakan hilang
Jika belayar ke tanah Aceh
Singgah dulu di kota Deli
Jika hendak orang mengasih
Hendaklah baik bicara budi
Bunga melati bunga di darat
Bunga seroja di tepi kali
Hina besi kerana karat
Hina manusia tidak berbudi
Dewa sakti melayang ke Daik
Hendak mencari Dewa Jaruga
Kalau ada budi yang baik
Sampai ke mati orang tak lupa
Baik-baik bertanam padi
Jangan sampai dimakan rusa
Baik-baik termakan budi
Jangan sampai badan binasa
Tingkap papan kayu bersegi
Sampan sakat di Pulau Angsa
Indah tampan kerana budi
Tinggi darjat kerana bahasa
Pulau Pandan jauh ke tengah
Gunung Daik bercabang tiga
Hancur badan dikandung tanah
Budi yang baik di kenang juga
Pergi ke sawah menanam padi
Singgah disungai menangkap ikan
Hidup hendaklah bersendikan budi
Sifat sombong jangan amalkan
Apa guna berkain batik
Kalau tidak dengan sucinya?
Apa guna beristeri cantik
Kalau tidak dengan budinya
Bunga melati bunga di darat
Bunga seroja di tepi kali
Hina besi kerana karat
Hina manusia tidak berbudi
Pisang emas dibawa belayar
Masak sebiji di atas peti
Hutang emas boleh dibayar
Hutang budi dibayar mati
Anak merak Kampung Cina
Singgah berhenti kepala titi
Emas perak kebesaran dunia
Budi bahasa tak dapat dicari
Anak angsa mati lemas
Mati lemas di air masin
Hilang bahasa kerana emas
Hilang budi kerana miskin
Yang kurik tu kundi
Yang merah saga
Yang baik itu budi
Yang indah itu bahasa
Limau manis dimakan manis
Manis sekali rasa isinya
Dilihat manis dipandang manis
Manis sekali hati budinya
Cuaca gelap semakin redup
Masakan boleh kembali terang
Budi bahasa amalan hidup
Barulah kekal dihormati orang
Singgah di pasar mencari kari
Jangan ikut budaya samseng
Kelak menyesal di kemudian hari
Pantun Berkasih
0 comments 6:16 PM Posted by __Internet For All__Labels: Pantun
Pantun Berkasih
Nasi lemak buah bidara
Sayang selasih hamba lurutkan
Hilang emak hilang saudara
Kerana kasih hamba turutkan
Pasir putih di pinggir kali
Pekan menyabung ayam berlaga
Kasih tak boleh dijual beli
Bukannya benda buat berniaga
Petik sayur si daun maman
Makan berulam daun pegaga
Habis tahun berganti zaman
Kasih adinda kunanti jua
Hijau nampaknya Bukit Barisan
Puncak Tanggamus dengan Singgalang
Terbang nyawa dari badan
Kasih di hati takkan hilang
Indra Giri pasirnya lumat
Kerang bercampur dengan lokan
Ibarat Nabi kasihkan umat
Begitu saya kasihkan tuan
Bunga Melati terapung-apung
Bunga rampai di dalam puan
Rindu hati tidak tertanggung
Bilakah dapat berjumpa tuan?
Burung merbuk membuat sarang
Anak enggang meniti di paya
Tembaga buruk di mata orang
Intan berkarang di hati saya
Kalau roboh kota Melaka
Sayang selasih di dalam puan
Kalau sungguh bagai dikata
Rasa nak mati di pangkuan tuan
Kalau roboh Kota Melaka
Papan di Jawa saya dirikan
Kalau sungguh bagai dikata
Badan nyawa saya serahkan
Anak campuran Cina-Melaka
Pulang ke rumah di Bukit Pekan
Andai kena dengan cara
Nyawa dan badan saya berikan
Anak ruan tidak terluang
Benang sutera di dalam buluh
Hendak buang tidak terbuang
Sudah mesra di dalam tubuh
Tumbuk padi jadikan emping
Buat juadah teman sebaya
Pipit hendak bertenggek ke ranting
Sudikah enggang bertenggek sama?
Kain cindai dilipat-lipat
Lipat mari tepi perigi
Kalau pandai Tuan memikat
Burung terbang menyerah diri
Kiri jalan kanan pun jalan
Sama tengah pokok mengkudu
Kirim jangan pesan pun jangan
Sama-sama menanggung rindu
Pucuk pauh batangnya pauh
Di tengah-tengah pokok mengkudu
Adinda jauh kekanda pun jauh
Sama-sama menanggung rindu
Buah jambu disangka kandis
Kandis ada di dalam cawan
Gula madu disangka manis
Manis lagi senyuman Tuan
Sayang Musalmah pergi ke taman
Hendak memetik sekuntum bunga
Sudah ada dalam genggaman
Bilakah dapat hidup bersama?
Anak haruan berlima-lima
Mati ditimpa ponggor berdaun
Kasih cik adik saya terima
Menjadi hutang beribu tahun
Sayang Laksamana mati dibunuh
Mati dibunuh Datuk Menteri
Tuan umpama minyak yang penuh
Sedikit tidak tertumpah lagi
Sayang pelanduk di luar pagar
Mati ditembak patah kakinya
Tujuh tahun gunung terbakar
Baru sekarang nampak apinya
Batang selasih permainan budak
Daun sehelai dimakan kuda
Bercerai kasih bertalak tidak
Seribu tahun kembali juga
Harum baunya si bunga Tanjung
Harumnya sampai puncak gunung
Tuan umpama sekaki payung
Hujan panas tempat berlindung
Tajam kapak dari beliung
Hendak menebang kayu berduri
Tuan laksana kemuncak payung
Saya di bawah menyerah diri
Hujan panas turun berderai
Guruh menyambar pohon jati
Kasih sayang tak boleh bercerai
Bagaikan rambut bersimpul mati
Hilir berderap mudik berderap
Patah galah di dalam perahu
Tuan laksana si bunga Dedap
Cantik merah tidak berbau
Orang berhuma di Pulau Balangan
Asap apinya tabun-menabun
Tuan laksana bunga kayangan
Kuntum Kasturi tangkainya embun
Kalau Tuan pergi ke Jambi
Ambil air Cik Tahir jurubatunya
Kalau Tuan hendakkan kami
Bakar air ambil abunya
Beli cempedak dari Juana
Mari dibelah di atas tudung
Jika berhajat menyunting bunga
Jumpa wali di atas gunung
Buah jering di atas para
Diambil budak bawa berlari
Kering laut tanah Melaka
Baru saya mungkirkan janji
Buih kuini jatuh tercampak
Jatuh menimpa bunga selasih
Biar bertahun dilambung ombak
Tidakku lupa pada yang kasih
Tebang gelam tebang kenanga
Batang tumbang menimpa gadung
Kumbang mengidam nak seri bunga
Bunga kembang di puncak gunung
Limau purut lebat di pangkal
Batang selasih condong uratnya
Hujan ribut dapat ditangkal
Hati kasih apa ubatnya?
Layang-layang terbang melayang
Jatuh ke laut disambar jerung
Siapa bilang saya tak sayang?
Kalau bunga rasa nak kendong
Layang layang terbang melayang
Jatuh di laut melayang layang
Siapa bilang saya tak sayang?
Siang malam terbayang bayang
Layang-layang disambar nuri
Madu kelapa dalam tempayan
Lagi tak hilang bukit Puteri
Tidak kulupa kasihmu Tuan
Langit cerah awan membiru
Dinihari embun pun jatuh
Sakit sungguh menanggung rindu
Di dalam air badan berpeluh
Indah nian bulan mengambang
Keliling pula bintang bercahaya
Wajah tuan bila ku pandang
Bagai melihat pintunya syurga
Ikan belanak di tengah muara
Daun suji di dalam puan
Tiada sanak tiada saudara
Kalau sudi terimalah Tuan
Dua tiga kucing berlari
Manakan sama si kucing belang
Dua tiga boleh kucari
Manakan sama abang seorang
Anak beruk di kayu rendang
Turun mandi di dalam paya
Huduh buruk di mata orang
Cantik manis di mata saya
Tinggi tinggi mata hari
Anak kerbau mati tertambat
Sudah lama saya mencari
Baru sekarang saya mendapat
Pucuk pauh delima batu
Anak sembilang ditapak tangan
Biar jauh beribu batu
Jauh di mata di hati jangan
Surat ku layang untuk berkata
Penyampai hasrat kata di hati
Kalaulah sungguh kasihkan saya
Jangan dibuang sampai ke mati
Kedondong batang sumpitan
Batang padi saya lurutkan
Tujuh gunung sembilan lautan
Kalau tak mati saya turutkan
Burung terbang menarik rotan
Lalu hinggap di kayu Jati
Tujuh gunung tujuh lautan
Belum dapat belum berhenti
Ke Teluk sudah ke Siam sudah
Ke Mekah saja aku yang belum
Kupeluk sudah kucium sudah
Bernikah saja aku yang belum
Di Tanjung Katung airnya biru
Disitulah tempat mencuci mata
Duduk sekampung lagikan rindu
Inikan pula jauh dimata
Laju-laju perahu laju
Lajunya sampai ke Surabaya
Lupa kain lupakan baju
Tetapi jangan lupakan saya
Kalau menyanyi perlahan-lahan
Dibawa angin terdengar jauh
Kalau hati tidak tertahan
Di dalam air badan berpeluh
Bunga Cina jambangan Cina
Bungkus inai dalam kertas
Sungguh saya bena tak bena
Di dalam hati haram tak lepas
Bunga rampai di dalam puan
Buluh perindu di atas gunung
Adakah sampai kepadamu tuan?
Rindu kekanda tidak tertangung
Ayam disabung jantan dipaut
Jika ditambat kalah laganya
Asam di darat ikan di laut
Dalam belanga bertemu jua
Angin Barat dari gunung
Berhembus lembut terlalu nyaman
Baru kelibat adik menyongsong
Kembali segar semangat di badan
Orang mengail ikan cencaru
Dapat ikan bawa ke jeti
Kalau tuan kata begitu
Barulah senang di dalam hati
Ribu-ribu pokok mengkudu
Cincin permata jatuh ke ruang
Kalau rindu sebut namaku
Airmata jangan dibuang
Dari mana punai melayang
Dari sawah turun ke padi
Dari mana datangnya sayang?
Dari mata turun ke hati
Berkurun lama pergi menjauh
Wajah kulihat di dalam mimpi
Kalau dah kasih sesama sungguh
Kering lautan tetap ku nanti
Anak buaya anak memerang
Anak biawak luka kepala
Badan merantau sakit dan senang
Pada adinda sedikit tak lupa
Kukutip bunga buat karangan
Karangan diletak di atas peti
Ingin ku sunting bunga di jambangan
Buat penyeri di taman hati
Sekapur sirih seulas pinang
Ada berkunjung budaya Melayu
Terjunjung kasih tersimpul sayang
Terikat terkurung kasih nan satu
Burung merpati terbang melayang
Singgah sebentar dipohon meranti
Rindu hatiku bukan kepalang
Wajahmu tuan termimpi-mimpi
Malam ini malam Jumaat
Pasang dian kepala titi
Tepuk bantal panggil semangat
Semangat datang di dalam mimpi
Hilang sepi diraut wajah
Usah terlerai nilainya budi
Setia janji takkan berubah
Kasih tersemai tetap abadi
Kalau tidak kelapa puan
Tidak puan kelapa bali
Kalau tidak pada tuan
Tidak tuan siapa lagi?
Pohon sena cabangnya empat
Mari tebang waktu pagi
Kalau kena dengan makrifat
Burung terbang menyerah diri
Gunung tinggi dilitupi awan
Berteduh langit malam dan siang
Bila adik mengirimkan pesan
Hancur seluruh sendi abang
Air pasang limpah ke pasar
Tanam pinang kelapa mati
Di manalah tuan belajar
Pandai mencari isyarat hati?
Tajam tubuh si buah gading
Hendaklah ikat bersama tali
Hancur luluh tulang dan daging
Namun kulupa tidak sekali
Hujan turun badan pun basah
Patah galah haluan perahu
Niat dihati tak mahu berpisah
Kehendak Allah siapa yang tahu?
Fikir memikir sama lawak
Jangan dibawa ke Tanjung Jati
Sindir menyindir sesama awak
Jangan dibawa masuk ke hati
Tuan puteri meminta cawan
Untuk diisi air kelapa
Amat tulus kasihmu Tuan
Sampai ke mati adinda tak lupa
Pantun Berkasih
Nasi lemak buah bidara
Sayang selasih hamba lurutkan
Hilang emak hilang saudara
Kerana kasih hamba turutkan
Pasir putih di pinggir kali
Pekan menyabung ayam berlaga
Kasih tak boleh dijual beli
Bukannya benda buat berniaga
Petik sayur si daun maman
Makan berulam daun pegaga
Habis tahun berganti zaman
Kasih adinda kunanti jua
Hijau nampaknya Bukit Barisan
Puncak Tanggamus dengan Singgalang
Terbang nyawa dari badan
Kasih di hati takkan hilang
Indra Giri pasirnya lumat
Kerang bercampur dengan lokan
Ibarat Nabi kasihkan umat
Begitu saya kasihkan tuan
Bunga Melati terapung-apung
Bunga rampai di dalam puan
Rindu hati tidak tertanggung
Bilakah dapat berjumpa tuan?
Burung merbuk membuat sarang
Anak enggang meniti di paya
Tembaga buruk di mata orang
Intan berkarang di hati saya
Kalau roboh kota Melaka
Sayang selasih di dalam puan
Kalau sungguh bagai dikata
Rasa nak mati di pangkuan tuan
Kalau roboh Kota Melaka
Papan di Jawa saya dirikan
Kalau sungguh bagai dikata
Badan nyawa saya serahkan
Anak campuran Cina-Melaka
Pulang ke rumah di Bukit Pekan
Andai kena dengan cara
Nyawa dan badan saya berikan
Anak ruan tidak terluang
Benang sutera di dalam buluh
Hendak buang tidak terbuang
Sudah mesra di dalam tubuh
Tumbuk padi jadikan emping
Buat juadah teman sebaya
Pipit hendak bertenggek ke ranting
Sudikah enggang bertenggek sama?
Kain cindai dilipat-lipat
Lipat mari tepi perigi
Kalau pandai Tuan memikat
Burung terbang menyerah diri
Kiri jalan kanan pun jalan
Sama tengah pokok mengkudu
Kirim jangan pesan pun jangan
Sama-sama menanggung rindu
Pucuk pauh batangnya pauh
Di tengah-tengah pokok mengkudu
Adinda jauh kekanda pun jauh
Sama-sama menanggung rindu
Buah jambu disangka kandis
Kandis ada di dalam cawan
Gula madu disangka manis
Manis lagi senyuman Tuan
Sayang Musalmah pergi ke taman
Hendak memetik sekuntum bunga
Sudah ada dalam genggaman
Bilakah dapat hidup bersama?
Anak haruan berlima-lima
Mati ditimpa ponggor berdaun
Kasih cik adik saya terima
Menjadi hutang beribu tahun
Sayang Laksamana mati dibunuh
Mati dibunuh Datuk Menteri
Tuan umpama minyak yang penuh
Sedikit tidak tertumpah lagi
Sayang pelanduk di luar pagar
Mati ditembak patah kakinya
Tujuh tahun gunung terbakar
Baru sekarang nampak apinya
Batang selasih permainan budak
Daun sehelai dimakan kuda
Bercerai kasih bertalak tidak
Seribu tahun kembali juga
Harum baunya si bunga Tanjung
Harumnya sampai puncak gunung
Tuan umpama sekaki payung
Hujan panas tempat berlindung
Tajam kapak dari beliung
Hendak menebang kayu berduri
Tuan laksana kemuncak payung
Saya di bawah menyerah diri
Hujan panas turun berderai
Guruh menyambar pohon jati
Kasih sayang tak boleh bercerai
Bagaikan rambut bersimpul mati
Hilir berderap mudik berderap
Patah galah di dalam perahu
Tuan laksana si bunga Dedap
Cantik merah tidak berbau
Orang berhuma di Pulau Balangan
Asap apinya tabun-menabun
Tuan laksana bunga kayangan
Kuntum Kasturi tangkainya embun
Kalau Tuan pergi ke Jambi
Ambil air Cik Tahir jurubatunya
Kalau Tuan hendakkan kami
Bakar air ambil abunya
Beli cempedak dari Juana
Mari dibelah di atas tudung
Jika berhajat menyunting bunga
Jumpa wali di atas gunung
Buah jering di atas para
Diambil budak bawa berlari
Kering laut tanah Melaka
Baru saya mungkirkan janji
Buih kuini jatuh tercampak
Jatuh menimpa bunga selasih
Biar bertahun dilambung ombak
Tidakku lupa pada yang kasih
Tebang gelam tebang kenanga
Batang tumbang menimpa gadung
Kumbang mengidam nak seri bunga
Bunga kembang di puncak gunung
Limau purut lebat di pangkal
Batang selasih condong uratnya
Hujan ribut dapat ditangkal
Hati kasih apa ubatnya?
Layang-layang terbang melayang
Jatuh ke laut disambar jerung
Siapa bilang saya tak sayang?
Kalau bunga rasa nak kendong
Layang layang terbang melayang
Jatuh di laut melayang layang
Siapa bilang saya tak sayang?
Siang malam terbayang bayang
Layang-layang disambar nuri
Madu kelapa dalam tempayan
Lagi tak hilang bukit Puteri
Tidak kulupa kasihmu Tuan
Langit cerah awan membiru
Dinihari embun pun jatuh
Sakit sungguh menanggung rindu
Di dalam air badan berpeluh
Indah nian bulan mengambang
Keliling pula bintang bercahaya
Wajah tuan bila ku pandang
Bagai melihat pintunya syurga
Ikan belanak di tengah muara
Daun suji di dalam puan
Tiada sanak tiada saudara
Kalau sudi terimalah Tuan
Dua tiga kucing berlari
Manakan sama si kucing belang
Dua tiga boleh kucari
Manakan sama abang seorang
Anak beruk di kayu rendang
Turun mandi di dalam paya
Huduh buruk di mata orang
Cantik manis di mata saya
Tinggi tinggi mata hari
Anak kerbau mati tertambat
Sudah lama saya mencari
Baru sekarang saya mendapat
Pucuk pauh delima batu
Anak sembilang ditapak tangan
Biar jauh beribu batu
Jauh di mata di hati jangan
Surat ku layang untuk berkata
Penyampai hasrat kata di hati
Kalaulah sungguh kasihkan saya
Jangan dibuang sampai ke mati
Kedondong batang sumpitan
Batang padi saya lurutkan
Tujuh gunung sembilan lautan
Kalau tak mati saya turutkan
Burung terbang menarik rotan
Lalu hinggap di kayu Jati
Tujuh gunung tujuh lautan
Belum dapat belum berhenti
Ke Teluk sudah ke Siam sudah
Ke Mekah saja aku yang belum
Kupeluk sudah kucium sudah
Bernikah saja aku yang belum
Di Tanjung Katung airnya biru
Disitulah tempat mencuci mata
Duduk sekampung lagikan rindu
Inikan pula jauh dimata
Laju-laju perahu laju
Lajunya sampai ke Surabaya
Lupa kain lupakan baju
Tetapi jangan lupakan saya
Kalau menyanyi perlahan-lahan
Dibawa angin terdengar jauh
Kalau hati tidak tertahan
Di dalam air badan berpeluh
Bunga Cina jambangan Cina
Bungkus inai dalam kertas
Sungguh saya bena tak bena
Di dalam hati haram tak lepas
Bunga rampai di dalam puan
Buluh perindu di atas gunung
Adakah sampai kepadamu tuan?
Rindu kekanda tidak tertangung
Ayam disabung jantan dipaut
Jika ditambat kalah laganya
Asam di darat ikan di laut
Dalam belanga bertemu jua
Angin Barat dari gunung
Berhembus lembut terlalu nyaman
Baru kelibat adik menyongsong
Kembali segar semangat di badan
Orang mengail ikan cencaru
Dapat ikan bawa ke jeti
Kalau tuan kata begitu
Barulah senang di dalam hati
Ribu-ribu pokok mengkudu
Cincin permata jatuh ke ruang
Kalau rindu sebut namaku
Airmata jangan dibuang
Dari mana punai melayang
Dari sawah turun ke padi
Dari mana datangnya sayang?
Dari mata turun ke hati
Berkurun lama pergi menjauh
Wajah kulihat di dalam mimpi
Kalau dah kasih sesama sungguh
Kering lautan tetap ku nanti
Anak buaya anak memerang
Anak biawak luka kepala
Badan merantau sakit dan senang
Pada adinda sedikit tak lupa
Kukutip bunga buat karangan
Karangan diletak di atas peti
Ingin ku sunting bunga di jambangan
Buat penyeri di taman hati
Sekapur sirih seulas pinang
Ada berkunjung budaya Melayu
Terjunjung kasih tersimpul sayang
Terikat terkurung kasih nan satu
Burung merpati terbang melayang
Singgah sebentar dipohon meranti
Rindu hatiku bukan kepalang
Wajahmu tuan termimpi-mimpi
Malam ini malam Jumaat
Pasang dian kepala titi
Tepuk bantal panggil semangat
Semangat datang di dalam mimpi
Hilang sepi diraut wajah
Usah terlerai nilainya budi
Setia janji takkan berubah
Kasih tersemai tetap abadi
Kalau tidak kelapa puan
Tidak puan kelapa bali
Kalau tidak pada tuan
Tidak tuan siapa lagi?
Pohon sena cabangnya empat
Mari tebang waktu pagi
Kalau kena dengan makrifat
Burung terbang menyerah diri
Gunung tinggi dilitupi awan
Berteduh langit malam dan siang
Bila adik mengirimkan pesan
Hancur seluruh sendi abang
Air pasang limpah ke pasar
Tanam pinang kelapa mati
Di manalah tuan belajar
Pandai mencari isyarat hati?
Tajam tubuh si buah gading
Hendaklah ikat bersama tali
Hancur luluh tulang dan daging
Namun kulupa tidak sekali
Hujan turun badan pun basah
Patah galah haluan perahu
Niat dihati tak mahu berpisah
Kehendak Allah siapa yang tahu?
Fikir memikir sama lawak
Jangan dibawa ke Tanjung Jati
Sindir menyindir sesama awak
Jangan dibawa masuk ke hati
Tuan puteri meminta cawan
Untuk diisi air kelapa
Amat tulus kasihmu Tuan
Sampai ke mati adinda tak lupa
Pamflet Cinta ~ W.S. Rendra
0 comments 6:13 PM Posted by __Internet For All__Labels: WS Rendra
Ma, nyamperin matahari dari satu sisi.
Memandang wajahmu dari segenap jurusan.
Aku menyaksikan zaman berjalan kalang-kabutan.
Aku melihat waktu melaju melanda masyarakatku.
Aku merindui wajahmu.
Dan aku melihat wajah-wajah berdarah para mahasiswa.
Kampus telah diserbu mobil berlapis baja.
Kata-kata telah dilawan dengan senjata.
Aku muak dengan gaya keamanan semacam ini.
Kenapa keamanan justeru menciptakan ketakutan dan ketegangan.
Sumber keamanan seharusnya hukum dan akal sihat.
Keamanan yang berdasarkan senjata dan kekuasaan adalah penindasan.
Suatu malam aku mandi di lautan.
Sepi menjadi kaca.
Bunga-bungaan yang ajaib bertebaran di langit.
Aku inginkan kamu, tetapi kamu tidak ada.
Sepi menjadi kaca.
Apa yang bisa dilakukan oleh penyair
Bila setiap kata telah dilawan dengan kekuasaan?
Udara penuh rasa curiga.
Tegur sapa tanpa jaminan.
Air lautan berkilat-kilat.
Suara lautan adalah suara kesepian
Dan lalu muncul wajahmu.
Kamu menjadi makna.
Makna menjadi harapan.
… Sebenarnya apakah harapan?
Harapan adalah karena aku akan membelai rambutmu.
Harapan adalah karena aku akan tetap menulis sajak.
Harapan adalah karena aku akan melakukan sesuatu.
Aku tertawa, Ma!
Angin menyapu rambutku.
Aku terkenang kepada apa yang telah terjadi.
Sepuluh tahun aku berjalan tanpa tidur.
*Punggungku karatan aku seret dari warung ke warung.
Perutku sobek di jalan raya yang lenggang…
Tidak. Aku tidak sedih dan kesepian.
Aku menulis sajak di bordes kereta api.
Aku bertualang di dalam udara yang berdebu.
Dengan berteman anjing-anjing geladak dan kucing-kucing liar,
Aku bernyanyi menikmati hidup yang kelabu.
Lalu muncullah kamu,
Nongol dari perut matahari bunting,
Jam dua belas seperempat siang.
Aku terkesima.
Aku disergap kejadian tak terduga.
Rahmatku turun bagai hujan
Membuatku segar,
Tapi juga menggigil bertanya-tanya.
Aku jadi bego, Ma!
Yaaahhhh, Ma, mencintai kamu adalah bahagia dan sedih.
Bahagia karena mempunyai kamu di dalam kalbuku,
Dan sedih karena kita sering terpisah.
Ketegangan menjadi pupuk cinta kita.
Tetapi bukankah kehidupan sendiri adalah bahagia dan sedih?
Bahagia karena nafas mengalir dan jantung berdetak.
Sedih karena fikiran diliputi bayang-bayang.
Adapun harapan adalah penghayatan akan ketegangan.
Ma, nyamperin matahari dari satu sisi,
Memandang wajahmu dari segenap jurusan.
W.S. Rendra
( Koleksi Puisi² Willibordus Surendra)
Ma, nyamperin matahari dari satu sisi.
Memandang wajahmu dari segenap jurusan.
Aku menyaksikan zaman berjalan kalang-kabutan.
Aku melihat waktu melaju melanda masyarakatku.
Aku merindui wajahmu.
Dan aku melihat wajah-wajah berdarah para mahasiswa.
Kampus telah diserbu mobil berlapis baja.
Kata-kata telah dilawan dengan senjata.
Aku muak dengan gaya keamanan semacam ini.
Kenapa keamanan justeru menciptakan ketakutan dan ketegangan.
Sumber keamanan seharusnya hukum dan akal sihat.
Keamanan yang berdasarkan senjata dan kekuasaan adalah penindasan.
Suatu malam aku mandi di lautan.
Sepi menjadi kaca.
Bunga-bungaan yang ajaib bertebaran di langit.
Aku inginkan kamu, tetapi kamu tidak ada.
Sepi menjadi kaca.
Apa yang bisa dilakukan oleh penyair
Bila setiap kata telah dilawan dengan kekuasaan?
Udara penuh rasa curiga.
Tegur sapa tanpa jaminan.
Air lautan berkilat-kilat.
Suara lautan adalah suara kesepian
Dan lalu muncul wajahmu.
Kamu menjadi makna.
Makna menjadi harapan.
… Sebenarnya apakah harapan?
Harapan adalah karena aku akan membelai rambutmu.
Harapan adalah karena aku akan tetap menulis sajak.
Harapan adalah karena aku akan melakukan sesuatu.
Aku tertawa, Ma!
Angin menyapu rambutku.
Aku terkenang kepada apa yang telah terjadi.
Sepuluh tahun aku berjalan tanpa tidur.
*Punggungku karatan aku seret dari warung ke warung.
Perutku sobek di jalan raya yang lenggang…
Tidak. Aku tidak sedih dan kesepian.
Aku menulis sajak di bordes kereta api.
Aku bertualang di dalam udara yang berdebu.
Dengan berteman anjing-anjing geladak dan kucing-kucing liar,
Aku bernyanyi menikmati hidup yang kelabu.
Lalu muncullah kamu,
Nongol dari perut matahari bunting,
Jam dua belas seperempat siang.
Aku terkesima.
Aku disergap kejadian tak terduga.
Rahmatku turun bagai hujan
Membuatku segar,
Tapi juga menggigil bertanya-tanya.
Aku jadi bego, Ma!
Yaaahhhh, Ma, mencintai kamu adalah bahagia dan sedih.
Bahagia karena mempunyai kamu di dalam kalbuku,
Dan sedih karena kita sering terpisah.
Ketegangan menjadi pupuk cinta kita.
Tetapi bukankah kehidupan sendiri adalah bahagia dan sedih?
Bahagia karena nafas mengalir dan jantung berdetak.
Sedih karena fikiran diliputi bayang-bayang.
Adapun harapan adalah penghayatan akan ketegangan.
Ma, nyamperin matahari dari satu sisi,
Memandang wajahmu dari segenap jurusan.
W.S. Rendra
( Koleksi Puisi² Willibordus Surendra)
Rajawali ~ W.S Rendra
0 comments 6:12 PM Posted by __Internet For All__Labels: WS Rendra
Sebuah sangkar besi
tidak bisa mengubah rajawali
menjadi seekor burung nuri
Rajawali adalah pacar langit
dan di dalam sangkar besi
rajawali merasa pasti
bahwa langit akan selalu menanti
Langit tanpa rajawali
adalah keluasan dan kebebasan tanpa sukma
tujuh langit, tujuh rajawali
tujuh cakrawala, tujuh pengembara
Rajawali terbang tinggi memasuki sepi
memandang dunia
rajawali di sangkar besi
duduk bertapa
mengolah hidupnya
Hidup adalah merjan-merjan kemungkinan
yang terjadi dari keringat matahari
tanpa kemantapan hati rajawali
mata kita hanya melihat matamorgana
Rajawali terbang tinggi
membela langit dengan setia
dan ia akan mematuk kedua matamu
wahai, kamu, pencemar langit yang durhaka
W.S Rendra, Kumpulan Puisi ” Perjalanan Bu Aminah “, Yayasan Obor Indonesia - 1997
Sebuah sangkar besi
tidak bisa mengubah rajawali
menjadi seekor burung nuri
Rajawali adalah pacar langit
dan di dalam sangkar besi
rajawali merasa pasti
bahwa langit akan selalu menanti
Langit tanpa rajawali
adalah keluasan dan kebebasan tanpa sukma
tujuh langit, tujuh rajawali
tujuh cakrawala, tujuh pengembara
Rajawali terbang tinggi memasuki sepi
memandang dunia
rajawali di sangkar besi
duduk bertapa
mengolah hidupnya
Hidup adalah merjan-merjan kemungkinan
yang terjadi dari keringat matahari
tanpa kemantapan hati rajawali
mata kita hanya melihat matamorgana
Rajawali terbang tinggi
membela langit dengan setia
dan ia akan mematuk kedua matamu
wahai, kamu, pencemar langit yang durhaka
W.S Rendra, Kumpulan Puisi ” Perjalanan Bu Aminah “, Yayasan Obor Indonesia - 1997
Kelelawar ~ W.S Rendra
0 comments 6:12 PM Posted by __Internet For All__Labels: WS Rendra
Silau oleh sinar lampu lalulintas
Aku menunduk memandang sepatuku.
Aku gentayangan bagai kelelawar.
Tidak gembira, tidak sedih.
Terapung dalam waktu.
Ma, aku melihatmu di setiap ujung jalan.
Sungguh tidak menyangka
Begitu penuh kamu mengisi buku alamat batinku.
Sekarang aku kembali berjalan.
Apakah aku akan menelefon teman?
Apakah aku akan makan udang gapit di restoran?
Aku sebel terhadap cendikiawan yang menolak menjadi saksi.
Masalah sosial dipoles gincu menjadi ######fizika.
Sikap jiwa dianggap maya dibanding mobil berlapis baja.
Hanya kamu yang enak diajak bicara.
Kakiku melangkah melewati sampah-sampah.
Akan menulis sajak-sajak lagi.
Rasa berdaya tidak bisa mati begitu saja.
Ke sini, Ma, masuklah ke dalam saku bajuku.
Daya hidup menjadi kamu, menjadi harapan.
~ W.S. Rendra
Silau oleh sinar lampu lalulintas
Aku menunduk memandang sepatuku.
Aku gentayangan bagai kelelawar.
Tidak gembira, tidak sedih.
Terapung dalam waktu.
Ma, aku melihatmu di setiap ujung jalan.
Sungguh tidak menyangka
Begitu penuh kamu mengisi buku alamat batinku.
Sekarang aku kembali berjalan.
Apakah aku akan menelefon teman?
Apakah aku akan makan udang gapit di restoran?
Aku sebel terhadap cendikiawan yang menolak menjadi saksi.
Masalah sosial dipoles gincu menjadi ######fizika.
Sikap jiwa dianggap maya dibanding mobil berlapis baja.
Hanya kamu yang enak diajak bicara.
Kakiku melangkah melewati sampah-sampah.
Akan menulis sajak-sajak lagi.
Rasa berdaya tidak bisa mati begitu saja.
Ke sini, Ma, masuklah ke dalam saku bajuku.
Daya hidup menjadi kamu, menjadi harapan.
~ W.S. Rendra
Sajak Pertemuan Mahasiswa ~ W.S Rendra
0 comments 6:11 PM Posted by __Internet For All__Labels: WS Rendra
Matahari terbit pagi ini
mencium bau kencing orok di kaki langit
melihat kali coklat menjalar ke lautan
dan mendengar dengung di dalam hutan
lalu kini ia dua penggalah tingginya
dan ia menjadi saksi kita berkumpul disini
memeriksa keadaan
kita bertanya :
kenapa maksud baik tidak selalu berguna
kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga
orang berkata : “kami ada maksud baik”
dan kita bertanya : “maksud baik untuk siapa ?”
ya !
ada yang jaya, ada yang terhina
ada yang bersenjata, ada yang terluka
ada yang duduk, ada yang diduduki
ada yang berlimpah, ada yang terkuras
dan kita disini bertanya :
“maksud baik saudara untuk siapa ?
saudara berdiri di pihak yang mana ?”
kenapa maksud baik dilakukan
tetapi makin banyak petani kehilangan tanahnya
tanah - tanah di gunung telah dimiliki orang - orang kota
perkebunan yang luas
hanya menguntungkan segolongan kecil saja
alat - alat kemajuan yang diimpor
tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya
tentu, kita bertanya :
“lantas maksud baik saudara untuk siapa ?”
sekarang matahari semakin tinggi
lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala
dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya :
kita ini dididik untuk memihak yang mana ?
ilmu - ilmu diajarkan disini
akan menjadi alat pembebasan
ataukah alat penindasan ?
sebentar lagi matahari akan tenggelam
malam akan tiba
cicak - cicak berbunyi di tembok
dan rembulan berlayar
tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda
akan hidup di dalam mimpi
akan tumbuh di kebon belakang
dan esok hari
matahari akan terbit kembali
sementara hari baru menjelma
pertanyaan - pertanyaan kita menjadi hutan
atau masuk ke sungai
menjadi ombak di samodra
di bawah matahari ini kita bertanya :
ada yang menangis, ada yang mendera
ada yang habis, ada yang mengikis
dan maksud baik kita
berdiri di pihak yang mana !
RENDRA
( jakarta, 1 desember 1977 )
* ) Sajak ini dipersembahkan kepada para mahasiswa universitas indonesia di jakarta dan dibacakan di dalam salah satu adegan film “yang muda yang bercinta” yang disutradarai oleh Sumandjaya
* ) Dari kumpulan puisi “potret pembangunan dalam puisi” ( pustaka jaya - 1996 )
Matahari terbit pagi ini
mencium bau kencing orok di kaki langit
melihat kali coklat menjalar ke lautan
dan mendengar dengung di dalam hutan
lalu kini ia dua penggalah tingginya
dan ia menjadi saksi kita berkumpul disini
memeriksa keadaan
kita bertanya :
kenapa maksud baik tidak selalu berguna
kenapa maksud baik dan maksud baik bisa berlaga
orang berkata : “kami ada maksud baik”
dan kita bertanya : “maksud baik untuk siapa ?”
ya !
ada yang jaya, ada yang terhina
ada yang bersenjata, ada yang terluka
ada yang duduk, ada yang diduduki
ada yang berlimpah, ada yang terkuras
dan kita disini bertanya :
“maksud baik saudara untuk siapa ?
saudara berdiri di pihak yang mana ?”
kenapa maksud baik dilakukan
tetapi makin banyak petani kehilangan tanahnya
tanah - tanah di gunung telah dimiliki orang - orang kota
perkebunan yang luas
hanya menguntungkan segolongan kecil saja
alat - alat kemajuan yang diimpor
tidak cocok untuk petani yang sempit tanahnya
tentu, kita bertanya :
“lantas maksud baik saudara untuk siapa ?”
sekarang matahari semakin tinggi
lalu akan bertahta juga di atas puncak kepala
dan di dalam udara yang panas kita juga bertanya :
kita ini dididik untuk memihak yang mana ?
ilmu - ilmu diajarkan disini
akan menjadi alat pembebasan
ataukah alat penindasan ?
sebentar lagi matahari akan tenggelam
malam akan tiba
cicak - cicak berbunyi di tembok
dan rembulan berlayar
tetapi pertanyaan kita tidak akan mereda
akan hidup di dalam mimpi
akan tumbuh di kebon belakang
dan esok hari
matahari akan terbit kembali
sementara hari baru menjelma
pertanyaan - pertanyaan kita menjadi hutan
atau masuk ke sungai
menjadi ombak di samodra
di bawah matahari ini kita bertanya :
ada yang menangis, ada yang mendera
ada yang habis, ada yang mengikis
dan maksud baik kita
berdiri di pihak yang mana !
RENDRA
( jakarta, 1 desember 1977 )
* ) Sajak ini dipersembahkan kepada para mahasiswa universitas indonesia di jakarta dan dibacakan di dalam salah satu adegan film “yang muda yang bercinta” yang disutradarai oleh Sumandjaya
* ) Dari kumpulan puisi “potret pembangunan dalam puisi” ( pustaka jaya - 1996 )
Rumpun Alang-alang ~ W.S Rendra
0 comments 6:11 PM Posted by __Internet For All__Labels: WS Rendra
Engkaulah perempuan terkasih, yang sejenak kulupakan, sayang
Kerna dalam sepi yang jahat tumbuh alang-alang di hatiku yang malang
Di hatiku alang-alang menancapkan akar-akarnya yang gatal
Serumpun alang-alang gelap, lembut dan nakal
Gelap dan bergoyang ia
dan ia pun berbunga dosa
Engkau tetap yang punya
tapi alang-alang tumbuh di dada
~ W.S Rendra
Engkaulah perempuan terkasih, yang sejenak kulupakan, sayang
Kerna dalam sepi yang jahat tumbuh alang-alang di hatiku yang malang
Di hatiku alang-alang menancapkan akar-akarnya yang gatal
Serumpun alang-alang gelap, lembut dan nakal
Gelap dan bergoyang ia
dan ia pun berbunga dosa
Engkau tetap yang punya
tapi alang-alang tumbuh di dada
~ W.S Rendra
Sajak Orang Kepanasan ~ W.S Rendra
0 comments 6:09 PM Posted by __Internet For All__Labels: WS Rendra
Karena kami makan akar
dan terigu menumpuk di gudangmu …..
karena kami hidup berhimpitan
dan ruangmu berlebihan …..
maka kita bukan sekutu
karena kami kucel
dan kamu gemerlapan …..
karena kami sumpeg
dan kamu mengunci pintu …..
maka kami mencurigaimu
karena kami terlantar di jalan
dan kamu memiliki semua keteduhan …..
karena kami kebanjiran
dan kamu berpesta di kapal pesiar …..
maka kami tidak menyukaimu
karena kami dibungkam
dan kamu nrocos bicara …..
karena kami diancam
dan kamu memaksakan kekuasaan …..
maka kami bilang TIDAK kepadamu
karena kami tidak boleh memilih
dan kamu bebas berencana …..
karena kami cuma bersandal
dan kamu bebas memakai senapan …..
karena kami harus sopan
dan kamu punya penjara …..
maka TIDAK dan TIDAK kepadamu
karena kami arus kali
dan kamu batu tanpa hati
maka air akan mengikis batu
RENDRA
Karena kami makan akar
dan terigu menumpuk di gudangmu …..
karena kami hidup berhimpitan
dan ruangmu berlebihan …..
maka kita bukan sekutu
karena kami kucel
dan kamu gemerlapan …..
karena kami sumpeg
dan kamu mengunci pintu …..
maka kami mencurigaimu
karena kami terlantar di jalan
dan kamu memiliki semua keteduhan …..
karena kami kebanjiran
dan kamu berpesta di kapal pesiar …..
maka kami tidak menyukaimu
karena kami dibungkam
dan kamu nrocos bicara …..
karena kami diancam
dan kamu memaksakan kekuasaan …..
maka kami bilang TIDAK kepadamu
karena kami tidak boleh memilih
dan kamu bebas berencana …..
karena kami cuma bersandal
dan kamu bebas memakai senapan …..
karena kami harus sopan
dan kamu punya penjara …..
maka TIDAK dan TIDAK kepadamu
karena kami arus kali
dan kamu batu tanpa hati
maka air akan mengikis batu
RENDRA
Sajak Sebatang Lisong ~ W.S. Rendra
0 comments 6:00 PM Posted by __Internet For All__Labels: WS Rendra
Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya
mendengar 130 juta rakyat
dan di langit
dua tiga cukung mengangkang
berak di atas kepala mereka
matahari terbit
fajar tiba
dan aku melihat delapan juta kanak - kanak
tanpa pendidikan
aku bertanya
tetapi pertanyaan - pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet
dan papantulis - papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan
delapan juta kanak - kanak
menghadapi satu jalan panjang
tanpa pilihan
tanpa pepohonan
tanpa dangau persinggahan
tanpa ada bayangan ujungnya
……………………..
menghisap udara
yang disemprot deodorant
aku melihat sarjana - sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiunan
dan di langit
para teknokrat berkata :
bahwa bangsa kita adalah malas
bahwa bangsa mesti dibangun
mesti di up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor
gunung - gunung menjulang
langit pesta warna di dalam senjakala
dan aku melihat
protes - protes yang terpendam
terhimpit di bawah tilam
aku bertanya
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair - penyair salon
yang bersajak tentang anggur dan rembulan
sementara ketidak adilan terjadi disampingnya
dan delapan juta kanak - kanak tanpa pendidikan
termangu - mangu di kaki dewi kesenian
bunga - bunga bangsa tahun depan
berkunang - kunang pandang matanya
di bawah iklan berlampu neon
berjuta - juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau
menjadi karang di bawah muka samodra
……………………………
kita mesti berhenti membeli rumus - rumus asing
diktat - diktat hanya boleh memberi metode
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan
kita mesti keluar ke jalan raya
keluar ke desa - desa
mencatat sendiri semua gejala
dan menghayati persoalan yang nyata
inilah sajakku
pamplet masa darurat
apakah artinya kesenian
bila terpisah dari derita lingkungan
apakah artinya berpikir
bila terpisah dari masalah kehidupan
( itb bandung - 19 Agustus 1978 )
Menghisap sebatang lisong
melihat Indonesia Raya
mendengar 130 juta rakyat
dan di langit
dua tiga cukung mengangkang
berak di atas kepala mereka
matahari terbit
fajar tiba
dan aku melihat delapan juta kanak - kanak
tanpa pendidikan
aku bertanya
tetapi pertanyaan - pertanyaanku
membentur meja kekuasaan yang macet
dan papantulis - papantulis para pendidik
yang terlepas dari persoalan kehidupan
delapan juta kanak - kanak
menghadapi satu jalan panjang
tanpa pilihan
tanpa pepohonan
tanpa dangau persinggahan
tanpa ada bayangan ujungnya
……………………..
menghisap udara
yang disemprot deodorant
aku melihat sarjana - sarjana menganggur
berpeluh di jalan raya
aku melihat wanita bunting
antri uang pensiunan
dan di langit
para teknokrat berkata :
bahwa bangsa kita adalah malas
bahwa bangsa mesti dibangun
mesti di up-grade
disesuaikan dengan teknologi yang diimpor
gunung - gunung menjulang
langit pesta warna di dalam senjakala
dan aku melihat
protes - protes yang terpendam
terhimpit di bawah tilam
aku bertanya
tetapi pertanyaanku
membentur jidat penyair - penyair salon
yang bersajak tentang anggur dan rembulan
sementara ketidak adilan terjadi disampingnya
dan delapan juta kanak - kanak tanpa pendidikan
termangu - mangu di kaki dewi kesenian
bunga - bunga bangsa tahun depan
berkunang - kunang pandang matanya
di bawah iklan berlampu neon
berjuta - juta harapan ibu dan bapak
menjadi gemalau suara yang kacau
menjadi karang di bawah muka samodra
……………………………
kita mesti berhenti membeli rumus - rumus asing
diktat - diktat hanya boleh memberi metode
tetapi kita sendiri mesti merumuskan keadaan
kita mesti keluar ke jalan raya
keluar ke desa - desa
mencatat sendiri semua gejala
dan menghayati persoalan yang nyata
inilah sajakku
pamplet masa darurat
apakah artinya kesenian
bila terpisah dari derita lingkungan
apakah artinya berpikir
bila terpisah dari masalah kehidupan
( itb bandung - 19 Agustus 1978 )
Sajak Seorang Tua Tentang Bandung Lautan Api ~ Rendra
0 comments 5:45 PM Posted by __Internet For All__Labels: WS Rendra
Bagaimana mungkin kita bernegara
bila tidak mampu mempertahankan wilayahnya
bagaimana mungkin kita berbangsa
bila tidak mampu mempertahankan kepastian hidup bersama ?
Itulah sebabnya
kami tidak ikhlas
menyerahkan Bandung kepada tentara Inggris
dan akhirnya kami bumi hanguskan kota tercinta itu
sehingga menjadi lautan api
Kini batinku kembali mengenang
udara panas yang bergetar dan menggelombang,
bau asap, bau keringat
suara ledakan dipantulkan mega yang jingga, dan kaki
langit berwarna kesumba
Kami berlaga
memperjuangkan kelayakan hidup umat manusia.
kedaulatan hidup bersama adalah sumber keadilan merata
yang bisa dialami dengan nyata
mana mungkin itu bisa terjadi
di dalam penindasan dan penjajahan
manusia mana
akan membiarkan keturunannya hidup
tanpa jaminan kepastian?
Hidup yang disyukuri adalah hidup yang diolah
hidup yang diperkembangkan
dan hidup yang dipertahankan
itulah sebabnya kami melawan penindasan
kota Bandung berkobar menyala-nyala tapi kedaulatan
bangsa tetap terjaga
Kini aku sudah tua
aku terjaga dari tidurku
di tengah malam di pegunungan
bau apakah yang tercium olehku?
Apakah ini bau asap medan laga tempo dulu
yang dibawa oleh mimpi kepadaku?
ataukah ini bau limbah pencemaran?
Gemuruh apakah yang aku dengar ini?
apakah ini deru perjuangan masa silam
di tanah periangan?
ataukah gaduh hidup yang rusuh
karena dikhianati dewa keadilan.
Aku terkesiap
sukmaku gagap
apakah aku dibangunkan oleh mimpi?
Apakah aku tersentak
oleh satu isyarat kehidupan?
Di dalam kesunyian malam
aku menyeru-nyeru kamu, putera-puteriku
Apakah yang terjadi?
Darah teman-temanku
telah tumpah di Sukakarsa
di Dayeuh Kolot
di Kiara Condong
di setiap jejak medan laga.
Kini
kami tersentak,
terbangun bersama.
putera-puteriku, apakah yang terjadi?
apakah kamu bisa menjawab pertanyaan kami?
Wahai teman-teman seperjuanganku yang dulu,
apakah kita masih sama-sama setia
membela keadilan hidup bersama
Manusia dari setiap angkatan bangsa
akan mengalami saat tiba-tiba terjaga
tersentak dalam kesendirian malam yang sunyi
aan menghadapi pertanyaan jaman:
apakah yang terjadi?
apakah yang telah kamu lakukan?
apakah yang sedang kamu lakukan?
Dan, ya, hidup kita yang fana akan mempunyai makna
dari jawaban yang kita berikan.
Bagaimana mungkin kita bernegara
bila tidak mampu mempertahankan wilayahnya
bagaimana mungkin kita berbangsa
bila tidak mampu mempertahankan kepastian hidup bersama ?
Itulah sebabnya
kami tidak ikhlas
menyerahkan Bandung kepada tentara Inggris
dan akhirnya kami bumi hanguskan kota tercinta itu
sehingga menjadi lautan api
Kini batinku kembali mengenang
udara panas yang bergetar dan menggelombang,
bau asap, bau keringat
suara ledakan dipantulkan mega yang jingga, dan kaki
langit berwarna kesumba
Kami berlaga
memperjuangkan kelayakan hidup umat manusia.
kedaulatan hidup bersama adalah sumber keadilan merata
yang bisa dialami dengan nyata
mana mungkin itu bisa terjadi
di dalam penindasan dan penjajahan
manusia mana
akan membiarkan keturunannya hidup
tanpa jaminan kepastian?
Hidup yang disyukuri adalah hidup yang diolah
hidup yang diperkembangkan
dan hidup yang dipertahankan
itulah sebabnya kami melawan penindasan
kota Bandung berkobar menyala-nyala tapi kedaulatan
bangsa tetap terjaga
Kini aku sudah tua
aku terjaga dari tidurku
di tengah malam di pegunungan
bau apakah yang tercium olehku?
Apakah ini bau asap medan laga tempo dulu
yang dibawa oleh mimpi kepadaku?
ataukah ini bau limbah pencemaran?
Gemuruh apakah yang aku dengar ini?
apakah ini deru perjuangan masa silam
di tanah periangan?
ataukah gaduh hidup yang rusuh
karena dikhianati dewa keadilan.
Aku terkesiap
sukmaku gagap
apakah aku dibangunkan oleh mimpi?
Apakah aku tersentak
oleh satu isyarat kehidupan?
Di dalam kesunyian malam
aku menyeru-nyeru kamu, putera-puteriku
Apakah yang terjadi?
Darah teman-temanku
telah tumpah di Sukakarsa
di Dayeuh Kolot
di Kiara Condong
di setiap jejak medan laga.
Kini
kami tersentak,
terbangun bersama.
putera-puteriku, apakah yang terjadi?
apakah kamu bisa menjawab pertanyaan kami?
Wahai teman-teman seperjuanganku yang dulu,
apakah kita masih sama-sama setia
membela keadilan hidup bersama
Manusia dari setiap angkatan bangsa
akan mengalami saat tiba-tiba terjaga
tersentak dalam kesendirian malam yang sunyi
aan menghadapi pertanyaan jaman:
apakah yang terjadi?
apakah yang telah kamu lakukan?
apakah yang sedang kamu lakukan?
Dan, ya, hidup kita yang fana akan mempunyai makna
dari jawaban yang kita berikan.
Surat Cinta ~ W.S. Rendra
0 comments 5:44 PM Posted by __Internet For All__Labels: WS Rendra
Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
bagai bunyi tambur yang gaib,
Dan angin mendesah
mengeluh dan mendesah,
Wahai, dik Narti,
aku cinta kepadamu !
Kutulis surat ini
kala langit menangis
dan dua ekor belibis
bercintaan dalam kolam
bagai dua anak nakal
jenaka dan manis
mengibaskan ekor
serta menggetarkan bulu-bulunya,
Wahai, dik Narti,
kupinang kau menjadi istriku !
Kaki-kaki hujan yang runcing
menyentuhkan ujungnya di bumi,
Kaki-kaki cinta yang tegas
bagai logam berat gemerlapan
menempuh ke muka
dan tak kan kunjung diundurkan
Selusin malaikat
telah turun
di kala hujan gerimis
Di muka kaca jendela
mereka berkaca dan mencuci rambutnya
untuk ke pesta
Wahai, dik Narti
dengan pakaian pengantin yang anggun
bunga-bunga serta keris keramat
aku ingin membimbingmu ke altar
untuk dikawinkan
Aku melamarmu,
Kau tahu dari dulu:
tiada lebih buruk
dan tiada lebih baik
dari yang lain…
penyair dari kehidupan sehari-hari,
orang yang bermula dari kata
kata yang bermula dari
kehidupan, pikir dan rasa
Semangat kehidupan yang kuat
bagai berjuta-juta jarum alit
menusuki kulit langit:
kantong rejeki dan restu wingit
Lalu tumpahlah gerimis
Angin dan cinta
mendesah dalam gerimis.
Semangat cintaku yang kuta
batgai seribu tangan gaib
menyebarkan seribu jaring
menyergap hatimu
yang selalu tersenyum padaku
Engkau adalah putri duyung
tawananku
Putri duyung dengan
suara merdu lembut
bagai angin laut,
mendesahlah bagiku !
Angin mendesah
selalu mendesah
dengan ratapnya yang merdu.
Engkau adalah putri duyung
tergolek lemas
mengejap-ngejapkan matanya yang indah
dalam jaringku
Wahai, putri duyung,
aku menjaringmu
aku melamarmu
Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
kerna langit
gadis manja dan manis
menangis minta mainan.
Dua anak lelaki nakal
bersenda gurau dalam selokan
dan langit iri melihatnya
Wahai, Dik Narti
kuingin dikau
menjadi ibu anak-anakku !
~ W.S Rendra
Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
bagai bunyi tambur yang gaib,
Dan angin mendesah
mengeluh dan mendesah,
Wahai, dik Narti,
aku cinta kepadamu !
Kutulis surat ini
kala langit menangis
dan dua ekor belibis
bercintaan dalam kolam
bagai dua anak nakal
jenaka dan manis
mengibaskan ekor
serta menggetarkan bulu-bulunya,
Wahai, dik Narti,
kupinang kau menjadi istriku !
Kaki-kaki hujan yang runcing
menyentuhkan ujungnya di bumi,
Kaki-kaki cinta yang tegas
bagai logam berat gemerlapan
menempuh ke muka
dan tak kan kunjung diundurkan
Selusin malaikat
telah turun
di kala hujan gerimis
Di muka kaca jendela
mereka berkaca dan mencuci rambutnya
untuk ke pesta
Wahai, dik Narti
dengan pakaian pengantin yang anggun
bunga-bunga serta keris keramat
aku ingin membimbingmu ke altar
untuk dikawinkan
Aku melamarmu,
Kau tahu dari dulu:
tiada lebih buruk
dan tiada lebih baik
dari yang lain…
penyair dari kehidupan sehari-hari,
orang yang bermula dari kata
kata yang bermula dari
kehidupan, pikir dan rasa
Semangat kehidupan yang kuat
bagai berjuta-juta jarum alit
menusuki kulit langit:
kantong rejeki dan restu wingit
Lalu tumpahlah gerimis
Angin dan cinta
mendesah dalam gerimis.
Semangat cintaku yang kuta
batgai seribu tangan gaib
menyebarkan seribu jaring
menyergap hatimu
yang selalu tersenyum padaku
Engkau adalah putri duyung
tawananku
Putri duyung dengan
suara merdu lembut
bagai angin laut,
mendesahlah bagiku !
Angin mendesah
selalu mendesah
dengan ratapnya yang merdu.
Engkau adalah putri duyung
tergolek lemas
mengejap-ngejapkan matanya yang indah
dalam jaringku
Wahai, putri duyung,
aku menjaringmu
aku melamarmu
Kutulis surat ini
kala hujan gerimis
kerna langit
gadis manja dan manis
menangis minta mainan.
Dua anak lelaki nakal
bersenda gurau dalam selokan
dan langit iri melihatnya
Wahai, Dik Narti
kuingin dikau
menjadi ibu anak-anakku !
~ W.S Rendra
W.S Rendra
0 comments 5:43 PM Posted by __Internet For All__Labels: WS Rendra
Tuhan yang Maha Esa,
alangkah tegangnya
melihat hidup yang tergadai,
fikiran yang dipabrikkan,
dan masyarakat yang diternakkan.
Malam rebah dalam udara yang kotor.
Di manakah harapan akan dikaitkan
bila tipu daya telah menjadi seni kehidupan?
Dendam diasah di kolong yang basah
siap untuk terseret dalam gelombang edan.
Perkelahian dalam hidup sehari-hari
telah menjadi kewajaran.
Pepatah dan petitih
tak akan menyelesaikan masalah
bagi hidup yang bosan,
terpenjara, tanpa jendela.
Tuhan yang Maha Faham,
alangkah tak masuk akal
jarak selangkah
yang bererti empat puluh tahun gaji seorang buruh,
yang memisahkan
sebuah halaman bertaman tanaman hias
dengan rumah-rumah tanpa sumur dan W.C.
Hati manusia telah menjadi acuh,
panser yang angkuh,
traktor yang dendam.
Tuhan yang Maha Rahman,
ketika air mata menjadi gombal,
dan kata-kata menjadi lumpur becek,
aku menoleh ke utara dan ke selatan -
di manakah Kamu?
Di manakah tabungan keramik untuk wang logam?
Di manakah catatan belanja harian?
Di manakah peradaban?
Ya, Tuhan yang Maha Hakim,
harapan kosong, optimisme hampa.
Hanya akal sihat dan daya hidup
menjadi peganganku yang nyata.
~ W.S Rendra
Tuhan yang Maha Esa,
alangkah tegangnya
melihat hidup yang tergadai,
fikiran yang dipabrikkan,
dan masyarakat yang diternakkan.
Malam rebah dalam udara yang kotor.
Di manakah harapan akan dikaitkan
bila tipu daya telah menjadi seni kehidupan?
Dendam diasah di kolong yang basah
siap untuk terseret dalam gelombang edan.
Perkelahian dalam hidup sehari-hari
telah menjadi kewajaran.
Pepatah dan petitih
tak akan menyelesaikan masalah
bagi hidup yang bosan,
terpenjara, tanpa jendela.
Tuhan yang Maha Faham,
alangkah tak masuk akal
jarak selangkah
yang bererti empat puluh tahun gaji seorang buruh,
yang memisahkan
sebuah halaman bertaman tanaman hias
dengan rumah-rumah tanpa sumur dan W.C.
Hati manusia telah menjadi acuh,
panser yang angkuh,
traktor yang dendam.
Tuhan yang Maha Rahman,
ketika air mata menjadi gombal,
dan kata-kata menjadi lumpur becek,
aku menoleh ke utara dan ke selatan -
di manakah Kamu?
Di manakah tabungan keramik untuk wang logam?
Di manakah catatan belanja harian?
Di manakah peradaban?
Ya, Tuhan yang Maha Hakim,
harapan kosong, optimisme hampa.
Hanya akal sihat dan daya hidup
menjadi peganganku yang nyata.
~ W.S Rendra
Senaskah Buku Takdir ~ WB RENDRA
0 comments 5:42 PM Posted by __Internet For All__Labels: WB Rendra
Setelah membaca senaskhah
buku takdir terakhir
dia menyemak kembali
mencari ilustrasi bunga-bunga
serta ayat-ayat wangi
ingin sekali meneladani
burung-burung bernyanyi
di helaian dan halaman
yang dipilih - terlukiskan.
Tidak selalu halaman naskhah
disusun indah, sebab mungkin
disisip coret duka dan gundah
dititip pena yang marah
dilakar warna ungu, jingga juga merah
diatur semangat juang
malah kadangkala lemah.
Diksi demi diksi
kata-kata saling bertaut antara
tawa, tangis, ceria dan bengis
putus dan kembali berantaian
ayat-perenggan-bab-episod
menjadi senaskhah buku takdir terakhir.
Tidak selalu ayat-ayat wangi
burung-burung bernyanyi
kerana bintang-bintang sering suram
gemawan mendung muram
di antara helaian dan halaman
naskhah buku takdir terakhir -
terlukiskan.
Dia menyelak, belajar merenungi
bintang-bintang suram
gemawan mendung muram.
Setelah membaca senaskhah
buku takdir terakhir
dia menyemak kembali
mencari ilustrasi bunga-bunga
serta ayat-ayat wangi
ingin sekali meneladani
burung-burung bernyanyi
di helaian dan halaman
yang dipilih - terlukiskan.
Tidak selalu halaman naskhah
disusun indah, sebab mungkin
disisip coret duka dan gundah
dititip pena yang marah
dilakar warna ungu, jingga juga merah
diatur semangat juang
malah kadangkala lemah.
Diksi demi diksi
kata-kata saling bertaut antara
tawa, tangis, ceria dan bengis
putus dan kembali berantaian
ayat-perenggan-bab-episod
menjadi senaskhah buku takdir terakhir.
Tidak selalu ayat-ayat wangi
burung-burung bernyanyi
kerana bintang-bintang sering suram
gemawan mendung muram
di antara helaian dan halaman
naskhah buku takdir terakhir -
terlukiskan.
Dia menyelak, belajar merenungi
bintang-bintang suram
gemawan mendung muram.
Bidadari Yang Pergi ~ WB Rendra
0 comments 5:39 PM Posted by __Internet For All__Labels: WB Rendra
i
Seperti seorang bidadari
datang dengan wangi kasturi
membawa dian
menyuluhi hari-hari.
Bidadari sering bicara
menyaluti relung sunyi
menyala sumbu sinar persis pelangi
melebar sayap rawan melindungi
daripada kesejukan.
Selalu bidadari
menggilap pudar semangat
dari bibir kristal ketemu
kalimat-kalimat keramat.
ii
Kini bidadari telah
terbang pulang ke tamannya
membina syurga sendiri
di atas peterana berbintang tujuh
meninggalkan sisa harapan, yang
dahulu menerangi
malah sering jua mewangi.
i
Seperti seorang bidadari
datang dengan wangi kasturi
membawa dian
menyuluhi hari-hari.
Bidadari sering bicara
menyaluti relung sunyi
menyala sumbu sinar persis pelangi
melebar sayap rawan melindungi
daripada kesejukan.
Selalu bidadari
menggilap pudar semangat
dari bibir kristal ketemu
kalimat-kalimat keramat.
ii
Kini bidadari telah
terbang pulang ke tamannya
membina syurga sendiri
di atas peterana berbintang tujuh
meninggalkan sisa harapan, yang
dahulu menerangi
malah sering jua mewangi.
Persahabatan ~ Khalil Gibran
0 comments 5:16 PM Posted by __Internet For All__Labels: Kahlil Gibran, Kata Mutiara, Novel - Novel
Dan seorang remaja berkata, Bicaralah pada kami tentang Persahabatan.
Dan dia menjawab:
Sahabat adalah keperluan jiwa, yang mesti dipenuhi.
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau tuai dengan penuh rasa terima kasih.
Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.
Kerana kau menghampirinya saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa mahu kedamaian.
Bila dia berbicara, mengungkapkan fikirannya, kau tiada takut membisikkan kata “Tidak” di kalbumu sendiri, pun tiada kau menyembunyikan kata “Ya”.
Dan bilamana dia diam,hatimu berhenti dari mendengar hatinya; kerana tanpa ungkapan kata, dalam persahabatan, segala fikiran, hasrat, dan keinginan dilahirkan bersama dan dikongsi, dengan kegembiraan tiada terkirakan.
Di kala berpisah dengan sahabat, tiadalah kau berdukacita;
Kerana yang paling kau kasihi dalam dirinya, mungkin kau nampak lebih jelas dalam ketiadaannya, bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.
Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya roh kejiwaan.
Kerana cinta yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya, bukanlah cinta , tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan.
Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.
Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenali pula musim pasangmu.
Gerangan apa sahabat itu jika kau sentiasa mencarinya, untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu?
Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu!
Kerana dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu.
Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria dan berkongsi kegembiraan..
Kerana dalam titisan kecil embun pagi, hati manusia menemui fajar dan ghairah segar kehidupan.
~ Khalil Gibran
Dan seorang remaja berkata, Bicaralah pada kami tentang Persahabatan.
Dan dia menjawab:
Sahabat adalah keperluan jiwa, yang mesti dipenuhi.
Dialah ladang hati, yang kau taburi dengan kasih dan kau tuai dengan penuh rasa terima kasih.
Dan dia pulalah naungan dan pendianganmu.
Kerana kau menghampirinya saat hati lupa dan mencarinya saat jiwa mahu kedamaian.
Bila dia berbicara, mengungkapkan fikirannya, kau tiada takut membisikkan kata “Tidak” di kalbumu sendiri, pun tiada kau menyembunyikan kata “Ya”.
Dan bilamana dia diam,hatimu berhenti dari mendengar hatinya; kerana tanpa ungkapan kata, dalam persahabatan, segala fikiran, hasrat, dan keinginan dilahirkan bersama dan dikongsi, dengan kegembiraan tiada terkirakan.
Di kala berpisah dengan sahabat, tiadalah kau berdukacita;
Kerana yang paling kau kasihi dalam dirinya, mungkin kau nampak lebih jelas dalam ketiadaannya, bagai sebuah gunung bagi seorang pendaki, nampak lebih agung daripada tanah ngarai dataran.
Dan tiada maksud lain dari persahabatan kecuali saling memperkaya roh kejiwaan.
Kerana cinta yang mencari sesuatu di luar jangkauan misterinya, bukanlah cinta , tetapi sebuah jala yang ditebarkan: hanya menangkap yang tiada diharapkan.
Dan persembahkanlah yang terindah bagi sahabatmu.
Jika dia harus tahu musim surutmu, biarlah dia mengenali pula musim pasangmu.
Gerangan apa sahabat itu jika kau sentiasa mencarinya, untuk sekadar bersama dalam membunuh waktu?
Carilah ia untuk bersama menghidupkan sang waktu!
Kerana dialah yang bisa mengisi kekuranganmu, bukan mengisi kekosonganmu.
Dan dalam manisnya persahabatan, biarkanlah ada tawa ria dan berkongsi kegembiraan..
Kerana dalam titisan kecil embun pagi, hati manusia menemui fajar dan ghairah segar kehidupan.
~ Khalil Gibran
Perjamuan Jiwa ~ Khalil Gibran
0 comments 5:16 PM Posted by __Internet For All__Labels: Kahlil Gibran, Kata Mutiara, Novel - Novel
BANGUNLAH, Cintaku. Bangun! Kerana jiwaku mengalu-alumu dari dasar laut, dan menawarkan padamu sayap-sayap di atas gelombang yang mengamuk
Bangunlah, kerana sunyi telah menghentikan derap kaki kuda dan langkah para pejalan kaki.
Rasa kantuk telah memeluk roh setiap laki-laki, sementara aku terbangun sendiri, rasa rindu membukakan kertas surat tidurku.
Cinta membawaku dekat denganmu, namun kebimbangan melemparkan diriku menjauh darimu.
Aku telah membuang bukuku, kerana keluhku mengunci kata-kata dan desah nafasku meninggalkan tempat tidurku, Cintaku, kerana takut pada hantu lupa yang berada di balik selimut.
Aku telah membuang bukuku, kerana keluhku mengunci kata-kata dan desah nafasku meninggalkan halaman buku yang kosong di depan mataku!
Bangun, bangunlah, Cintaku dan dengar diriku!
Aku mendengarkanmu, Cintaku! Aku mendengar panggilanmu dari lautan lepas dan merasakan lembutnya sentuhan sayapmu. Aku telah jauh dari ranjangku, beranjak ke tanah lapang, hingga embun membasahi kaki dan bajuku. Di sinilah aku berdiri, dibawah bunga-bunga pohon badam, memenuhi panggilan jiwamu.
Bicaralah padaku, Cintaku, dan biarkan nafasmu menghirup angin gunung yang datang padaku dari lembah-lembah Lebanon. Bicaralah. Tak ada yang akan mendengar selain diriku. Malam telah melarutkan semua manusia ditempat tidurnya.
Syurga telah menyulam cahaya rembulan dan menghamparkannya ke seluruh daratan Lebanon, Cintaku.
Syurga telah meriasnya dengan bayangan malam, jubah tebal membentang dihembus asap dari cerobong kain, dihembus nafas kemari, dan mengelarnya di telapak kota, Cintaku.
Para penduduk telah pulas menganyam mimpi di ubun-ubunnya di tengah pohon-pohon kenari. Jiwa mereka mempercepatkan langkah mengejar negeri mimpi, Cintaku.
Lelaki-lelaki longlai menggendong emas, dan tebing curam yang akan dilalui melemaskan lutut mereka. Mata mereka mengantuk kerana dililit kesulitan dan ketakutan. Mereka melemparkan tubuh ke tempat tidur sebagai tempat berlindung dari hantu-hantu yang menakutkan dan mengerikan, Cintaku.
Hantu-hantu dari masa lalu berkeliaran di lembah-lembah. Jiwa para raja melintasi bukit-bukit. Fikiranku yang berhias kenangan menyingkap kekuatan bangsa Chaldea, kemegahan Arab.
Di lorong-lorong gelap, jiwa-jiwa pencuri yang tegap berjalan, muncung-muncung nafsu ular berbisa muncul dari celah-celah benteng, dan rasa sakit berdengung kematian, muntah-muntah sepanjang jalan. Kenangan menyingkap tabir kelupaan dari mataku dan nampaklah Sodom yang menjijikkan, serta dosa-dosa Gomorah.
Ranting-ranting berayun-ayun, Cintaku, dan desirnya bertemu dengan alunan anak sungai di lembah. Syair-syair Sulaiman, nada kecapi Daud dan lagu Ishak Al-Mausaili terngiang-ngiang di telinga kami.
Jiwa anak-anak yang lapar di penginapan menggelupur, ibunya mengeluh di atas kamar kesedihan, dan kekecewaan telah jatuh dari langit. Mimpi-mimpi kebimbangan melanda hati yang lemah. Aku mendengar rintihan pahitnya.
Semerbak bunga melambai seiring nafas pohon-pohon cedar. Terbawa angin sepoi-sepoi menuju perbukitan, harum itu mengisi jiwa dengan kasih sayang dan meniupkan kerinduan untuk terbang.
Tetapi racun dari rawa-rawa jug berkelana mengepul bersama penyakit. Seperti panah rahsia yang tajam, racun itu telah menembusi perasaan dan meracuni udara.
Tanpa kusedari matahari telah mengilaukan cahaya pagi, Cintaku, dan jari-jari timur yang lentik menimang mata-mata orang yang terlelap. Cahaya itu memaksa mereka untuk membuka daun jendela dan menyelak hati dan kemenangan. Desa-desa, yang sedang tertidur dalam damai dan tenang di pundak-pundak lembah, bangun, loceng-loceng berdenting memenuhi angkasa sebagai panggilan untuk mula berdoa. Dan dari gua-gua, gema-gema juga berdengung, seolah-olah seluruh alam sedang berdoa bersama-sama dengan khusyuknya. Anak-anak sapi telah keluar dari kandangnya, biri-biri dan kambing meninggalkan bangsalnya untuk menuai rumput yang berembun dan berkilatan cahaya. Penggembalanya mengikuti dari belakang sambil mengamatinya di balik lelalang. Di belakangnya lagi gadis-gadis bernyanyi seperti burung menyambut pagi.
Kini tangan siang hari yang perkasa terbaring di atas kota. Tirai telah diselak dari jendela dan pintu pun terbuka. Mata yang penat dan wajah lesu para penjahit telah siap di tempat kerjanya. Mereka merasakan kematian telah melanggar batas kehidupan mereka, dan riak muka yang layu mempamerkan ketakutan dan kekecewaan. Di jalanan padat dengan jiwa-jiwa yang tamak dan tergesa-gesa, dan di mana-mana terdengar desingan besi, pusingan roda dan siulan angin. Kota telah menjadi arena pertempuran di mana yang kuat menindas yang lemah dan si kaya mengeksploitasi dan menguasai si miskin.
Betapa indah hidup ini, Cintaku, seperti hati penyair yang penuh dengan cahaya dan kelembutan hati.
Dan betapa kerasnya hidup ini, Cintaku, seperti dada penjahat, yang berdebar-debar kerana selalu merasa bimbang dan takut.
~ Khalil Gibran
BANGUNLAH, Cintaku. Bangun! Kerana jiwaku mengalu-alumu dari dasar laut, dan menawarkan padamu sayap-sayap di atas gelombang yang mengamuk
Bangunlah, kerana sunyi telah menghentikan derap kaki kuda dan langkah para pejalan kaki.
Rasa kantuk telah memeluk roh setiap laki-laki, sementara aku terbangun sendiri, rasa rindu membukakan kertas surat tidurku.
Cinta membawaku dekat denganmu, namun kebimbangan melemparkan diriku menjauh darimu.
Aku telah membuang bukuku, kerana keluhku mengunci kata-kata dan desah nafasku meninggalkan tempat tidurku, Cintaku, kerana takut pada hantu lupa yang berada di balik selimut.
Aku telah membuang bukuku, kerana keluhku mengunci kata-kata dan desah nafasku meninggalkan halaman buku yang kosong di depan mataku!
Bangun, bangunlah, Cintaku dan dengar diriku!
Aku mendengarkanmu, Cintaku! Aku mendengar panggilanmu dari lautan lepas dan merasakan lembutnya sentuhan sayapmu. Aku telah jauh dari ranjangku, beranjak ke tanah lapang, hingga embun membasahi kaki dan bajuku. Di sinilah aku berdiri, dibawah bunga-bunga pohon badam, memenuhi panggilan jiwamu.
Bicaralah padaku, Cintaku, dan biarkan nafasmu menghirup angin gunung yang datang padaku dari lembah-lembah Lebanon. Bicaralah. Tak ada yang akan mendengar selain diriku. Malam telah melarutkan semua manusia ditempat tidurnya.
Syurga telah menyulam cahaya rembulan dan menghamparkannya ke seluruh daratan Lebanon, Cintaku.
Syurga telah meriasnya dengan bayangan malam, jubah tebal membentang dihembus asap dari cerobong kain, dihembus nafas kemari, dan mengelarnya di telapak kota, Cintaku.
Para penduduk telah pulas menganyam mimpi di ubun-ubunnya di tengah pohon-pohon kenari. Jiwa mereka mempercepatkan langkah mengejar negeri mimpi, Cintaku.
Lelaki-lelaki longlai menggendong emas, dan tebing curam yang akan dilalui melemaskan lutut mereka. Mata mereka mengantuk kerana dililit kesulitan dan ketakutan. Mereka melemparkan tubuh ke tempat tidur sebagai tempat berlindung dari hantu-hantu yang menakutkan dan mengerikan, Cintaku.
Hantu-hantu dari masa lalu berkeliaran di lembah-lembah. Jiwa para raja melintasi bukit-bukit. Fikiranku yang berhias kenangan menyingkap kekuatan bangsa Chaldea, kemegahan Arab.
Di lorong-lorong gelap, jiwa-jiwa pencuri yang tegap berjalan, muncung-muncung nafsu ular berbisa muncul dari celah-celah benteng, dan rasa sakit berdengung kematian, muntah-muntah sepanjang jalan. Kenangan menyingkap tabir kelupaan dari mataku dan nampaklah Sodom yang menjijikkan, serta dosa-dosa Gomorah.
Ranting-ranting berayun-ayun, Cintaku, dan desirnya bertemu dengan alunan anak sungai di lembah. Syair-syair Sulaiman, nada kecapi Daud dan lagu Ishak Al-Mausaili terngiang-ngiang di telinga kami.
Jiwa anak-anak yang lapar di penginapan menggelupur, ibunya mengeluh di atas kamar kesedihan, dan kekecewaan telah jatuh dari langit. Mimpi-mimpi kebimbangan melanda hati yang lemah. Aku mendengar rintihan pahitnya.
Semerbak bunga melambai seiring nafas pohon-pohon cedar. Terbawa angin sepoi-sepoi menuju perbukitan, harum itu mengisi jiwa dengan kasih sayang dan meniupkan kerinduan untuk terbang.
Tetapi racun dari rawa-rawa jug berkelana mengepul bersama penyakit. Seperti panah rahsia yang tajam, racun itu telah menembusi perasaan dan meracuni udara.
Tanpa kusedari matahari telah mengilaukan cahaya pagi, Cintaku, dan jari-jari timur yang lentik menimang mata-mata orang yang terlelap. Cahaya itu memaksa mereka untuk membuka daun jendela dan menyelak hati dan kemenangan. Desa-desa, yang sedang tertidur dalam damai dan tenang di pundak-pundak lembah, bangun, loceng-loceng berdenting memenuhi angkasa sebagai panggilan untuk mula berdoa. Dan dari gua-gua, gema-gema juga berdengung, seolah-olah seluruh alam sedang berdoa bersama-sama dengan khusyuknya. Anak-anak sapi telah keluar dari kandangnya, biri-biri dan kambing meninggalkan bangsalnya untuk menuai rumput yang berembun dan berkilatan cahaya. Penggembalanya mengikuti dari belakang sambil mengamatinya di balik lelalang. Di belakangnya lagi gadis-gadis bernyanyi seperti burung menyambut pagi.
Kini tangan siang hari yang perkasa terbaring di atas kota. Tirai telah diselak dari jendela dan pintu pun terbuka. Mata yang penat dan wajah lesu para penjahit telah siap di tempat kerjanya. Mereka merasakan kematian telah melanggar batas kehidupan mereka, dan riak muka yang layu mempamerkan ketakutan dan kekecewaan. Di jalanan padat dengan jiwa-jiwa yang tamak dan tergesa-gesa, dan di mana-mana terdengar desingan besi, pusingan roda dan siulan angin. Kota telah menjadi arena pertempuran di mana yang kuat menindas yang lemah dan si kaya mengeksploitasi dan menguasai si miskin.
Betapa indah hidup ini, Cintaku, seperti hati penyair yang penuh dengan cahaya dan kelembutan hati.
Dan betapa kerasnya hidup ini, Cintaku, seperti dada penjahat, yang berdebar-debar kerana selalu merasa bimbang dan takut.
~ Khalil Gibran
Jalan Cinta ~ Khalil Gibran
0 comments 5:15 PM Posted by __Internet For All__Labels: Kahlil Gibran, Kata Mutiara, Novel - Novel
Untuk anak-anakku,
Yang sedang bertanya-tanya
Tentang masa depan yang tersembunyi dan terbayang begitu jauh
Berharap-harap tentang hidup yang sedang dan akan dihadapinya
Anak-anakku,
yang sedang mencari keyakinan jiwa
Terhadap jiwa lain yang menjadi pasangan jiwanya
Anak-anakku,
Yang sedang gelisah
Menjalani hidup yang penuh ketidakpastian
Dan godaan-godaan yang memberatkan
Anak-anakku,
Yang semakin dewasa
Dan penuh dengan beban tanggungjawab kehidupan
Aku berdoa untuk kalian
Ya Allah,
Karuniakanlah kebajikan dan keteguhan hati kepada mereka
Jiwa-jiwa yang sedang tumbuh dewasa
Bersihkanlah jiwa mereka
Masukkanlah mereka dalam lindunganMu dan pemeliharaanMu
Anakku,
Pada mulanya engkau dan dia bertemu dalam ketidaksengajaan
Karena sejak mulanya adalah engkau dan dia dipertemukan
Oleh Tangan Gaib yang mengatur kehidupan
Dan sejak engkau bertemu lelaki bermata kuat
Dengan tatapannya yang tajam
Ada yang tersentak dari dalam dadamu
Engkau sering menyendiri duduk dalam gelap
bersenandung nyanyian kasmaran
Dan tersenyum entah untuk siapa
Nampaknya engkau tengah mabuk kepayang
memahat langit dengan angan-angan
mengukir malam dengan bayang-bayang
Jangan hanya diam engkau simpan dalam duduk termenung
Malam yang engkau sapa lewat tanpa jawab
Bersikaplah jujur dan terbuka
Tumpahkanlah perasaan yang sarat dengan cinta yang panas bergelora
Barangkali takdir tengah bicara
Telah datang seorang lelaki diperuntukkan buatmu
Dan pandangan matanya memang khusus buatmu
Mengapa engkau harus sembunyi dari kenyataan
Cinta kasih sejati kadang datang tak terduga
Bergegaslah bangun dari mimpi
Atau engkau akan kehilangan keindahan yang tengah engkau genggam
Anggap saja takdir tengah bicara
Ia datang dari langit buatmu dan pandangan matanya khusus buatmu
Engkau akan segera menyadari
Keadaannya tidaklah jauh berbeda
Takdir tengah bicara kepadanya
Ada yang tersentak dari dalam dadanya
Sejak ia bertemu denganmu gadis bermata lembut
Dan tatapanmu yang sejuk
Ia mengasingkan diri dari keriuhan
Merenungi keajaiban ruhaniah yang menggetarkan jiwanya
Bermalam-malam lewat tanpa jawab
Berharap-harap ia bertemu lagi denganmu
Menyusun angan-angan duduk berdua di bawah pohon cemara
Dan bercerita tentang sepasang burung yang bercumbu di atas dahan
Ia menyematkan kembang di rambut telinga kananmu
Lalu waktu yang engkau dan dia bayangkan pun tiba
Engkau bertemu dengannya berdiri di dekat duduknya
Tetapi ia hanya duduk terdiam
Engkaupun hanya berdiri terpaku berharap-harap
Ia berdiri mendekat ke hadapanmu dan menyapamu
Angin dan daunan dan waktu bercanda menunggu
Tetapi engkau dan dia tidak beranjak menyambut suara alam
Yang mengabarkan harapanmu terhadapnya
Dan mengabarkan hasratnya terhadapmu
Keraguanlah yang menyelimuti langkahmu
Engkau ragu keliru memahami pandangan matanya
Ketakutanlah yang menyelubungi langkahnya
Ia takut menemui kenyataanmu yang berbeda
Waktu berlalu dan engkau dan dia berlalu
Sejak ia berlalu dari hadapanmu
Sepi menggelayut di dalam dadamu dan rindu bayang-bayangnya
Sejak engkau berlalu dari hadapannya
Di dadanya bergelayut sepi dan rindu bayang-bayangmu
Engkau dan dia memang tidak seperti kanak-kanak lagi
Kanak-kanak tidak pandai berdusta apalagi terhadap perasaan di dada
Kanak-kanak yang begitu jujur tentang apa yang disukainya atau
dibencinya
Dan disampaikannya dengan tanpa beban
Sedang engkau menyembunyikan darinya
Perasaanmu yang bergelora
Dan dia menyembunyikan darimu
Hasratnya yang membara
Kedua-duanya bersembunyi dibalik harga diri
Mengapa engkau dan dia tidak bersegera mengikuti panggilan jiwa
Yang disatukan Tangan Gaib dalam cinta
Anugerah yang mengejawantah dalam dirimu dan dirinya
Pabila cinta telah memanggilmu ikutilah jalannya
Meski dibalik sayapnya yang anggun
Tersimpan pedang tajam melukaimu
Yakinlah anugerah gaibNya akan membimbing engkau dan dia
Dalam perjalanan yang menggembirakan betapa pun jauhnya
Apabila anugerah cinta telah melingkupi jiwamu dan jiwanya
Maka atas kehendakNya engkau dan dia akan dipertemukan
Betapapun engkau tidak menginginkan
Atau dia tidak menghendaki
Apabila hanya hasrat dan gelora nafsu yang melingkupi jiwamu dan
jiwanya
Maka atas kehendakNya engkau dan dia akan dipisahkan
Betapapun engkau ingin menemukannya
Atau dia ingin menemukanmu
Sesungguhnya atas kehendakNyalah engkau dan dia dipertemukan atau
dipisahkan
Nampaknya kegelisahanmu dan hasratnya
Hendak dipertemukan olehNya dalam cinta
Sehingga waktu membuatmu sering berhadapan dengannya
Dan ruang sering menempatkannya di dekatmu
Lalu engkau dan dia menjadi lebih mudah berbicara
Dan mendekatkan jiwamu dengan jiwanya
Sampai tiba waktu yang engkau dan dia tunggu
Benih yang dianugerahkan untukmu dan untuknya
Telah mulai bersemi dan tumbuh sebagai pohon cinta dengan cepatnya
Kalian menjadi sepasang kekasih yang saling mengikat janji setia
Sepasang kekasih saling menumpahkan perasaan
Mengikat waktu dengan memadu rindu
Saling bercerita tentang kegembiraan
Saling bercerita tentang kesedihan
Saling membagi tentang harapan dan beban
Memupuk pohon cinta dengan terbuka
Kepercayaan dan keikhlasan tentang hidup yang nampak atau tersembunyi
Memberikan dengan segala kerelaan kesempatan dan dukungan
Meminta dengan lembut pembelaan dan perlindungan
Memberikan pengertian dengan sepenuh hati dan pikiran
Sepasang kekasih saling menjaga dan memelihara
Karena ada kalanya di tengah waktu
Datang masa-masa yang mengganggu dan membingungkan
Menjadi masalah dan kemarahan
Lalu seperti kanak-kanak kalian saling membenci
Tentang keadaannya yang tidak engkau inginkan
Tentang keadaanmu yang tidak dia inginkan
Lalu seperti kanak-kanak kalian saling berdiam
Tentang ketidakmengertiannya terhadap keinginanmu
Tentang ketidakmengertianmu terhadap keinginannya
Anugerah cinta, harapan dan kedewasaan yang membimbing kalian
Membawamu kembali mendekat kepadanya
Membawanya kembali mendekat kepadamu
Lalu kalian saling bercerita
Tentang pemeliharaan dan penjagaan sepasang kekasih
Lalu kalian saling mengingatkan tentang pohon cinta yang kalian
ikrarkan
Di sepanjang perjalanan selalu datang kabut
Mengaburkan pandangan dan menghalangi tujuan hidup
Kekuatanmu dan kekuatannya dan anugerah cinta yang dapat
membersihkannya
Maka hanya kepadaNya berlindung dan berserah diri
Sepasang kekasih memohon penjagaan dan pemeliharaan
Sepasang kekasih memohon limpahan kasih sayang
Pohon cinta tumbuh subur dan semakin dewasa
Akarnya semakin kuat dan pokoknya semakin kokoh
Daunnya semakin rimbun meneduhi
Pohon dewasa yang siap berbunga dan berbuah
Dalam jiwamu mulai tumbuh perasaan-perasaan baru
Tentang tujuan dan harapan pohon cinta
Akankah ini berbunga dan berbuah dengan lebatnya
Engkau menjadi putik benih bagi hidup baru
Dan dia menjadi sari menghidupkan benih
Dalam jiwanya mulai tumbuh gagasan-gagasan baru
Tentang kedewasaan pohon cinta dan tujuan dan harapannya
Akankah ini berbunga dan berbuah dengan lebatnya
Akankah dia menikmatinya bermusim-musim
Malam-malam berlalu tanpa jawab
Kegelisahanmu dan kegundahannya dipertemukan dalam diam
Engkau tidak tahu bagaimana memulai kata ungkapan tentang perasaanmu
yang baru
Dia tidak tahu bagaimana menceritakan gagasannya yang baru
Kedewasaanmu dan kedewasaannya mendapat ujian
Menghadapi kenyataan dengan terbuka dan jujur
Bermalam-malam berlalu dengan doa
Engkau dan dia berdoa
Ya Allah,
Bersihkanlah diriku, jernihkanlah pikiranku, beningkanlah hatiku
Tunjukkanlah kepadaku keyakinan yang benar
Pilihkanlah bagiku asal yang baik dan akhir yang baik
Sampai tiba waktunya
Engkau dan dia dikuatkan
Saling membuka dan bercerita tentang hal yang sama
Dan kalian saling tertawa tentang kekakuan beberapa masa sebelumnya
Kalian saling memantapkan harapan dan tujuan
Kalian saling mengingatkan tanggungjawab dan kenyataan hidup
Kalian saling setuju hidup bersekutu
Maka atas KehendakNYa kalian dipersatukan
Atas NamaNya kalian menjadi Suami Istri dengan kasih sayang
Berjanji saling menjaga dan mengingatkan tentang kebaikan
Saling melindungi dan mendukung dalam kehidupan
Dan hidup menjadi lebih nyata dan membahagiakan
Begitulah kalian menjalani hidup bersekutu
Bulan-bulan berlimpah kegembiraan dan kesenangan
Memadu kasih dengan bahagia tanpa kesedihan dan kegelisahan
Seolah-olah hanya kalian berdua yang ada di dunia
Lalu waktu berjalan semakin panjang
Dan hidup menjadi semakin nyata
Keriuhan dan gejolak hidup menampakkan wujudnya
Engkau mengandung anakmu yang pertama
Lalu seperti mendapat jiwa lain bersemayam dalam tubuhmu
Engkau dan dia merasakan ikatan yang batin
Suamimu bergembira dan menjadi semakin dewasa
Sembilan bulan engkau menjaga anak dalam kandunganmu
Dengan susah payah yang bertumpuk
Ada kalanya engkau menyimpan marah dan kesal
Ada kalanya engkau begitu gembira dan bahagia
Penuh syukur dan doa kepadaNya
Ketika tiba saatnya
Beban kandungan semakin memuncak
Punggungmu semakin berat dan payah
Pinggangmu semakin pegal dan sulit bernapas
Anakmu mengabarkan waktunya semakin dekat
Dan engkau melahirkannya dengan kesulitan dan berat
Antara rasa hidup dan mati yang menyakitkan
Suamimu menjagamu dan menguatkanmu
Ketika suara tangis bayi terdengar
Manusia baru telah lahir di tengah-tengah keluargamu
Dan engkau merasakan kebahagiaan yang tinggi
Memeluk bayi basah begitu merah
Jiwamu penuh dengannya dan jiwanya mengenalimu sebagai ibunya
Udara seperti penuh malaikat-malaikat suci
Menyambut dengan doa kehadiran anakmu
Membisikkan kepadamu harapan-harapan dan janji dari Tuhan
Hidupmu menjadi begitu berharga dan mulia
Dan mendapat tempat istimewa di surgaNya
Engkau menjadi ibu
Suamimu menjadi bapak
Engkaupun mengasuh dan memeliharanya
Dengan kasih sayang yang berlimpah
Jiwamu terikat dengan jiwanya
Air susu yang engkau minumkan kepadanya
Menjadi air jiwa bagi anakmu
Dan kebahagiaannya meminum air susumu
Menjadi tali yang tidak pernah putus bagimu
Kemanapun engkau bepergian
Yang ada dalam hati dan pikiranmu hanyalah wajah mungilnya
Maka bila tiba waktu pulang
Engkau bergegas dan cepat-cepat hendak sampai rumah
Di halaman engkau dengar tangisnya
Ia mencium aroma tubuhmu lewat angin
Hatimu tersayat-sayat penuh dengan rasa rindu bergumpal-gumpal di
dadamu
Air susumu menetes karenanya
Tidak sabar engkau angkat dan engkau cium wajahnya
Disambutnya engkau dengan senyum dari mulut mungil
Dan mata lucu yang merasa aman pelindungnya telah datang
Diusap-usapnya dengan kedua tangan mungil kulit wajahmu yang lekat di
wajahnya
Seolah-olah dapat dipastikan olehnya halus kulit wajahmu
Matanya semakin berbinar
Mendapati air susumu yang segar dan menyehatkan
Dan hatimu semakin bersinar
Kebahagiaan yang bertumpuk di atas kebahagiaan
Engkau lupakan semua lelah dan payah yang engkau jalani
Menungguinya bermalam-malam tanpa tidur
Ketika merengek ia basah oleh ompol atau kotoran
Ketika menangis ia tengah malam haus atau lapar
Waktu terus berjalan
Engkau melihat anakmu tumbuh berkembang
Belajar berguling dan menengkurapkan tubuhnya
Belajar merangkak dan berjalan
Dan mengucapkan kata-katanya yang pertama
Engkau mengajarinya memanggilmu ibu
Dan memanggil suamimu bapak
Engkau mengajarinya tentang alam
Api itu panas es itu dingin
Obat itu menyembuhkan racun itu mematikan
Engkau mengajarinya makan dan memakai baju
Menyisirkan rambutnya
Sambil bersenandung lagu kesukaannya
Dan menggumam betapa eloknya anakmu
Kesukaanmu kepadanya bertambah-tambah
Ikatanmu terhadapnya semakin kuatnya
Sedikit saja ia luka terjatuh atau tersayat pisau
Engkau begitu khawatirnya
Seolah-olah darah yang tumpah itu adalah darahmu sendiri
Dan kulitmulah yang tersayat atau luka
Begitu sayangnya engkau kepadanya
Sehingga yang engkau ucapkan adalah rasa marah
Yang lalu rasa sedihmu sebab telah memarahinya
Membuatmu menggendongnya dan mengusap lembut lukanya
Dengan obat yang paling lunak tetapi menyembuhkan
Dan menghadapi hidup dengan jalannya sendiri
Engkau semakin kesulitan menghadapinya
Seolah-olah ia tidak dapat mengerti keinginanmu
Dan engkau tidak lagi mengerti keinginannya
Ia hidup dengan teman-temannya sendiri
Berbicara sedikit denganmu dan dengan suamimu
Ia seolah-olah semakin jauh
Engkau bimbang dan gagap menghadapi dunianya yang berubah
Rasa cintamu kepadanya begitu ingin
Mengikatnya dalam rengkuhanmu
Mengamankannya dalam dekapanmu
Menggendong dan mengelus wajahnya seperti ketika ia kecil
Sedang gagasanmu tentang tantangan hidupnya begitu ingin
Membebaskannya melakukan pencarian
Mendukungnya tumbuh dan belajar menghadapi masa depannya
Melepaskannya untuk hidup dalam masanya
Sampai tiba waktunya ia benar-benar menjadi dewasa
Dan memahami duniamu dengan lebih leluasa
Dan engkau memahami dunianya dengan lebih lega
Percaya dan ikhlas tentangnya
Yakin karena engkau telah membimbingnya dengan benar
Maka engkau berdoa untuk anakmu setiap malam dalam sujud
Ya, Allah,
Tunjukkanlah kepada anakku jalan yang benar
Dekatkanlah ia kepada jalanMu
Bimbinglah ia, jagalah ia, lindungilah ia
Berikanlah kepadanya keteguhan dan keyakinan yang kuat
Tabahkanlah ia menghadapi hidup
Dan sabarkanlah kami dan bimbinglah kami orang tuanya
Ya Allah,
Kami berserah diri kepadaMu
Tiba waktu bagi anakmu menemukan kekasihnya
Seperti engkau ketika muda
Engkau begitu ingin melihat kekasihnya
Dililit rasa cemburu karena perhatiannya kepadamu
Tidak lagi seperti dahulu
Ia lebih banyak bersama kekasihnya daripada bersamamu
Dan ketika bersamamu
Ia lebih banyak bercerita tentang kekasihnya daripada tentangmu
Engkau merasa akan tiba waktunya
Dan ketika anakmu menikahi kekasihnya
Waktu pun tiba
Engkau berpisah dengannya
Anakmu menjalani hidup sendiri
Mendiami rumahnya sendiri
Bersama dengan istrinya seperti engkau dahulu
Dan hidupmu seolah-olah kesepian
Waktu terus berputar
Dan kalian berdua menjadi begitu tua
Rambut memutih dan tubuh melemah
Kenangan berjalan satu-satu di depan mata
Engkau menjadi memiliki kesadaran dan memahami
Hidup ini bisa begitu mudah atau rumit
Tergantung bagaimana engkau melihat dan menjalaninya
Sekarang engkau telah tua sehingga engkau melihat
Apa yang dahulunya engkau anggap
Sebagai kerumitan dan kesulitan yang besar
Ternyata hanyalah hal yang sederhana dan mudah saja
Ternyata engkau lahir bukan untuk bersiap-siap menghadapi hidup
Engkau lahir adalah untuk hidup dan menjalani hidup
Engkau lalu menjadi begitu pasrah dan ikhlas
Menerima waktu yang semakin habis
Tubuhmu menjadi sakit dan terbaring di dipan
Anak-anakmu yang dekat maupun yang jauh berdatangan
Berdoa dan memohonkan ampun di samping dipan
Mengantarkanmu memenuhi waktu terakhir
Sampai akhirnya engkau pergi meninggalkan dunia dengan tenang
Anak-anakmu bahagia
Melihatmu tersenyum dengan tenang di saat terakhir
Menandakan keberhasilanmu menjalani hidup
Mereka mendoakan
Hidupmu lebih bahagia dan tenang
Di alam yang lebih kekal
Mereka bangga terhadapmu.
~ Khalil Gibran (1833-1931)
[Naskah ini bersumber dari berbagai pustaka.Sumber Pustaka: QS Ali Imron, Musashi - Eiji Yoshikawa, Sang Nabi - Kahlil Gibran, Nyanyian Kasmaran - Ebiet G Ade]
Untuk anak-anakku,
Yang sedang bertanya-tanya
Tentang masa depan yang tersembunyi dan terbayang begitu jauh
Berharap-harap tentang hidup yang sedang dan akan dihadapinya
Anak-anakku,
yang sedang mencari keyakinan jiwa
Terhadap jiwa lain yang menjadi pasangan jiwanya
Anak-anakku,
Yang sedang gelisah
Menjalani hidup yang penuh ketidakpastian
Dan godaan-godaan yang memberatkan
Anak-anakku,
Yang semakin dewasa
Dan penuh dengan beban tanggungjawab kehidupan
Aku berdoa untuk kalian
Ya Allah,
Karuniakanlah kebajikan dan keteguhan hati kepada mereka
Jiwa-jiwa yang sedang tumbuh dewasa
Bersihkanlah jiwa mereka
Masukkanlah mereka dalam lindunganMu dan pemeliharaanMu
Anakku,
Pada mulanya engkau dan dia bertemu dalam ketidaksengajaan
Karena sejak mulanya adalah engkau dan dia dipertemukan
Oleh Tangan Gaib yang mengatur kehidupan
Dan sejak engkau bertemu lelaki bermata kuat
Dengan tatapannya yang tajam
Ada yang tersentak dari dalam dadamu
Engkau sering menyendiri duduk dalam gelap
bersenandung nyanyian kasmaran
Dan tersenyum entah untuk siapa
Nampaknya engkau tengah mabuk kepayang
memahat langit dengan angan-angan
mengukir malam dengan bayang-bayang
Jangan hanya diam engkau simpan dalam duduk termenung
Malam yang engkau sapa lewat tanpa jawab
Bersikaplah jujur dan terbuka
Tumpahkanlah perasaan yang sarat dengan cinta yang panas bergelora
Barangkali takdir tengah bicara
Telah datang seorang lelaki diperuntukkan buatmu
Dan pandangan matanya memang khusus buatmu
Mengapa engkau harus sembunyi dari kenyataan
Cinta kasih sejati kadang datang tak terduga
Bergegaslah bangun dari mimpi
Atau engkau akan kehilangan keindahan yang tengah engkau genggam
Anggap saja takdir tengah bicara
Ia datang dari langit buatmu dan pandangan matanya khusus buatmu
Engkau akan segera menyadari
Keadaannya tidaklah jauh berbeda
Takdir tengah bicara kepadanya
Ada yang tersentak dari dalam dadanya
Sejak ia bertemu denganmu gadis bermata lembut
Dan tatapanmu yang sejuk
Ia mengasingkan diri dari keriuhan
Merenungi keajaiban ruhaniah yang menggetarkan jiwanya
Bermalam-malam lewat tanpa jawab
Berharap-harap ia bertemu lagi denganmu
Menyusun angan-angan duduk berdua di bawah pohon cemara
Dan bercerita tentang sepasang burung yang bercumbu di atas dahan
Ia menyematkan kembang di rambut telinga kananmu
Lalu waktu yang engkau dan dia bayangkan pun tiba
Engkau bertemu dengannya berdiri di dekat duduknya
Tetapi ia hanya duduk terdiam
Engkaupun hanya berdiri terpaku berharap-harap
Ia berdiri mendekat ke hadapanmu dan menyapamu
Angin dan daunan dan waktu bercanda menunggu
Tetapi engkau dan dia tidak beranjak menyambut suara alam
Yang mengabarkan harapanmu terhadapnya
Dan mengabarkan hasratnya terhadapmu
Keraguanlah yang menyelimuti langkahmu
Engkau ragu keliru memahami pandangan matanya
Ketakutanlah yang menyelubungi langkahnya
Ia takut menemui kenyataanmu yang berbeda
Waktu berlalu dan engkau dan dia berlalu
Sejak ia berlalu dari hadapanmu
Sepi menggelayut di dalam dadamu dan rindu bayang-bayangnya
Sejak engkau berlalu dari hadapannya
Di dadanya bergelayut sepi dan rindu bayang-bayangmu
Engkau dan dia memang tidak seperti kanak-kanak lagi
Kanak-kanak tidak pandai berdusta apalagi terhadap perasaan di dada
Kanak-kanak yang begitu jujur tentang apa yang disukainya atau
dibencinya
Dan disampaikannya dengan tanpa beban
Sedang engkau menyembunyikan darinya
Perasaanmu yang bergelora
Dan dia menyembunyikan darimu
Hasratnya yang membara
Kedua-duanya bersembunyi dibalik harga diri
Mengapa engkau dan dia tidak bersegera mengikuti panggilan jiwa
Yang disatukan Tangan Gaib dalam cinta
Anugerah yang mengejawantah dalam dirimu dan dirinya
Pabila cinta telah memanggilmu ikutilah jalannya
Meski dibalik sayapnya yang anggun
Tersimpan pedang tajam melukaimu
Yakinlah anugerah gaibNya akan membimbing engkau dan dia
Dalam perjalanan yang menggembirakan betapa pun jauhnya
Apabila anugerah cinta telah melingkupi jiwamu dan jiwanya
Maka atas kehendakNya engkau dan dia akan dipertemukan
Betapapun engkau tidak menginginkan
Atau dia tidak menghendaki
Apabila hanya hasrat dan gelora nafsu yang melingkupi jiwamu dan
jiwanya
Maka atas kehendakNya engkau dan dia akan dipisahkan
Betapapun engkau ingin menemukannya
Atau dia ingin menemukanmu
Sesungguhnya atas kehendakNyalah engkau dan dia dipertemukan atau
dipisahkan
Nampaknya kegelisahanmu dan hasratnya
Hendak dipertemukan olehNya dalam cinta
Sehingga waktu membuatmu sering berhadapan dengannya
Dan ruang sering menempatkannya di dekatmu
Lalu engkau dan dia menjadi lebih mudah berbicara
Dan mendekatkan jiwamu dengan jiwanya
Sampai tiba waktu yang engkau dan dia tunggu
Benih yang dianugerahkan untukmu dan untuknya
Telah mulai bersemi dan tumbuh sebagai pohon cinta dengan cepatnya
Kalian menjadi sepasang kekasih yang saling mengikat janji setia
Sepasang kekasih saling menumpahkan perasaan
Mengikat waktu dengan memadu rindu
Saling bercerita tentang kegembiraan
Saling bercerita tentang kesedihan
Saling membagi tentang harapan dan beban
Memupuk pohon cinta dengan terbuka
Kepercayaan dan keikhlasan tentang hidup yang nampak atau tersembunyi
Memberikan dengan segala kerelaan kesempatan dan dukungan
Meminta dengan lembut pembelaan dan perlindungan
Memberikan pengertian dengan sepenuh hati dan pikiran
Sepasang kekasih saling menjaga dan memelihara
Karena ada kalanya di tengah waktu
Datang masa-masa yang mengganggu dan membingungkan
Menjadi masalah dan kemarahan
Lalu seperti kanak-kanak kalian saling membenci
Tentang keadaannya yang tidak engkau inginkan
Tentang keadaanmu yang tidak dia inginkan
Lalu seperti kanak-kanak kalian saling berdiam
Tentang ketidakmengertiannya terhadap keinginanmu
Tentang ketidakmengertianmu terhadap keinginannya
Anugerah cinta, harapan dan kedewasaan yang membimbing kalian
Membawamu kembali mendekat kepadanya
Membawanya kembali mendekat kepadamu
Lalu kalian saling bercerita
Tentang pemeliharaan dan penjagaan sepasang kekasih
Lalu kalian saling mengingatkan tentang pohon cinta yang kalian
ikrarkan
Di sepanjang perjalanan selalu datang kabut
Mengaburkan pandangan dan menghalangi tujuan hidup
Kekuatanmu dan kekuatannya dan anugerah cinta yang dapat
membersihkannya
Maka hanya kepadaNya berlindung dan berserah diri
Sepasang kekasih memohon penjagaan dan pemeliharaan
Sepasang kekasih memohon limpahan kasih sayang
Pohon cinta tumbuh subur dan semakin dewasa
Akarnya semakin kuat dan pokoknya semakin kokoh
Daunnya semakin rimbun meneduhi
Pohon dewasa yang siap berbunga dan berbuah
Dalam jiwamu mulai tumbuh perasaan-perasaan baru
Tentang tujuan dan harapan pohon cinta
Akankah ini berbunga dan berbuah dengan lebatnya
Engkau menjadi putik benih bagi hidup baru
Dan dia menjadi sari menghidupkan benih
Dalam jiwanya mulai tumbuh gagasan-gagasan baru
Tentang kedewasaan pohon cinta dan tujuan dan harapannya
Akankah ini berbunga dan berbuah dengan lebatnya
Akankah dia menikmatinya bermusim-musim
Malam-malam berlalu tanpa jawab
Kegelisahanmu dan kegundahannya dipertemukan dalam diam
Engkau tidak tahu bagaimana memulai kata ungkapan tentang perasaanmu
yang baru
Dia tidak tahu bagaimana menceritakan gagasannya yang baru
Kedewasaanmu dan kedewasaannya mendapat ujian
Menghadapi kenyataan dengan terbuka dan jujur
Bermalam-malam berlalu dengan doa
Engkau dan dia berdoa
Ya Allah,
Bersihkanlah diriku, jernihkanlah pikiranku, beningkanlah hatiku
Tunjukkanlah kepadaku keyakinan yang benar
Pilihkanlah bagiku asal yang baik dan akhir yang baik
Sampai tiba waktunya
Engkau dan dia dikuatkan
Saling membuka dan bercerita tentang hal yang sama
Dan kalian saling tertawa tentang kekakuan beberapa masa sebelumnya
Kalian saling memantapkan harapan dan tujuan
Kalian saling mengingatkan tanggungjawab dan kenyataan hidup
Kalian saling setuju hidup bersekutu
Maka atas KehendakNYa kalian dipersatukan
Atas NamaNya kalian menjadi Suami Istri dengan kasih sayang
Berjanji saling menjaga dan mengingatkan tentang kebaikan
Saling melindungi dan mendukung dalam kehidupan
Dan hidup menjadi lebih nyata dan membahagiakan
Begitulah kalian menjalani hidup bersekutu
Bulan-bulan berlimpah kegembiraan dan kesenangan
Memadu kasih dengan bahagia tanpa kesedihan dan kegelisahan
Seolah-olah hanya kalian berdua yang ada di dunia
Lalu waktu berjalan semakin panjang
Dan hidup menjadi semakin nyata
Keriuhan dan gejolak hidup menampakkan wujudnya
Engkau mengandung anakmu yang pertama
Lalu seperti mendapat jiwa lain bersemayam dalam tubuhmu
Engkau dan dia merasakan ikatan yang batin
Suamimu bergembira dan menjadi semakin dewasa
Sembilan bulan engkau menjaga anak dalam kandunganmu
Dengan susah payah yang bertumpuk
Ada kalanya engkau menyimpan marah dan kesal
Ada kalanya engkau begitu gembira dan bahagia
Penuh syukur dan doa kepadaNya
Ketika tiba saatnya
Beban kandungan semakin memuncak
Punggungmu semakin berat dan payah
Pinggangmu semakin pegal dan sulit bernapas
Anakmu mengabarkan waktunya semakin dekat
Dan engkau melahirkannya dengan kesulitan dan berat
Antara rasa hidup dan mati yang menyakitkan
Suamimu menjagamu dan menguatkanmu
Ketika suara tangis bayi terdengar
Manusia baru telah lahir di tengah-tengah keluargamu
Dan engkau merasakan kebahagiaan yang tinggi
Memeluk bayi basah begitu merah
Jiwamu penuh dengannya dan jiwanya mengenalimu sebagai ibunya
Udara seperti penuh malaikat-malaikat suci
Menyambut dengan doa kehadiran anakmu
Membisikkan kepadamu harapan-harapan dan janji dari Tuhan
Hidupmu menjadi begitu berharga dan mulia
Dan mendapat tempat istimewa di surgaNya
Engkau menjadi ibu
Suamimu menjadi bapak
Engkaupun mengasuh dan memeliharanya
Dengan kasih sayang yang berlimpah
Jiwamu terikat dengan jiwanya
Air susu yang engkau minumkan kepadanya
Menjadi air jiwa bagi anakmu
Dan kebahagiaannya meminum air susumu
Menjadi tali yang tidak pernah putus bagimu
Kemanapun engkau bepergian
Yang ada dalam hati dan pikiranmu hanyalah wajah mungilnya
Maka bila tiba waktu pulang
Engkau bergegas dan cepat-cepat hendak sampai rumah
Di halaman engkau dengar tangisnya
Ia mencium aroma tubuhmu lewat angin
Hatimu tersayat-sayat penuh dengan rasa rindu bergumpal-gumpal di
dadamu
Air susumu menetes karenanya
Tidak sabar engkau angkat dan engkau cium wajahnya
Disambutnya engkau dengan senyum dari mulut mungil
Dan mata lucu yang merasa aman pelindungnya telah datang
Diusap-usapnya dengan kedua tangan mungil kulit wajahmu yang lekat di
wajahnya
Seolah-olah dapat dipastikan olehnya halus kulit wajahmu
Matanya semakin berbinar
Mendapati air susumu yang segar dan menyehatkan
Dan hatimu semakin bersinar
Kebahagiaan yang bertumpuk di atas kebahagiaan
Engkau lupakan semua lelah dan payah yang engkau jalani
Menungguinya bermalam-malam tanpa tidur
Ketika merengek ia basah oleh ompol atau kotoran
Ketika menangis ia tengah malam haus atau lapar
Waktu terus berjalan
Engkau melihat anakmu tumbuh berkembang
Belajar berguling dan menengkurapkan tubuhnya
Belajar merangkak dan berjalan
Dan mengucapkan kata-katanya yang pertama
Engkau mengajarinya memanggilmu ibu
Dan memanggil suamimu bapak
Engkau mengajarinya tentang alam
Api itu panas es itu dingin
Obat itu menyembuhkan racun itu mematikan
Engkau mengajarinya makan dan memakai baju
Menyisirkan rambutnya
Sambil bersenandung lagu kesukaannya
Dan menggumam betapa eloknya anakmu
Kesukaanmu kepadanya bertambah-tambah
Ikatanmu terhadapnya semakin kuatnya
Sedikit saja ia luka terjatuh atau tersayat pisau
Engkau begitu khawatirnya
Seolah-olah darah yang tumpah itu adalah darahmu sendiri
Dan kulitmulah yang tersayat atau luka
Begitu sayangnya engkau kepadanya
Sehingga yang engkau ucapkan adalah rasa marah
Yang lalu rasa sedihmu sebab telah memarahinya
Membuatmu menggendongnya dan mengusap lembut lukanya
Dengan obat yang paling lunak tetapi menyembuhkan
Dan menghadapi hidup dengan jalannya sendiri
Engkau semakin kesulitan menghadapinya
Seolah-olah ia tidak dapat mengerti keinginanmu
Dan engkau tidak lagi mengerti keinginannya
Ia hidup dengan teman-temannya sendiri
Berbicara sedikit denganmu dan dengan suamimu
Ia seolah-olah semakin jauh
Engkau bimbang dan gagap menghadapi dunianya yang berubah
Rasa cintamu kepadanya begitu ingin
Mengikatnya dalam rengkuhanmu
Mengamankannya dalam dekapanmu
Menggendong dan mengelus wajahnya seperti ketika ia kecil
Sedang gagasanmu tentang tantangan hidupnya begitu ingin
Membebaskannya melakukan pencarian
Mendukungnya tumbuh dan belajar menghadapi masa depannya
Melepaskannya untuk hidup dalam masanya
Sampai tiba waktunya ia benar-benar menjadi dewasa
Dan memahami duniamu dengan lebih leluasa
Dan engkau memahami dunianya dengan lebih lega
Percaya dan ikhlas tentangnya
Yakin karena engkau telah membimbingnya dengan benar
Maka engkau berdoa untuk anakmu setiap malam dalam sujud
Ya, Allah,
Tunjukkanlah kepada anakku jalan yang benar
Dekatkanlah ia kepada jalanMu
Bimbinglah ia, jagalah ia, lindungilah ia
Berikanlah kepadanya keteguhan dan keyakinan yang kuat
Tabahkanlah ia menghadapi hidup
Dan sabarkanlah kami dan bimbinglah kami orang tuanya
Ya Allah,
Kami berserah diri kepadaMu
Tiba waktu bagi anakmu menemukan kekasihnya
Seperti engkau ketika muda
Engkau begitu ingin melihat kekasihnya
Dililit rasa cemburu karena perhatiannya kepadamu
Tidak lagi seperti dahulu
Ia lebih banyak bersama kekasihnya daripada bersamamu
Dan ketika bersamamu
Ia lebih banyak bercerita tentang kekasihnya daripada tentangmu
Engkau merasa akan tiba waktunya
Dan ketika anakmu menikahi kekasihnya
Waktu pun tiba
Engkau berpisah dengannya
Anakmu menjalani hidup sendiri
Mendiami rumahnya sendiri
Bersama dengan istrinya seperti engkau dahulu
Dan hidupmu seolah-olah kesepian
Waktu terus berputar
Dan kalian berdua menjadi begitu tua
Rambut memutih dan tubuh melemah
Kenangan berjalan satu-satu di depan mata
Engkau menjadi memiliki kesadaran dan memahami
Hidup ini bisa begitu mudah atau rumit
Tergantung bagaimana engkau melihat dan menjalaninya
Sekarang engkau telah tua sehingga engkau melihat
Apa yang dahulunya engkau anggap
Sebagai kerumitan dan kesulitan yang besar
Ternyata hanyalah hal yang sederhana dan mudah saja
Ternyata engkau lahir bukan untuk bersiap-siap menghadapi hidup
Engkau lahir adalah untuk hidup dan menjalani hidup
Engkau lalu menjadi begitu pasrah dan ikhlas
Menerima waktu yang semakin habis
Tubuhmu menjadi sakit dan terbaring di dipan
Anak-anakmu yang dekat maupun yang jauh berdatangan
Berdoa dan memohonkan ampun di samping dipan
Mengantarkanmu memenuhi waktu terakhir
Sampai akhirnya engkau pergi meninggalkan dunia dengan tenang
Anak-anakmu bahagia
Melihatmu tersenyum dengan tenang di saat terakhir
Menandakan keberhasilanmu menjalani hidup
Mereka mendoakan
Hidupmu lebih bahagia dan tenang
Di alam yang lebih kekal
Mereka bangga terhadapmu.
~ Khalil Gibran (1833-1931)
[Naskah ini bersumber dari berbagai pustaka.Sumber Pustaka: QS Ali Imron, Musashi - Eiji Yoshikawa, Sang Nabi - Kahlil Gibran, Nyanyian Kasmaran - Ebiet G Ade]